
Ilustrasi Hepatitis akut. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)
JawaPos.com – Jumlah suspect kasus infeksi ”hepatitis akut yang tidak diketahui asalnya” dimungkinkan bertambah. Itu diprediksi terjadi setelah Kementerian Kesehatan memberikan peringatan peningkatan kewaspadaan ke dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota.
Meski begitu, sejauh ini belum ada satu pun kasus suspect di Indonesia yang dinyatakan terkonfirmasi sebagai hepatitis akut. Termasuk tiga kasus kematian anak suspect yang diumumkan pada 1 Mei lalu.
Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menuturkan, hingga saat ini proses investigasi tim Kemenkes terus berlanjut. Hasil pemeriksaan laboratorium akan memastikan patogen apa saja yang terlibat dalam kematian tiga anak di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) tersebut.
Pemeriksaan setidaknya bakal memakan waktu 10 hingga 14 hari. Terutama untuk memastikan konfirmasi atau tidaknya hepatitis tipe E. ”Jadi, baru masuk kriteria yang kita sebut pending klasifikasi,” jelas Nadia di Jakarta, Kamis (5/5).
Tiga pasien tersebut, lanjut Nadia, datang ke RSCM dalam kondisi berat. Semuanya dirujuk dari rumah sakit lain di sekitar Jakarta. ”Kami coba merawatnya di ICU. Namun, tidak tertolong karena datang dalam kondisi stadium lanjut. Sehingga memberikan waktu sedikit bagi RS untuk melakukan tindakan-tindakan pertolongan,” papar Nadia.
Tiga anak tersebut masing-masing berusia 2, 8, dan 11 tahun. Anak yang berusia 2 tahun belum divaksin Covid-19. Sementara itu, pasien berusia 8 tahun baru mendapat satu kali vaksin dan anak berusia 11 tahun telah menerima vaksinasi lengkap. Ketiganya terkonfirmasi negatif Covid-19.
Nadia menyatakan, tim dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga tengah melakukan investigasi kontak orang-orang dekat pasien 1, 2, dan 3 tersebut untuk menentukan faktor risiko. Melihat data yang ada, satu kasus di antaranya diketahui memiliki penyakit penyerta sebelumnya.
Analisis faktor-faktor risiko lainnya sejauh ini menunjukkan tidak ditemukan riwayat anggota keluarga yang menderita hepatitis atau penyakit kuning sebelumnya. Juga, tidak ditemukan gejala yang menunjukkan ciri-ciri hepatitis akut. Baik warna kuning maupun keluhan di saluran cerna.
Nadia menambahkan, selain surat kewaspadaan yang disebar ke dinas kesehatan seluruh Indonesia, Kemenkes mengumpulkan laporan kasus dengan gejala sindrom kuning. Dengan laporan-laporan itu, ada kemungkinan suspect bertambah.
”Tapi, belum ada kasus yang konfirmasi. Ada pemeriksaan yang harus kami lakukan dengan pemeriksaan genome sequencing yang harus mengetahui secara pasti ia bukan hepatitis A, B, C, D, atau E,” jelas Nadia.
Beberapa fasyankes juga tengah dikuatkan. Termasuk RS rujukan penanganan, yakni RSPI Sulianti Saroso. Kemudian, pemeriksaan laboratorium dan perbaikan tata laksana untuk menangani pasien suspect.
Dokter spesialis anak sekaligus lead scientist untuk kasus hepatitis Prof dr Hanifah Oswari menjelaskan, gangguan pencernaan menjadi pintu masuk utama dalam deteksi dini terhadap penyakit hepatitis akut itu. Jika ditemukan gejala diare mendadak, mual, muntah, sakit perut, dan kadang-kadang disertai demam ringan, orang tua harus segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat.
Petugas medis di fasyankes yang akan memutuskan apakah dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. ”Jadi, jangan tunggu sampai ada gejala bagian tubuh menguning. Itu akan memberikan waktu lebih sedikit kepada dokter dan tenaga medis untuk memberikan pertolongan,” jelasnya.
Hanifah menambahkan, dalam kondisi mata dan kulit yang berubah menguning, pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan bahwa dua enzim utama yang berkaitan erat dengan fungsi hati, yakni SGPT dan SGOT, akan meningkat di atas 500. Kondisi normalnya di bawah 75.
”Bila berlanjut lagi gejalanya, pasien akan mengalami pembekuan darah. Selanjutnya terjadi penurunan kesadaran dan bisa berlanjut pada kematian jika pasien tidak mendapatkan transplantasi hati,” jelasnya.
Pencegahannya, kata dia, kurang lebih sama dengan penyakit yang menginfeksi saluran cerna dan saluran napas. Yakni, dengan pola hidup bersih dan protokol kesehatan. Meski belum diketahui penyebabnya, Hanifah menyebutkan, ada beberapa virus yang berperan dalam infeksi hepatitis akut tersebut. Yakni, adenovirus tipe 41, SARS-CoV-2, serta beberapa virus lain seperti EBV dan CMV.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
