
Ilustrasi anak terkena campak. (dok. JawaPos.com)
JawaPos.com – Penyakit campak kini menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. Dalam setahun terakhir, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terjadi peningkatan kasus hingga penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di berbagai provinsi hingga awal 2026.
Jika merujuk data yang dimiliki Kemenkes, terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. 69 kasus diantanya berujung kematian.
Memasuki 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kasus kematian. Selain itu, dilaporkan juga terjadi 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Tentunya, kondisi ini memerlukan perhatikan dari semua pihak terutama keluarga di rumah. Sebab, data yang ada mengingatkan kalau campak merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius. Bahkan mengancam nyawa apabila tidak ditangani dengan baik.
Diungkapkan ujar dr. Venty, Sp.A, CIMI, dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, campak memiliki gejala yang khas. Pada tahap awal, gejala campak seringkali mirip dengan flu biasa sehingga banyak orang tua tidak langsung menyadarinya. Seperti batuk, pilek dan mata merah berair.
Tapi ada satu khas dari campak yakni bercak koplik, yaitu bercak putih kecil pada lapisan dalam mulut. Bercak koplik biasanya muncul 1-2 sebelum timbulnya ruam di kulit.
Ruam di kulit muncul pada saat demam tinggi dimulai dari bagian kepala (wajah dan belakang telinga) kemudian menyebar ke leher, badan, hingga tangan dan kaki. Ruam awalnya berwarna merah pucat dan akhirnya berubah menjadi merah gelap dan memudar.
Bahkan, komplikasi yang dapat terjadi pada penderita campak. Antara lain infeksi telinga, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, radang paru-paru atau pneumonia, hingga peradangan otak atau ensefalitis
“Campak sering dianggap sebagai penyakit biasa, padahal dalam beberapa kondisi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berisiko menyebabkan kematian, terutama pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh yang rendah,” ujar dr. Venty, Sp.A, CIMI, dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Diungkapkan dr. Venty, untuk penanganan campak sendiri pada umumnya bersifat suportif dan simptomatik, yaitu membantu tubuh melawan infeksi serta meredakan gejala yang muncul. enanganan suportif itu berupa cukup istirahat, memberi asupan nutrisi yang baik, kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi, serta pemberian vitamin A sesuai usia.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
