Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Desember 2020 | 22.17 WIB

Sudah Dewasa tapi Sering Beser atau Mengompol? Kenali Gejala Nokturia

Ilustrasi. Miss V atau vagina juga menerlukan perawatan agar tetap sehat. - Image

Ilustrasi. Miss V atau vagina juga menerlukan perawatan agar tetap sehat.

JawaPos.com - Sebagian orang ada yang sulit menahan diri untuk buang air kecil, bahkan selalu ingin beser atau mengompol pada malam hari. Jika demikian, bisa jadi itu gejala nokturia.

Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU) dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD, mengatakan, nokturia didefinisikan sebagai berapa kali seseorang berkemih dalam periode tidur utamanya, saat seseorang terbangun dari tidurnya untuk berkemih pertama kali dan setiap berkemih selanjutnya harus diikuti tidur atau keinginan untuk tidur.

Semua harus dicatat pada catatan harian berkemih. Nokturia lebih sering terjadi sesuai dengan meningkatnya usia dan dapat terjadi pada pria dan perempuan.

Orang dengan kondisi nokturia akan lebih sering terbangun di malam hari untuk berkemih sehingga membuat kualitas hidupnya terganggu. Nokturia dapat menjadi tanda adanya gangguan pada kesehatan.

Ada beberapa macam penyebab seseorang mengalami kondisi nokturia. Gaya hidup yang kurang sehat hingga
gangguan kesehatan lainnya menyebabkan seseorang mengalami kondisi nokturia. Kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan nokturia meliputi gangguan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, gangguan hormonal,
gangguan tidur, dan pengaruh obat-obatan.

"Nokturia sangat memengaruhi kualitas hidup, apabila tidak diatasi dengan tepat dapat menyebabkan masalah sosial, bahkan ekonomi bagi penderitanya," kata Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) Dr.dr. Nur Rasyid, SpU (K), dalam konferensi pers virtual, Jumat (18/12).

Penyebabnya

Menurutnya, penyebab penyakit ini sangat banyak misalnya pada laki-laki karena obstruksi infra vesika seperti penyakit prostat. Sedangkan pada laki-laki dan perempuan seperti gangguan kontraksi kandung kemih, komplikasi DM, kelainan neurologis, kelainan hormonal dan bisa hanya disebabkan karena pola minum atau berkemih yang salah. Maka diagnosis dan tata laksananya memerlukan penanganan multidisiplin.

"Nantinya diharapkan dapat membantu dokter spesialis, dokter umum dan tenaga kesehatan lain untuk melakukan pendekatan, menegakkan diagnosis, dan merencanakan terapi nokturia dari berbagai aspek sehingga dapat tercapai perbaikan gejala dan kualitas hidup,” tambahnya.

Gejalanya

Seseorang dapat didiagnosis menderita nokturia apabila terdapat gejala buang air kecil lebih dari sekali pada malam hari yang diikuti tidur. Buang air kecil dengan volume lebih banyak (jika terdapat poliuria). Lemas dan kurang tidur akibat berkemih malam hari yang menganggu siklus tidur.

Siapa saja yang mengalaminya?

Pada studi prevalensi dan faktor risiko nokturia di Indonesia yang melibatkan 1.555 subyek dari 7 kota di Indonesia menunjukkan prevalensi nokturia sebesar 61,4 persen dimana dari total prevalensi nokturia tersebut 61,4 persen dilaporkan pada laki-laki dan 38,6 persen pada perempuan. Rerata usia pada penelitian tersebut adalah 57 (18-92) tahun dan nokturia didapatkan terbanyak pada kelompok umur 55-65 tahun.

Maka masyarakat diimbau untuk tidak mendiamkan dan segera berkonsultasi ke dokter jika terjadi gangguan mengontrol pengeluaran urin selama tidur pada dewasa (Nokturia). Sebab gangguan ini dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas hidup.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=zMaYKf8ZaFc

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore