Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Maret 2021 | 19.22 WIB

Dokter: Jangan Putus Asa Saat Kanker Usus Besar Masuk Stadium Lanjut

Ilustrasi. Buang air besar berdarah bisa jadi gejala kanker usus. - Image

Ilustrasi. Buang air besar berdarah bisa jadi gejala kanker usus.

JawaPos.com - Pasien kanker usus besar (kolorektal) didorong untuk tetap semangat meski sudah memasuki stadium lanjut. Sebab setiap penyakit atau fase kanker pasti akan diberikan pengobatan yang sesuai.

Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Kolorektal pada bulan Maret, Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) bersama PT Merck Tbk mengajak masyarakat Indonesia terkait pentingnya deteksi dini kanker usus besar (kolorektal) agar tidak terlambat ditangani untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan dan penyembuhan. Dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, SpB-KBD, mengatakan, pemeriksaan dini dan skrining usus besar ketika mulai mengalami gejala sangat disarankan.

"Kami para dokter siap untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi sehubungan dengan usus besar ini," kata dr. Wifanto baru-baru ini.

Baca Juga: Berdarah dan BAB Terus Menerus, Waspada Gejala Kanker Usus Besar

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dan onkologi medik, dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, K-HOM, menegaskan agar pasien kanker jangan putus asa jika sudah masuk tahap stadium lanjut. Menurutnya dokter sudah memiliki serangkaian pengobatan yang tepat untuk pasien.

“Jangan khawatir jika kondisi kanker sudah terlanjur masuk ke tahap lanjut. Setiap stadium ada pengobatannya masing-masing, kami sebagai tim dokter ingin memberikan yang terbaik untuk pasien, kami akan usahakan memberikan pengobatan dengan pendekatan personalized treatment. Dalam arti, setiap pasien bisa mendapatkan pengobatan sesuai dengan kondisi, stadium dan jenis molekular pasien kanker usus besar," tegasnya.

Seiring dengan kemajuan penanganan kanker kolorektal di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda mutasi tumor RAS, diharapkan angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang. Dengan pilihan metode pengobatan personalized treatment membantu menegakkan diagnosis yang lebih akurat.

"Memungkinkan pemberian obat yang tepat sehingga akan meminimalisir efek samping dan meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kesembuhan," katanya.

Kanker dan Covid-19

Pasien kanker memiliki tingkat risiko paparan Covid-19 lebih tinggi sebesar 3,5 kali lipat dibandingkan dengan pasien yang bukan kanker. Termasuk pasien kanker kolorektal yang mempunyai risiko tinggi terhadap infeksi Covid-19, mengingat keadaan sistem imunitas mereka. Menanggapi upaya pemerintah saat ini untuk memerangi pandemi Covid-19 dengan program vaksinasi, apakah pasien dan penyintas kanker kolorektal bisa mendapatkan vaksin Covid-19 untuk mencegah penularan.

Berdasarkan rekomendasi PERHOMPEDIN (Perhimpunan Hematologi dan Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia), vaksinasi Covid-19 dapat diberikan pada pasien dan penyintas kanker dengan penilaian individual dan pemantauan ketat serta berhati-hati selama tidak ada kontraindikasi. Dengan kata lain, penyintas kanker kolorektal dapat diberikan vaksinasi selama tidak ada kontraindikasi. Sedangkan pasien dengan kanker kolorektal masih aktif, dapat dikoordinasikan dengan dokter yang merawat untuk berkoordinasi dengan tim vaksinasi dewasa.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/29Q7A3EmUCY

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore