Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 April 2025 | 01.26 WIB

Tiga Alasan Bitcoin Dinilai Bisa Gantikan Emas Sebagai Safe Haven Saat Resesi

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gelombang tarif baru awal April 2025, pasar langsung gonjang-ganjing. Ketidakpastian makroekonomi meningkat tajam dan membuat investor mencari perlindungan.

Di tengah gejolak tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah Bitcoin bisa menjadi "safe haven" baru di saat ekonomi Amerika terjerumus ke dalam resesi?

Menurut laporan dari Beincrypto, Senin (14/4), gejolak kebijakan ekonomi yang tidak terduga dari Amerika Serikat menunjukkan betapa rapuhnya sistem keuangan global saat ini.

Saham teknologi terpukul, indeks dolar AS (DXY) menurun, dan yield obligasi pemerintah AS melonjak secara bersamaan — sebuah kombinasi yang jarang terjadi dan mengindikasikan hilangnya kepercayaan terhadap instrumen keuangan tradisional.

Konsep "safe haven" atau aset aman terus berevolusi. Jika dulu emas, tanah, dan obligasi negara menjadi pilihan utama, kini investor mulai melirik Bitcoin. Alasannya jelas: Bitcoin memiliki suplai tetap (maksimal hanya 21 juta BTC), tidak bergantung pada kebijakan pemerintah, dan terdesentralisasi.

Bitcoin juga tidak memiliki emiten pusat, tidak tunduk pada kebijakan moneter, dan tidak terikat pada mata uang atau negara mana pun. Struktur ini membuat Bitcoin bersifat independen dari guncangan politik, suku bunga, atau laporan keuangan korporasi.

“Bitcoin diciptakan oleh Satoshi Nakamoto sebagai respons terhadap krisis keuangan 2008. Kini, saat Amerika menghadapi ancaman resesi, Bitcoin kembali relevan,” tulis laporan tersebut.

Tiga Alasan Bitcoin Bisa Jadi Aset Aman

Pertama, Bitcoin sering disebut memiliki karakter deflationary. Artinya, suplainya terbatas dan menurun seiring waktu. Setiap empat tahun, jumlah Bitcoin baru yang diterbitkan melalui proses mining berkurang separuhnya (halving). Jika permintaan stabil atau meningkat, harga pun berpotensi naik.

Kedua, Bitcoin mulai berfungsi sebagai store of value (penyimpan nilai), mirip seperti emas. Meskipun lebih volatil, Bitcoin telah mencatat kenaikan ekstrem sejak diluncurkan pada 2009, dari harga nyaris nol menjadi lebih dari USD 100.000 atau setara Rp 1,64 miliar pada 2025. Angka itu setara kenaikan lebih dari 8 miliar persen!

Ketiga, Bitcoin independen dari dunia finansial tradisional. Tidak seperti saham, obligasi, atau bank yang tunduk pada intervensi pemerintah dan bank sentral, Bitcoin berjalan berdasarkan protokol yang tidak bisa diubah sembarangan.

Meski memiliki potensi besar, Bitcoin masih punya kekurangan sebagai safe haven. Pertama, volatilitasnya tinggi. Investor kecil dengan pendapatan terbatas bisa merugi besar jika masuk di harga tinggi dan butuh mencairkan saat pasar turun. Biaya transaksi yang mahal juga menjadi hambatan.

Kedua, Bitcoin kadang justru bergerak seiring dengan saham teknologi. Dalam beberapa periode, seperti saat pengetatan moneter oleh The Fed, Bitcoin ikut turun bersama Nasdaq, bukan berperilaku sebagai aset pelindung.

Apakah Bitcoin akan menjadi emas digital yang sesungguhnya? Mungkin. Tapi sejauh ini, masih terlalu dini untuk menyamakan Bitcoin dengan aset aman seperti emas atau obligasi pemerintah. Seperti disebutkan dalam laporan Beincrypto, hanya waktu yang bisa membuktikannya.

Dengan dunia yang semakin tidak pasti dan pasar tradisional yang mulai kehilangan daya lindungnya, Bitcoin bisa menjadi alternatif baru — asalkan investor siap menghadapi risikonya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore