Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Juli 2020 | 20.29 WIB

Kementan dan IDI Duet Riset Teliti Kegunaan Eukaliptus

Prototipe kalung aromaterapi bernama antivirus korona Eucalyptus ditunjukkan saat pemaparan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertanian tentang pemanfaatan Eucalyptus di Kantor Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Kementerian Perta - Image

Prototipe kalung aromaterapi bernama antivirus korona Eucalyptus ditunjukkan saat pemaparan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertanian tentang pemanfaatan Eucalyptus di Kantor Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Kementerian Perta

JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) kemarin (8/7) bekerja sama melakukan penelitian obat. Salah satu yang diteliti adalah kegunaan eukaliptus.

Ketua PB IDI Daeng Muhammad Faqih menyatakan bahwa sejauh ini alat dan obat yang digunakan di Indonesia mayoritas impor. Bahkan untuk bahan baku saja, kebanyakan juga impor. Daeng menyebut, India dan Tiongkok menjadi penyuplai terbanyak.

”Kekayaan alam kita itu banyak sekali yang berpotensi jadi bahan obat,” ucapnya dalam sambutan acara kerja sama itu.

Yang perlu dilakukan, menurutnya, adalah terus menggali potensi itu. Salah satu caranya dengan riset.

Beberapa waktu lalu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengumumkan bahwa laboratorium yang berada di bawah kementeriannya memproduksi eukaliptus atau minyak kayu putih yang salah satunya untuk menangkal virus korona.

Menurut Daeng, apa yang dilakukan Kementan tersebut menggerakan untuk menggali potensi nasional dan digunakan di dunia kesehatan. ”IDI sangat mendorong kerja sama ini agar ada kemandirian bangsa di bidang kesehatan,” bebernya.

Menurutnya, temuan kandungan yang bermanfaat yang terdapat pada tanaman eukaliptus menandakan bahwa kurang memanfaatkan potensi dalam negeri. Dalam kesempatan yang sama, Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa beberapa universitas juga melakukan penelitian yang sama.

Bahkan menggandeng Kementan untuk kolaborasi riset. Dengan adanya kerja sama dengan PB IDI, menurutnya, dapat memperlancar proses selanjutnya. Dalam hal ini adalah uji klinis.

Syahrul merasa bahwa penelitian yang dilakukan oleh laboratorium dibawahnya bisa diuji. Dengan sumber daya yang ada dan pengalamannya, seharusnya bisa meyakinkan publik. ”Kami punya balai yang untuk teliti virus dan ada tanamannya yang diteliti. Kalau ada yang sanggah maka hadapi,” tuturnya.

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melakukan pengembangan awal produk eukaliptus. Lembaga tersebut juga telah mendaftarkan emapt produk eukaliptus ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan hak paten. Empat produk tersebut adalah formula aromatic antivirus, inhaler, ramuan serbuk, dan minyak atsiri.

Lebih lanjut nantinya Kementan melalui Balitbangtan akan menyerahkan hasil penelitian kepada IDI. Tujuannya untuk dilakukan pengujian lebih lanjut untuk pengobatan pada manusia. Dalam pengujian calon obat setidaknya ada ada uji klinis dan pra uji klinis.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=spV_Eut9srw

 

https://www.youtube.com/watch?v=stALfR9D_RA

 

https://www.youtube.com/watch?v=IuNQisNiKjs

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore