Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.32 WIB

7 Perilaku Tak Terduga yang Membuat Permintaan Maaf Menjadi Keliru Menurut Psikologi, Apa Saja?

seseorang yang membuat permintaan maaf menjadi keliru / foto: Magnific/katemangostar

 

JawaPos.com - Meminta maaf seharusnya menjadi tindakan sederhana: kita menyadari telah melakukan kesalahan, mengakuinya, lalu berusaha memperbaiki keadaan. Namun dalam kehidupan nyata, tidak semua permintaan maaf membuat hubungan menjadi lebih baik.

Ada permintaan maaf yang justru membuat orang semakin terluka. Ada pula yang terdengar tulus, tetapi diam-diam membuat konflik semakin panjang. Bahkan, seseorang bisa benar-benar merasa bersalah tetapi tetap melakukan beberapa perilaku yang membuat permintaan maafnya sulit diterima.

Menariknya, masalahnya tidak selalu terletak pada kata “maaf”.

Menurut perspektif psikologi, cara seseorang meminta maaf juga dipengaruhi oleh mekanisme pertahanan diri, kebutuhan mempertahankan harga diri, rasa malu, ketakutan ditolak, dan keinginan untuk segera terbebas dari rasa bersalah. Karena itu, seseorang dapat meminta maaf bukan untuk memperbaiki luka orang lain, melainkan secara tidak sadar untuk mengurangi ketidaknyamanan dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh perilaku tak terduga yang dapat membuat sebuah permintaan maaf menjadi keliru.

1. Meminta Maaf, tetapi Langsung Menjelaskan Mengapa Kita Melakukannya

Salah satu bentuk permintaan maaf yang paling sering terjadi adalah:

“Maaf aku ngomong seperti itu, tapi sebenarnya aku sedang capek.”

Atau:

“Maaf kalau kamu tersinggung, tapi aku memang sedang banyak masalah.”

Sekilas, kalimat tersebut terlihat seperti permintaan maaf. Namun ada sesuatu yang mengganggu di dalamnya: kata “tapi”.

Penjelasan mengenai alasan seseorang melakukan kesalahan memang tidak selalu buruk. Masalahnya muncul ketika penjelasan tersebut digunakan terlalu cepat sehingga terdengar seperti pembelaan diri.

Orang yang terluka mungkin tidak sedang mencari penjelasan. Mereka mungkin sedang membutuhkan pengakuan bahwa apa yang terjadi memang menyakitkan.

Ketika permintaan maaf langsung diikuti alasan, perhatian percakapan dapat bergeser dari:

“Aku memahami bahwa tindakanku menyakitimu.”

menjadi:

“Aku punya alasan mengapa aku melakukan itu.”

Keduanya sangat berbeda.

Dalam psikologi, manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk mempertahankan citra positif tentang dirinya. Ketika menyadari telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai dirinya, muncul ketidaknyamanan psikologis. Salah satu cara menguranginya adalah dengan memberikan alasan.

Masalahnya, apa yang membantu kita merasa lebih baik belum tentu membantu orang lain merasa dipahami.

Permintaan maaf yang lebih sehat biasanya memisahkan pengakuan kesalahan dari penjelasan.

Misalnya:

“Aku minta maaf karena tadi aku membentakmu. Itu tidak pantas, dan aku memahami kalau perkataanku membuatmu terluka.”

Setelah itu, jika memang diperlukan, barulah konteks dapat dijelaskan:

“Aku memang sedang sangat tertekan, tetapi itu bukan alasan untuk memperlakukanmu seperti itu.”

Perbedaannya kecil, tetapi secara emosional sangat besar.

2. Mengucapkan “Maaf Kalau…” Tanpa Menyadari Dampaknya

Kalimat seperti:

“Maaf kalau kamu merasa tersinggung.”

atau:

“Maaf kalau perkataanku membuatmu sakit hati.”

sering terdengar sopan. Namun sebenarnya, kalimat tersebut dapat mengandung jarak emosional.

Mengapa?

Karena fokusnya bukan pada tindakan kita, melainkan pada reaksi orang lain.

“Maaf kalau kamu tersinggung” secara implisit dapat terdengar seperti:

“Masalahnya adalah kamu tersinggung.”

Padahal yang lebih penting dalam permintaan maaf adalah mengakui tindakan yang dilakukan.

Bandingkan:

“Maaf kalau kamu tersinggung.”

dengan:

“Maaf karena perkataanku tadi menyakitimu.”

Kalimat kedua tidak memperdebatkan apakah orang tersebut seharusnya tersinggung. Ia mengakui dampak yang terjadi.

Ini penting karena dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama dengan respons emosional yang berbeda. Kita tidak selalu berhak menentukan bahwa seseorang “seharusnya tidak merasa terluka”.

Permintaan maaf yang matang tidak harus berarti kita setuju dengan seluruh perspektif orang lain. Kita cukup mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

3. Terlalu Cepat Mengharapkan Orang Lain Memaafkan

Ini adalah perilaku yang sering luput diperhatikan.

Seseorang meminta maaf dengan tulus, kemudian beberapa menit kemudian berkata:

“Kamu sudah maafin aku, kan?”

Atau:

“Aku kan sudah minta maaf. Masih marah juga?”

Di sinilah permintaan maaf dapat berubah menjadi tekanan.

Meminta maaf dan mendapatkan pengampunan adalah dua hal berbeda.

Permintaan maaf adalah tindakan yang berada dalam kendali kita.

Pengampunan adalah keputusan emosional orang lain.

Ketika seseorang baru saja terluka, mereka mungkin membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya. Bahkan ketika mereka percaya bahwa permintaan maaf kita tulus, mereka belum tentu langsung merasa tenang.

Dalam hubungan yang sehat, permintaan maaf tidak seharusnya menjadi alat untuk memaksa orang lain segera kembali normal.

Kalimat seperti:

“Aku mengerti kalau kamu masih butuh waktu. Aku tidak akan memaksamu untuk langsung baik-baik saja.”

justru dapat menunjukkan kedewasaan emosional.

Mengapa?

Karena kita berhenti menjadikan kenyamanan diri sendiri sebagai tujuan utama.

Kadang-kadang, orang meminta maaf karena tidak tahan melihat orang lain kecewa kepada mereka. Akibatnya, mereka ingin masalah selesai secepat mungkin.

Namun proses pemulihan emosional tidak selalu mengikuti kecepatan yang kita inginkan.

4. Meminta Maaf Berkali-kali Sampai Orang Lain Justru Harus Menghibur Kita

Ada bentuk permintaan maaf yang awalnya terlihat sangat tulus:

“Aku benar-benar orang yang buruk. Aku nggak pantas diperlakukan baik.”

Kemudian:

“Aku selalu merusak semuanya.”

Lalu:

“Aku memang bodoh. Kenapa aku selalu begini?”

Sekilas, orang tersebut tampak sangat menyesal.

Namun tanpa disadari, percakapan dapat berubah arah.

Orang yang tadinya terluka akhirnya merasa harus berkata:

“Sudahlah, kamu bukan orang jahat.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seburuk itu.”

Akibatnya, korban justru harus menghibur orang yang melakukan kesalahan.

Ini dapat terjadi ketika rasa bersalah berubah menjadi rasa malu yang berlebihan.

Rasa bersalah biasanya berfokus pada tindakan:

“Aku melakukan sesuatu yang salah.”

Sementara rasa malu berfokus pada identitas:

“Aku adalah orang yang buruk.”

Perbedaan ini penting.

Rasa bersalah yang sehat dapat mendorong seseorang memperbaiki perilaku. Sebaliknya, rasa malu yang berlebihan justru dapat membuat seseorang tenggelam dalam dirinya sendiri.

Ironisnya, permintaan maaf yang terlalu berpusat pada betapa buruknya diri kita dapat membuat kita kurang memperhatikan orang yang sebenarnya terluka.

Permintaan maaf yang lebih konstruktif berbunyi:

“Aku menyesal telah melakukan itu. Aku tahu tindakanku berdampak buruk padamu. Aku ingin memperbaikinya, bukan hanya merasa bersalah.”

Fokusnya kembali pada tanggung jawab, bukan penghukuman diri.

5. Memberikan Hadiah atau Perlakuan Manis untuk Menggantikan Perubahan

Ada orang yang setelah melakukan kesalahan langsung membeli hadiah.

Bunga.

Makanan favorit.

Traktiran.

Barang mahal.

Atau tiba-tiba menjadi sangat romantis.

Tentu saja, memberikan sesuatu kepada orang lain tidak selalu salah. Gestur tersebut dapat menjadi bagian dari permintaan maaf.

Masalahnya muncul ketika hadiah digunakan sebagai pengganti tanggung jawab.

Misalnya seseorang berkali-kali melakukan perilaku yang sama, kemudian setiap kali terjadi konflik ia membeli sesuatu untuk pasangannya.

Siklusnya menjadi:

melakukan kesalahan → meminta maaf → memberi hadiah → hubungan membaik → mengulangi kesalahan.

Dalam kondisi seperti ini, hadiah tidak menyelesaikan akar masalah.

Psikologi perilaku menunjukkan bahwa konsekuensi dapat memengaruhi kemungkinan suatu perilaku diulang. Jika seseorang terus melakukan kesalahan dan konflik selalu “diselesaikan” dengan hadiah tanpa perubahan perilaku, pola tersebut berpotensi menjadi siklus yang terus berulang.

Karena itu, permintaan maaf yang paling bermakna bukan selalu yang paling mahal.

Kadang-kadang bentuk permintaan maaf terbaik justru sangat sederhana:

“Aku tahu aku sudah beberapa kali melakukan hal yang sama. Jadi kali ini aku tidak hanya ingin meminta maaf. Aku akan mengubah caraku merespons ketika sedang marah.”

Lalu perubahan itu benar-benar dilakukan.

Sebab pada akhirnya, konsistensi setelah meminta maaf jauh lebih meyakinkan daripada intensitas emosi ketika mengucapkannya.

6. Meminta Maaf, tetapi Menuntut Orang Lain Mengakui Kesalahannya Juga

Ini salah satu perilaku yang sangat manusiawi.

Seseorang berkata:

“Oke, aku minta maaf karena membentakmu. Tapi kamu juga salah karena membuatku kesal.”

Secara logika, mungkin pernyataan tersebut benar.

Dalam sebuah konflik, kedua pihak memang bisa sama-sama melakukan kesalahan.

Namun ada waktu dan tempat untuk membahas tanggung jawab masing-masing.

Ketika permintaan maaf selalu disertai tuntutan agar orang lain mengakui kesalahannya, permintaan maaf dapat berubah menjadi transaksi:

“Aku mengakui kesalahanku kalau kamu mengakui kesalahanmu.”

Padahal tanggung jawab pribadi tidak harus menunggu orang lain bertanggung jawab terlebih dahulu.

Orang yang memiliki kematangan emosional dapat mengatakan:

“Aku mengakui bahwa aku salah membentakmu. Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang menurutku kamu lakukan dan menyakitiku, tetapi itu pembicaraan terpisah.”

Ini menunjukkan kemampuan untuk membedakan dua hal:

bertanggung jawab atas tindakan sendiri

dan

membicarakan perilaku orang lain.

Keduanya dapat dilakukan tanpa saling menghapus.

7. Meminta Maaf Hanya Karena Ingin Menghilangkan Rasa Bersalah

Ini mungkin yang paling sulit dikenali.

Kadang-kadang seseorang meminta maaf bukan karena sudah memahami luka yang ditimbulkannya, tetapi karena mereka tidak nyaman dengan perasaan bersalah.

Perbedaannya sangat halus.

Ada orang yang berpikir:

“Aku ingin dia memaafkanku supaya aku tidak merasa seburuk ini.”

Sementara permintaan maaf yang lebih berorientasi pada pemulihan berbunyi:

“Aku ingin mengakui kesalahanku, meskipun dia belum siap memaafkanku.”

Motivasinya berbeda.

Pada yang pertama, pusatnya adalah diri sendiri.

Pada yang kedua, pusatnya adalah tanggung jawab dan pemulihan hubungan.

Ini menjelaskan mengapa seseorang dapat terlihat sangat emosional ketika meminta maaf tetapi tetap mengulangi kesalahan yang sama. Emosi yang kuat pada saat meminta maaf belum tentu sama dengan perubahan perilaku.

Air mata bukan bukti perubahan.

Rasa bersalah bukan bukti perubahan.

Kata-kata indah juga bukan bukti perubahan.

Yang paling kuat adalah apa yang terjadi setelah permintaan maaf.

Jadi, Seperti Apa Permintaan Maaf yang Sehat?

Permintaan maaf yang matang sebenarnya tidak perlu panjang.

Strukturnya dapat sederhana:

1. Akui tindakan

“Aku salah karena membentakmu.”

2. Akui dampaknya

“Aku tahu itu membuatmu merasa tidak dihargai.”

3. Jangan buru-buru membela diri

“Aku tidak ingin menggunakan stres yang sedang kualami sebagai alasan.”

4. Nyatakan penyesalan

“Aku benar-benar menyesal.”

5. Tawarkan perbaikan

“Lain kali kalau aku mulai emosi, aku akan berhenti dulu sebelum melanjutkan percakapan.”

6. Berikan ruang

“Aku memahami kalau kamu masih membutuhkan waktu.”

Yang membuat permintaan maaf kuat bukanlah jumlah kata yang digunakan.

Melainkan kesediaan untuk mengakui, memperbaiki, dan berubah.

Permintaan Maaf Bukan Sekadar Kata “Maaf”

Pada akhirnya, meminta maaf adalah bentuk komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengucapkan satu kata.

Kita mungkin mengira bahwa orang lain membutuhkan permintaan maaf karena mereka ingin mendengar kata “maaf”. Padahal sering kali yang mereka butuhkan adalah sesuatu yang lebih dalam:

pengakuan bahwa luka mereka nyata, pemahaman bahwa kesalahan tersebut tidak dianggap sepele, dan keyakinan bahwa perilaku yang sama tidak akan terus berulang.

Itulah mengapa seseorang bisa berkata “maaf” berkali-kali tetapi tidak pernah benar-benar memperbaiki hubungan.

Sebaliknya, seseorang dapat memberikan permintaan maaf yang singkat, tenang, dan tanpa drama—namun terasa jauh lebih tulus karena setelahnya mereka benar-benar berubah.

Mungkin itulah bagian tersulit dari meminta maaf:

kita tidak hanya diminta mengakui bahwa kita salah, tetapi juga bersedia menanggung ketidaknyamanan setelah mengakuinya.

Kita mungkin tidak langsung dimaafkan.

Kita mungkin tidak mendapatkan respons yang kita harapkan.

Kita bahkan mungkin harus menerima bahwa orang lain membutuhkan jarak.

Tetapi justru di situlah kedewasaan emosional terlihat.

Karena permintaan maaf yang sehat tidak berkata:

“Aku sudah minta maaf. Sekarang buat aku merasa lebih baik.”

Ia berkata:

“Aku menyadari kesalahanku. Aku memahami dampaknya. Aku bersedia memperbaikinya, dan aku menghormati prosesmu.”

Dan terkadang, bentuk permintaan maaf terbaik bukanlah kata-kata yang semakin panjang.

Melainkan perilaku yang akhirnya berubah.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore