seseorang yang menjadi pemecah masalah / foto: Magnific/gpointstudio
Ada orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi mudah panik ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana. Ada juga orang yang mungkin tidak selalu menjadi yang paling berpengetahuan di ruangan, tetapi mampu menemukan jalan keluar ketika orang lain sudah kehabisan ide.
Perbedaannya sering kali bukan sekadar kecerdasan.
Salah satu faktor penting adalah cara seseorang berpikir ketika menghadapi masalah.
Pemecah masalah yang kreatif tidak selalu mencari jawaban yang paling cepat. Mereka cenderung mampu melihat persoalan dari berbagai sudut, menunda penilaian, menghubungkan informasi yang tampaknya tidak berkaitan, dan mencoba pendekatan baru ketika cara lama tidak berhasil.
Menariknya, kemampuan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya bawaan sejak lahir. Banyak aspek dari kreativitas dan pemecahan masalah dapat dilatih melalui kebiasaan sehari-hari.
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa cara kita memperhatikan informasi, membingkai masalah, mengambil keputusan, dan belajar dari kesalahan dapat memengaruhi kemampuan kita dalam menghasilkan solusi.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), jika kamu ingin menjadi seseorang yang lebih kreatif dalam menghadapi persoalan sehari-hari, tujuh kebiasaan berikut layak dilatih.
1. Biasakan bertanya, “Apakah ada cara lain?”
Salah satu kebiasaan paling sederhana untuk meningkatkan kreativitas adalah berhenti menganggap solusi pertama sebagai satu-satunya solusi.
Ketika menghadapi masalah, otak manusia cenderung menggunakan pola yang sudah dikenal. Jika suatu cara pernah berhasil sebelumnya, kita akan lebih mudah menggunakannya lagi.
Ini memang efisien.
Namun, efisiensi tidak selalu menghasilkan kreativitas.
Misalnya, ketika koneksi internet di rumah bermasalah, seseorang mungkin langsung berpikir bahwa satu-satunya solusi adalah menghubungi penyedia layanan. Padahal, mungkin masalahnya berasal dari router, perangkat tertentu, konfigurasi jaringan, atau bahkan gangguan sederhana pada sambungan listrik.
Orang yang terbiasa berpikir kreatif akan memberikan ruang untuk kemungkinan lain.
Mereka bertanya:
“Apa kemungkinan penyebab lainnya?”
“Kalau cara ini tidak bisa dilakukan, apa alternatifnya?”
“Bagaimana jika saya melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda?”
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu kita keluar dari pola berpikir yang terlalu sempit.
Dalam psikologi kognitif, kemampuan menghasilkan beberapa kemungkinan solusi berkaitan dengan divergent thinking, yaitu kecenderungan untuk memperluas kemungkinan sebelum memilih satu jawaban.
Kamu bisa melatihnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika menghadapi masalah kecil, jangan langsung berhenti setelah menemukan satu solusi. Paksa dirimu menghasilkan setidaknya tiga alternatif.
Tidak semuanya harus bagus.
Tujuannya adalah melatih otak agar tidak terlalu cepat mengunci diri pada satu cara berpikir.
Semakin sering kamu melakukan ini, semakin terbiasa otakmu melihat bahwa sebuah masalah tidak selalu memiliki satu jalan keluar.
2. Latih diri untuk mendefinisikan masalah dengan benar
Terkadang masalah terbesar bukanlah kurangnya solusi.
Masalah sebenarnya adalah kita sedang mencoba menyelesaikan masalah yang salah.
Bayangkan seseorang berkata:
“Masalah saya adalah saya tidak punya cukup waktu.”
Jika diperiksa lebih dalam, mungkin persoalannya bukan benar-benar kekurangan waktu.
Bisa jadi dia terlalu sering berpindah tugas, terlalu banyak menerima permintaan orang lain, terlalu sering memeriksa ponsel, atau tidak memiliki prioritas yang jelas.
Jika definisi masalahnya hanya “saya tidak punya waktu”, solusi yang muncul mungkin berupa bekerja lebih cepat.
Namun jika masalah sebenarnya adalah “saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal yang tidak penting”, solusinya menjadi berbeda.
Inilah mengapa pemecah masalah yang kreatif tidak terburu-buru bertanya:
“Bagaimana cara menyelesaikannya?”
Mereka terlebih dahulu bertanya:
“Sebenarnya apa masalahnya?”
Kebiasaan ini sangat penting karena cara kita membingkai sebuah persoalan dapat menentukan jenis solusi yang kita lihat.
Cobalah ketika menghadapi masalah untuk menuliskannya dalam satu kalimat.
Kemudian tanyakan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang saya anggap sebagai penyebabnya?
Apakah asumsi saya benar?
Apa yang sebenarnya ingin saya ubah?
Jika saya menjelaskan masalah ini kepada orang lain, bagaimana saya akan menjelaskannya?
Kadang-kadang, setelah masalah ditulis dengan lebih jelas, sebagian dari kebingungan sudah mulai menghilang.
3. Biasakan mengumpulkan perspektif dari hal-hal yang berbeda
Kreativitas sering muncul ketika otak berhasil menghubungkan dua hal yang sebelumnya terlihat tidak berkaitan.
Karena itu, jika kamu ingin menjadi pemecah masalah yang kreatif, jangan hanya mengonsumsi informasi dari satu bidang.
Baca buku dengan topik berbeda.
Pelajari sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaanmu.
Berbicara dengan orang yang memiliki cara berpikir berbeda.
Perhatikan bagaimana orang lain menyelesaikan masalah mereka.
Mengapa?
Karena pengetahuan yang beragam memberikan lebih banyak “bahan” bagi otak untuk membuat hubungan baru.
Misalnya, seseorang yang bekerja dalam bisnis mungkin mendapatkan inspirasi dari cara restoran mengatur antrean pelanggan.
Seorang guru mungkin mendapatkan ide untuk mengelola kelas dari cara sebuah komunitas olahraga membangun kedisiplinan.
Seorang penulis mungkin menemukan cara baru menyusun cerita setelah mempelajari psikologi manusia.
Kreativitas bukan selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol.
Sering kali kreativitas adalah menggabungkan sesuatu yang sudah ada dengan cara yang baru.
Karena itu, perluas bahan bakar mentalmu.
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang dilakukan orang dalam bidang saya?”
Tambahkan pertanyaan:
“Bagaimana orang dari bidang lain menyelesaikan masalah yang mirip?”
Pertanyaan tersebut dapat membuka perspektif yang sebelumnya tidak terlihat.
4. Biasakan menuliskan ide sebelum menilainya
Salah satu penghambat kreativitas yang sering muncul adalah terlalu cepat mengkritik ide sendiri.
Baru mendapat sebuah gagasan, kita langsung berkata:
“Tidak mungkin.”
“Kayaknya tidak masuk akal.”
“Orang lain pasti tidak suka.”
“Itu terlalu sulit.”
“Sudah pernah dicoba.”
Akibatnya, banyak ide mati sebelum sempat dikembangkan.
Pemecah masalah yang kreatif memahami bahwa menghasilkan ide dan menilai ide adalah dua proses yang berbeda.
Ketika sedang mencari kemungkinan, berikan dirimu izin untuk menghasilkan ide yang buruk.
Tuliskan semuanya.
Setelah itu barulah lakukan evaluasi.
Misalnya kamu sedang mencari cara untuk menghemat pengeluaran.
Jangan langsung menilai setiap ide.
Tulis sebanyak mungkin:
mengurangi langganan yang tidak digunakan,
memasak lebih sering,
menggunakan transportasi berbeda,
membeli barang bekas untuk kebutuhan tertentu,
berbagi langganan yang memang diperbolehkan,
membuat anggaran mingguan,
menunda pembelian non-esensial,
dan sebagainya.
Setelah semua kemungkinan terkumpul, baru tanyakan:
“Mana yang realistis?”
“Mana yang paling berdampak?”
“Mana yang bisa saya coba sekarang?”
Pemisahan antara menghasilkan dan mengevaluasi ide membantu menciptakan ruang mental bagi kemungkinan baru.
5. Biasakan bereksperimen dalam skala kecil
Banyak orang takut mencoba solusi baru karena mereka membayangkan bahwa setiap keputusan harus langsung benar.
Padahal, pemecahan masalah kreatif sering kali lebih efektif jika diperlakukan seperti eksperimen.
Daripada bertanya:
“Apa solusi sempurna untuk masalah ini?”
cobalah bertanya:
“Apa eksperimen kecil yang bisa saya lakukan untuk mengetahui apakah ide ini bekerja?”
Misalnya kamu merasa produktivitasmu buruk ketika bekerja dari rumah.
Kamu tidak perlu langsung mengubah seluruh gaya hidup.
Cobalah eksperimen sederhana:
Selama tiga hari, bekerja tanpa notifikasi selama dua jam pertama.
Kemudian lihat hasilnya.
Jika membantu, pertahankan.
Jika tidak membantu, ubah pendekatan.
Cara berpikir seperti ini mengurangi ketakutan terhadap kegagalan.
Sebuah percobaan yang tidak berhasil tidak harus dianggap sebagai kegagalan total.
Ia bisa menjadi informasi.
Kamu belajar:
“Cara ini tidak terlalu efektif dalam kondisi seperti ini.”
Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk eksperimen berikutnya.
Inilah salah satu pola pikir penting dari pemecah masalah yang baik:
mereka tidak hanya mencari jawaban; mereka mengumpulkan informasi melalui tindakan.
6. Berikan otak waktu untuk berhenti sejenak
Ini mungkin terdengar bertentangan dengan produktivitas.
Namun terkadang, solusi terbaik justru muncul ketika kita berhenti memaksa diri untuk menemukan solusi.
Ketika terus-menerus memikirkan sebuah masalah, perhatian kita dapat menjadi terlalu sempit. Kita terus mengulang pola pemikiran yang sama.
“Bagaimana caranya?”
“Kenapa tidak berhasil?”
“Apa yang salah?”
“Harus bagaimana?”
Kemudian kita merasa buntu.
Pada situasi tertentu, mengambil jeda dapat membantu karena otak tetap memproses informasi setelah kita berhenti secara sadar memikirkannya. Dalam penelitian kreativitas, fenomena ini sering dikaitkan dengan incubation, yaitu periode ketika seseorang beralih dari masalah dan kemudian kembali dengan perspektif yang lebih segar.
Karena itu, jika kamu sedang benar-benar buntu, tidak selalu bijaksana untuk terus duduk menatap masalah.
Berjalan sebentar.
Mandi.
Tidur.
Mengerjakan aktivitas sederhana.
Berolahraga.
Berbicara dengan seseorang.
Kemudian kembali lagi.
Bukan berarti semua masalah akan tiba-tiba mendapatkan jawaban ketika kamu berhenti memikirkannya.
Namun memberi jeda dapat membantu mengurangi kejenuhan mental dan memungkinkanmu melihat persoalan dengan cara yang berbeda.
Kadang-kadang solusi bukan datang ketika kita berpikir lebih keras.
Solusi datang ketika kita memberi ruang bagi otak untuk berpikir secara berbeda.
7. Biasakan bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari kesalahan ini?”
Kebiasaan terakhir mungkin yang paling penting.
Orang yang kreatif bukan orang yang selalu benar.
Mereka juga mengalami kegagalan, salah mengambil keputusan, menghasilkan ide buruk, dan membuat kesalahan.
Perbedaannya terletak pada apa yang mereka lakukan setelahnya.
Ada orang yang mengalami kegagalan lalu menyimpulkan:
“Saya memang tidak bisa.”
Ada pula yang berkata:
“Apa yang sebenarnya menyebabkan ini gagal?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berguna.
Misalnya kamu mencoba mengatur jadwal baru tetapi tidak berhasil menjalankannya.
Daripada mengatakan:
“Saya tidak disiplin.”
Coba analisis:
Apakah jadwalnya terlalu padat?
Apakah targetnya tidak realistis?
Apakah saya tidak memperhitungkan waktu istirahat?
Apakah ada terlalu banyak gangguan?
Apakah saya membuat terlalu banyak keputusan dalam satu hari?
Bagian mana yang sebenarnya berjalan dengan baik?
Dengan cara ini, kegagalan berubah menjadi data.
Kamu tidak sekadar mengalami sesuatu.
Kamu belajar dari sesuatu.
Pola pikir seperti ini juga membantu membangun apa yang sering disebut sebagai growth mindset: melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui latihan, strategi, dan pembelajaran.
Bukan berarti seseorang harus selalu berpikir positif.
Justru sebaliknya.
Kamu perlu cukup jujur untuk mengakui:
“Cara saya tadi tidak berhasil.”
Tetapi kemudian lanjutkan dengan:
“Sekarang saya tahu sesuatu yang sebelumnya tidak saya ketahui.”
Itulah cara pengalaman berubah menjadi kemampuan.
Kreativitas Bukan Berarti Selalu Mendapat Ide Brilian
Ada kesalahpahaman bahwa orang kreatif adalah orang yang setiap hari mendapatkan ide luar biasa.
Padahal, kreativitas dalam kehidupan sehari-hari sering kali jauh lebih sederhana.
Kreativitas bisa berarti menemukan cara yang lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan.
Menemukan pendekatan baru ketika komunikasi dengan seseorang tidak berjalan baik.
Mengubah strategi ketika rencana pertama gagal.
Melihat masalah dari perspektif orang lain.
Menghubungkan pengalaman lama dengan masalah baru.
Atau sekadar berani bertanya:
“Apakah ada cara yang lebih baik?”
Dengan kata lain, kreativitas bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang spektakuler.
Kreativitas juga merupakan kemampuan untuk merespons situasi yang tidak terduga dengan fleksibel.
Dan kemampuan tersebut dapat dilatih.
Mulailah dari Masalah-Masalah Kecil
Kamu tidak perlu menunggu menghadapi masalah besar untuk melatih kemampuan ini.
Mulailah dari kehidupan sehari-hari.
Ketika rencana perjalanan berubah, cari alternatif.
Ketika pekerjaan menumpuk, cari cara berbeda untuk mengaturnya.
Ketika percakapan menjadi sulit, coba lihat situasi dari perspektif orang lain.
Ketika sebuah metode tidak berhasil, jangan langsung menyerah.
Ketika mendapatkan sebuah ide, tuliskan sebelum menghakiminya.
Dan ketika melakukan kesalahan, jangan hanya bertanya:
“Kenapa saya gagal?”
Tanyakan juga:
“Informasi apa yang baru saja saya dapatkan?”
Sedikit demi sedikit, kamu sedang melatih pola pikir yang lebih fleksibel.
Pada Akhirnya, Pemecah Masalah Kreatif Bukan Orang yang Selalu Punya Jawaban
Mereka adalah orang yang tidak cepat kehabisan kemungkinan.
Ketika satu cara gagal, mereka mencari cara lain.
Ketika sebuah asumsi ternyata salah, mereka bersedia mengubahnya.
Ketika informasi baru muncul, mereka menyesuaikan strategi.
Ketika sebuah ide terlihat buruk, mereka tetap memberinya kesempatan untuk dievaluasi.
Dan ketika mereka gagal, mereka mencoba mengubah kegagalan tersebut menjadi informasi untuk langkah berikutnya.
Jika kamu ingin mengembangkan kemampuan ini, mulailah dengan tujuh kebiasaan sederhana:
1. Tanyakan apakah ada cara lain.
2. Definisikan masalah sebelum mencari solusi.
3. Cari perspektif dari berbagai sumber.
4. Pisahkan proses menghasilkan ide dari proses menilai ide.
5. Eksperimen dalam skala kecil.
6. Berikan otak waktu untuk beristirahat dan melakukan inkubasi.
7. Jadikan kesalahan sebagai bahan pembelajaran.
Kamu tidak harus menjadi orang paling pintar di ruangan untuk menjadi pemecah masalah yang kreatif.
Terkadang yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk melihat sebuah masalah sedikit lebih lama, mengajukan pertanyaan yang berbeda, dan tidak menganggap solusi pertama sebagai solusi terakhir.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
