Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.33 WIB

7 Alasan Mengapa Seseorang Terpikat Mengikuti Tren Media Sosial Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang mengikuti tren media sosial / foto: Magnific/diana.grytsku

 

JawaPos.com - Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, mencari informasi, membangun identitas, bahkan mengambil keputusan. Setiap hari muncul tren baru: tantangan, tarian, meme, gaya berpakaian, istilah tertentu, konten viral, hingga cara berbicara yang tiba-tiba digunakan banyak orang.

Menariknya, tidak semua orang yang mengikuti tren benar-benar menyukai tren tersebut sejak awal. Ada yang awalnya hanya melihat-lihat, kemudian ikut memberikan tanda suka, membagikannya, lalu akhirnya membuat konten serupa. Dalam waktu singkat, seseorang yang semula hanya menjadi penonton dapat berubah menjadi bagian dari arus tren.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Dalam perspektif psikologi, perilaku mengikuti tren bukan sekadar persoalan "ikut-ikutan". Ada berbagai mekanisme psikologis yang bekerja di baliknya, mulai dari kebutuhan untuk diterima, keinginan mendapatkan pengakuan, rasa takut tertinggal, hingga kecenderungan manusia mencari petunjuk dari perilaku orang lain ketika menghadapi sesuatu yang baru.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa seseorang mudah terpikat untuk mengikuti tren media sosial.

1. Keinginan untuk Diterima dan Menjadi Bagian dari Kelompok

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita memiliki kebutuhan untuk merasa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok tertentu.

Kebutuhan tersebut dapat muncul dalam lingkungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun komunitas digital.

Media sosial memperluas kelompok sosial tersebut secara luar biasa. Seseorang dapat merasa menjadi bagian dari komunitas tertentu hanya karena mengikuti hashtag, menggunakan istilah yang sama, menyukai konten tertentu, atau mengikuti tren yang sedang populer.

Misalnya, ketika hampir semua teman seseorang menggunakan filter tertentu atau membuat video dengan format yang sama, muncul dorongan untuk melakukan hal serupa. Bukan selalu karena filter atau format tersebut dianggap luar biasa, melainkan karena aktivitas tersebut telah menjadi semacam "bahasa sosial" di dalam kelompok.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan untuk menyesuaikan perilaku dengan kelompok sering dikaitkan dengan konformitas.

Konformitas terjadi ketika seseorang mengubah sikap atau perilakunya agar lebih sesuai dengan norma atau perilaku kelompok.

Di media sosial, proses ini dapat berlangsung jauh lebih cepat.

Jika seseorang melihat puluhan orang yang dikenalnya mengikuti sebuah tren, maka tren tersebut mulai terlihat sebagai sesuatu yang normal. Ketika jumlahnya mencapai ribuan atau jutaan orang, tekanan sosialnya dapat terasa semakin kuat.

Pada titik tertentu, seseorang mungkin berpikir:

"Kalau semua orang melakukan ini, mungkin saya juga seharusnya ikut."

Dengan demikian, mengikuti tren dapat menjadi cara seseorang untuk mempertahankan hubungan sosial dan menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi bagian dari kelompok.

2. Takut Ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO)

Salah satu alasan paling kuat seseorang mengikuti tren adalah Fear of Missing Out, atau yang lebih dikenal dengan istilah FOMO.

FOMO menggambarkan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan, penting, atau berharga sementara dirinya tidak ikut mengalaminya.

Media sosial sangat efektif memicu perasaan tersebut karena pengguna terus-menerus melihat apa yang dilakukan orang lain.

Bayangkan seseorang membuka media sosial dan menemukan:

teman-temannya membicarakan sebuah tren;
influencer yang diikuti membuat konten tentang tren tersebut;
video dengan tren yang sama muncul berkali-kali;
berita membahasnya;
kolom komentar penuh dengan percakapan mengenai tren tersebut.

Lambat laun muncul perasaan bahwa dirinya sedang "tertinggal".

Padahal, popularitas suatu tren di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan di dunia nyata. Algoritma platform cenderung membuat pengguna melihat konten yang mendapatkan banyak interaksi atau dianggap relevan dengan minat mereka. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya hanya populer di komunitas tertentu dapat terasa seperti fenomena yang sedang diikuti semua orang.

FOMO kemudian mendorong seseorang untuk ikut berpartisipasi.

Bahkan, seseorang mungkin mengikuti tren yang sebenarnya tidak terlalu disukai hanya agar tidak merasa menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu atau tidak ikut.

Dalam konteks ini, mengikuti tren menjadi semacam strategi psikologis untuk mengurangi kecemasan sosial.

3. Manusia Menggunakan Perilaku Orang Lain sebagai Petunjuk

Ketika menghadapi sesuatu yang baru, manusia sering mencari petunjuk dari lingkungan.

Jika kita tidak tahu apakah suatu produk bagus, kita mungkin melihat ulasan orang lain. Jika tidak tahu apakah sebuah tempat layak dikunjungi, kita melihat pengalaman pengunjung sebelumnya. Jika tidak tahu apakah sebuah tren menarik, kita melihat berapa banyak orang yang mengikutinya.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep social proof, yaitu kecenderungan seseorang menggunakan perilaku atau pendapat orang lain sebagai informasi mengenai apa yang dianggap tepat, populer, atau bernilai.

Jumlah likes, views, komentar, dan jumlah pengikut kemudian dapat menjadi sinyal psikologis.

Sebuah video dengan 20 juta tayangan dapat secara otomatis terlihat lebih menarik dibandingkan video dengan 20 tayangan, meskipun jumlah penonton sebenarnya tidak menjamin kualitas kontennya.

Begitu seseorang melihat banyak orang melakukan sesuatu, muncul asumsi:

"Kalau sebanyak ini orang menyukainya, pasti ada alasannya."

Masalahnya, popularitas dan kualitas adalah dua hal berbeda.

Sebuah tren bisa menjadi populer karena kontroversi, humor, rasa penasaran, mekanisme algoritma, atau sekadar efek viral. Namun otak manusia tidak selalu melakukan analisis mendalam terhadap alasan tersebut.

Dalam situasi informasi yang sangat banyak, mengikuti pilihan mayoritas dapat menjadi jalan pintas mental.

4. Keinginan Mendapatkan Pengakuan dan Perhatian

Media sosial juga menyediakan sesuatu yang sangat kuat secara psikologis: umpan balik sosial yang cepat.

Di dunia nyata, seseorang mungkin membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pengakuan. Di media sosial, sebuah unggahan dapat memperoleh puluhan atau bahkan ribuan respons hanya dalam hitungan menit.

Likes, komentar, shares, views, dan followers dapat menjadi bentuk penguatan sosial.

Ketika seseorang membuat konten mengikuti tren kemudian memperoleh banyak respons positif, pengalaman tersebut dapat membuatnya ingin mengulangi perilaku yang sama.

Secara sederhana:

mengikuti tren → mendapatkan perhatian → merasa senang atau dihargai → ingin mengulanginya.

Ini berkaitan dengan prinsip reinforcement dalam psikologi perilaku. Perilaku yang diikuti konsekuensi menyenangkan cenderung lebih mungkin diulangi.

Karena itu, seseorang yang pernah mendapatkan banyak perhatian dari sebuah tren dapat menjadi lebih sensitif terhadap tren berikutnya.

Ia mungkin mulai memperhatikan:

"Tren apa yang sedang ramai?"

"Konten apa yang sedang banyak ditonton?"

"Apa yang sedang disukai orang?"

Tujuannya bukan lagi sekadar mengikuti tren, tetapi mencari peluang untuk mendapatkan respons sosial.

Pada sebagian orang, hal ini bahkan dapat menjadi bagian dari strategi membangun personal branding.

5. Tren Menjadi Cara Membentuk dan Menampilkan Identitas Diri

Media sosial bukan hanya tempat untuk berbagi informasi. Ia juga merupakan ruang untuk menampilkan siapa diri kita kepada orang lain.

Seseorang dapat memilih foto profil, pakaian, musik, tempat yang dikunjungi, jenis konten yang dibagikan, hingga tren yang diikuti untuk membentuk kesan tertentu.

Karena itu, mengikuti tren tidak selalu berarti kehilangan identitas.

Sebaliknya, seseorang dapat menggunakan tren untuk mengekspresikan identitasnya.

Contohnya, seseorang mengikuti tren musik tertentu karena ingin menunjukkan bahwa dirinya mengikuti perkembangan musik. Orang lain mengikuti tren olahraga karena ingin memperlihatkan gaya hidup aktif. Seseorang mungkin mengikuti tren buku karena ingin diasosiasikan dengan kelompok pembaca.

Dengan kata lain, tren dapat menjadi simbol identitas sosial.

Manusia cenderung mengategorikan dirinya dan orang lain ke dalam kelompok-kelompok sosial. Ketika sebuah tren diasosiasikan dengan kelompok yang ingin dimasuki seseorang, tren tersebut menjadi lebih menarik.

Misalnya:

"Orang-orang seperti saya menggunakan gaya ini."

atau:

"Saya ingin dianggap sebagai bagian dari kelompok ini."

Maka mengikuti tren menjadi lebih dari sekadar aktivitas digital. Ia menjadi cara untuk mengatakan kepada dunia:

"Inilah siapa saya, atau setidaknya inilah bagaimana saya ingin dilihat."

6. Rasa Penasaran Membuat Seseorang Ingin Mencoba

Tidak semua tren diikuti karena tekanan sosial. Sebagian dimulai dari rasa penasaran.

Manusia memiliki dorongan alami untuk mencari informasi baru. Sesuatu yang tidak biasa, misterius, lucu, kontroversial, atau berbeda dapat menarik perhatian.

Media sosial sangat pandai memanfaatkan mekanisme tersebut.

Sebuah video mungkin menggunakan judul yang membuat penasaran. Sebuah tantangan terlihat aneh. Sebuah istilah baru muncul berulang kali. Seseorang yang tidak memahami konteksnya kemudian terdorong untuk mencari tahu.

Awalnya:

"Apa ini?"

Kemudian:

"Mengapa semua orang membicarakannya?"

Lalu:

"Coba saya lihat."

Dan akhirnya:

"Saya coba juga."

Rasa penasaran dapat menjadi pintu masuk menuju partisipasi.

Terlebih lagi, media sosial memungkinkan seseorang mencoba sesuatu dengan biaya yang relatif rendah. Membuat video singkat, menggunakan filter, mengikuti challenge, atau membuat meme tidak membutuhkan komitmen sebesar aktivitas di dunia nyata.

Karena hambatannya rendah, rasa penasaran lebih mudah berubah menjadi tindakan.

7. Algoritma Membuat Tren Terasa Lebih Besar daripada Kenyataannya

Ada satu faktor modern yang tidak dapat diabaikan: algoritma media sosial.

Pengguna sering merasa bahwa mereka memilih sendiri apa yang ingin dilihat. Namun pada kenyataannya, platform menggunakan sistem rekomendasi untuk menentukan konten mana yang kemungkinan menarik perhatian pengguna.

Ketika seseorang menonton satu video tentang tren tertentu, sistem dapat merekomendasikan video serupa.

Pengguna kemudian melihat tren tersebut lagi.

Ia menonton.

Sistem kembali memberikan konten serupa.

Akhirnya terbentuk sebuah lingkaran:

melihat tren → berinteraksi → algoritma membaca minat → lebih banyak tren ditampilkan → merasa tren semakin besar → semakin tertarik mengikuti.

Inilah salah satu alasan mengapa sebuah tren dapat terasa seperti "ada di mana-mana".

Padahal, pengalaman setiap pengguna dapat berbeda.

Seseorang yang sering menonton konten olahraga mungkin melihat tren olahraga terus-menerus. Sementara pengguna lain yang sering menonton konten teknologi mungkin hampir tidak menyadarinya.

Algoritma menciptakan pengalaman media sosial yang sangat personal.

Akibatnya, persepsi mengenai apa yang "sedang viral" dapat berbeda dari satu orang dengan orang lainnya.

Hal ini penting karena manusia cenderung menggunakan lingkungan yang mereka lihat sebagai gambaran mengenai realitas.

Jika setiap kali membuka media sosial seseorang melihat tren tertentu, otaknya dapat menyimpulkan:

"Ini pasti sangat populer."

Padahal, yang terjadi bisa saja sebagian merupakan hasil dari sistem rekomendasi yang terus menyajikan konten serupa.

Mengapa Tren Bisa Menular Begitu Cepat?

Ketujuh faktor di atas sebenarnya tidak bekerja secara terpisah.

Justru, kekuatan terbesar tren media sosial muncul ketika berbagai mekanisme psikologis tersebut bekerja secara bersamaan.

Misalnya, seseorang melihat sebuah tren yang dilakukan oleh influencer.

Ia merasa penasaran.

Kemudian melihat jutaan orang memberikan respons positif.

Muncul social proof.

Teman-temannya kemudian ikut melakukan hal yang sama.

Muncul konformitas.

Ia khawatir menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut.

Muncul FOMO.

Ia akhirnya membuat konten mengikuti tren tersebut.

Kontennya memperoleh banyak likes.

Ia mendapatkan penguatan sosial.

Setelah itu, algoritma semakin sering memperlihatkan konten serupa.

Tren pun semakin terlihat besar.

Siklus tersebut dapat berlangsung sangat cepat.

Inilah yang membuat tren media sosial berbeda dari tren tradisional. Dahulu sebuah tren membutuhkan waktu untuk menyebar melalui percakapan, televisi, majalah, atau lingkungan sosial. Sekarang, sebuah perilaku dapat ditiru oleh jutaan orang dalam waktu singkat.

Apakah Mengikuti Tren Selalu Buruk?

Tidak.

Mengikuti tren pada dasarnya adalah perilaku sosial yang normal.

Tren dapat memberikan berbagai manfaat. Seseorang bisa menemukan komunitas baru, mendapatkan hiburan, mempelajari sesuatu, menemukan minat baru, atau bahkan mendapatkan peluang ekonomi.

Masalahnya bukan pada tindakan mengikuti tren itu sendiri.

Yang perlu diperhatikan adalah alasan mengapa seseorang mengikutinya.

Jika seseorang mengikuti tren karena benar-benar tertarik dan merasa mendapatkan manfaat, tidak ada masalah besar.

Namun, jika seseorang terus mengikuti tren karena takut ditolak, takut tertinggal, membutuhkan validasi, atau merasa harga dirinya bergantung pada respons orang lain, maka situasinya perlu diperhatikan.

Pertanyaan sederhana yang dapat digunakan untuk melakukan refleksi adalah:

"Kalau tidak ada orang lain yang melihat, apakah saya masih ingin melakukan ini?"

Jika jawabannya ya, mungkin seseorang memang menyukai tren tersebut.

Jika jawabannya tidak, mungkin ada faktor sosial atau kebutuhan akan pengakuan yang lebih dominan.

Menjadi Pengguna Media Sosial yang Lebih Sadar

Memahami psikologi di balik tren bukan berarti seseorang harus berhenti mengikuti tren.

Justru, pemahaman tersebut dapat membuat seseorang lebih sadar ketika mengambil keputusan.

Sebelum mengikuti tren, kita dapat bertanya:

Apakah saya benar-benar tertarik?
Apakah saya mengikutinya karena takut tertinggal?
Apakah saya ingin mendapatkan perhatian?
Apakah teman-teman saya membuat saya merasa harus ikut?
Apakah saya mengetahui risiko dari tren ini?
Apakah tren tersebut sesuai dengan nilai dan identitas saya?
Apakah saya tetap akan melakukannya jika tidak mendapatkan likes atau komentar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu membedakan antara keputusan yang berasal dari pilihan pribadi dan keputusan yang muncul karena tekanan sosial atau dorongan sesaat.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang apa yang kita lihat. Ia juga memengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial.

Semakin kita memahami mekanisme psikologis di baliknya, semakin besar kemampuan kita untuk menentukan kapan harus ikut arus dan kapan sebaiknya berhenti sejenak.

Kesimpulan

Ketertarikan seseorang terhadap tren media sosial dapat dijelaskan melalui berbagai mekanisme psikologis. Kebutuhan untuk diterima, FOMO, social proof, keinginan mendapatkan pengakuan, pembentukan identitas, rasa penasaran, dan pengaruh algoritma dapat saling memperkuat hingga membuat sebuah tren terasa sulit untuk diabaikan.

Karena itu, perilaku "ikut tren" sebenarnya merupakan kombinasi antara kebutuhan sosial, proses kognitif, emosi, dan teknologi.

Tren akan selalu datang dan pergi. Yang membedakan pengguna media sosial yang sadar dengan pengguna yang sekadar terbawa arus bukanlah seberapa sering mereka mengikuti tren, melainkan seberapa sadar mereka terhadap alasan di balik keputusan tersebut.

Sebab pada akhirnya, kemampuan mengatakan "saya ikut karena memang saya mau" sama pentingnya dengan kemampuan mengatakan "saya tidak perlu ikut hanya karena semua orang melakukannya."***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore