Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 April 2021 | 22.09 WIB

Mirip Cacar, Ruam Lenting Isi Air Bisa Jadi Gejala Herpes Zoster

Priyanka Chopra. (Hindustan Times) - Image

Priyanka Chopra. (Hindustan Times)

JawaPos.com - Seseorang bisa mengalami berbagai jenis penyakit kulit salah satunya Herpes Zoster. Uniknya, penyakit ini memang mirip cacar air.

Salah satu dampak penyakit ini yang sangat mengganggu yaitu rasa nyeri berkepanjangan yang dikenal sebagai Neuralgia Pasca Herpes (NPH). Namun demikian, jika diobati secara cepat dan tepat, harapan kesembuhan HZ akan meningkat.

HZ juga dikenal sebagai shingles, cacar ular, atau cacar api, yaitu suatu sindrom khas yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster (VZV). Virus ini merupakan virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Reaktivasi ini terjadi ketika kekebalan terhadap VZV menurun karena penuaan atau imunosupresi.

Baca Juga: Usia 50 Tahun ke Atas Waspada Herpes Zoster

"Saat virus HZ masuk kedalam tubuh manusia, virus tersebut berdiam di sistem saraf dan menetap di dalamnya, dan akhirnya aktif pada waktu yang tak terduga-duga," kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin serta CEO Klinik Pramudia dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV.

Menurutnya, HZ terutama terjadi pada kelompok usia 45-64 tahun. Namun, saat ini tren kasus HZ cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dan lebih sering terjadi pada perempuan.

Kira-kira 30 persen populasi pernah mengalami HZ semasa hidupnya. Sedangkan insiden kasus NPH sekitar 10-40 persen dari kasus HZ. Semakin tinggi usia saat terkena HZ, semakin besar terjadinya komplikasi NPH.

"Penularan virusnya bisa melalui pertukaran napas dan kontak dengan lesi/gejala di kulit. Penularan HZ terjadi ketika ada kontak langsung dengan cairan pada lepuhan ruam yang dialami penderita," jelasnya.

Beda dengan Cacar

Lalu apa bedanya dengan cacar? Mereka yang belum pernah menderita cacar air atau tidak pernah menerima vaksin cacar air memiliki risiko tinggi tertular HZ. Jika terinfeksi, mereka akan terkena cacar air, bukan herpes zoster. Gejala awal bersifat tidak spesifik, sebelum muncul tanda nyata pada kulit (ruam merah dan melenting berisi air) biasanya hanya berupa rasa lelah, sakit kepala dan lemas (disebut gejala pro-dormal) yang berlangsung selama 1-5 hari.

"Lalu kemudian virus itu bisa berkembang sewaktu-waktu menjadi Herpes Zoster. Masa inkubasi setelah pertama kali kontak hingga timbulnya lesi di kulit sekitar 10-21 hari," jelasnya.

Pada dasarnya, yang pernah menderita cacar air punya risiko besar untuk Herpes Zoster. Namun, risiko besar ada pada orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah (imunokompromais), seperti lansia, penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi organ, penderita kanker, stress psikis, pasien pasca operasi, dan pasien yang minum obat-obat yang dapat menekan sel imun tubuh. Pada pengobatan Kanker misalnya, radiasi atau kemoterapi dapat menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan dapat memicu Herpes Zoster.

“Maka, fokus pencegahan terhadap HZ yaitu meningkatkan imunitas tubuh secara umum, serta menghindari kontak terhadap virus dari penderita HZ," tuturnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/OBEjvDTmQ4c

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore