Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 04.03 WIB

8 Alasan Mengapa Orang-Orang Selalu Mendambakan iPhone Keluaran Terbaru Menurut Psikologi

seseorang yang mendambakan iphone terbaru / foto: Magnific/wayhomestudio

 

JawaPos.com - Setiap kali Apple memperkenalkan iPhone generasi terbaru, perhatian publik seolah kembali tertuju pada satu pertanyaan yang sama: apa yang berubah, dan apakah saya perlu menggantinya dengan yang terbaru?

Menariknya, keinginan untuk memiliki iPhone terbaru tidak selalu muncul karena kebutuhan teknis. Banyak orang sebenarnya masih memiliki ponsel yang berfungsi dengan baik, kameranya masih bagus, baterainya masih cukup, dan performanya masih mampu menjalankan hampir semua aktivitas sehari-hari.

Namun ketika generasi baru diperkenalkan, muncul perasaan bahwa perangkat yang sebelumnya terasa memuaskan tiba-tiba terlihat biasa saja.

Dalam psikologi, fenomena seperti ini dapat dijelaskan melalui berbagai mekanisme: kebutuhan akan status, perbandingan sosial, efek kelangkaan, dorongan untuk mendapatkan sesuatu yang baru, hingga cara manusia membangun identitas melalui benda yang mereka gunakan.

Tentu saja, tidak semua orang membeli iPhone terbaru karena alasan psikologis yang sama. Ada yang memang membutuhkan kamera lebih baik, performa lebih tinggi, fitur tertentu, atau masa pakai yang lebih panjang. Akan tetapi, di balik keputusan membeli, sering terdapat faktor psikologis yang bekerja tanpa kita sadari.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), terdapat 8 alasan mengapa banyak orang selalu mendambakan iPhone keluaran terbaru menurut perspektif psikologi.

1. Manusia Secara Alami Tertarik pada Sesuatu yang Baru

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena manusia memiliki kecenderungan untuk tertarik pada kebaruan.

Sesuatu yang baru memberikan rangsangan berbeda dari apa yang sudah biasa kita lihat. Ketika sebuah iPhone baru diperkenalkan, desain, kamera, fitur, warna, sistem operasi, dan cara pemasarannya memberikan pengalaman psikologis yang berbeda.

Bayangkan seseorang telah menggunakan ponsel yang sama selama dua atau tiga tahun.

Pada awalnya, ponsel tersebut terasa luar biasa.

Beberapa bulan kemudian, menjadi biasa.

Setahun kemudian, mulai terasa monoton.

Kemudian muncul generasi baru dengan tampilan yang lebih menarik.

Secara psikologis, perhatian kita kembali terpicu.

Masalahnya, rasa bosan terhadap barang lama sering disalahartikan sebagai kebutuhan terhadap barang baru.

Padahal kedua hal tersebut berbeda.

Kita mungkin tidak benar-benar membutuhkan perangkat baru. Kita hanya mulai kehilangan sensasi menyenangkan yang dahulu muncul ketika pertama kali memiliki perangkat tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa teknologi konsumen memiliki siklus yang sangat kuat: barang lama perlahan menjadi bagian dari rutinitas, sementara barang baru memberikan kembali rasa penasaran dan antusiasme.

Karena itu, ketika seseorang melihat iPhone terbaru, yang muncul bukan hanya pertanyaan:

“Apa manfaatnya?”

Tetapi juga:

“Seperti apa rasanya kalau saya memilikinya?”

Pertanyaan kedua sering kali jauh lebih emosional.

2. iPhone Bukan Hanya Ponsel, tetapi Juga Simbol Status

Dalam psikologi sosial, manusia sering menggunakan benda yang dimilikinya untuk menyampaikan sesuatu mengenai dirinya kepada orang lain.

Pakaian, mobil, jam tangan, rumah, hingga smartphone dapat menjadi bagian dari sinyal sosial.

iPhone, bagi sebagian orang, tidak sekadar alat komunikasi. Ia dapat menjadi simbol tertentu: modern, sukses, mengikuti perkembangan teknologi, atau memiliki kemampuan finansial.

Ketika seseorang mengeluarkan iPhone terbaru dari sakunya, orang lain mungkin langsung mengenali mereknya.

Hal tersebut menciptakan nilai simbolis.

Menariknya, simbol status tidak selalu bekerja secara sadar.

Seseorang mungkin berkata:

“Saya membeli karena kameranya lebih bagus.”

Dan itu bisa benar.

Namun pada saat yang sama, ada kemungkinan bahwa faktor lain juga ikut memengaruhi keputusan tersebut: rasa bangga, prestise, atau keinginan untuk memiliki sesuatu yang dianggap bernilai tinggi.

Di sinilah psikologi menjadi menarik.

Manusia tidak selalu membeli benda hanya berdasarkan fungsi objektifnya.

Kita juga membeli makna yang melekat pada benda tersebut.

Sebuah ponsel bisa digunakan untuk menelepon, mengirim pesan, bekerja, dan mengambil foto. Tetapi merek dan model tertentu juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang mempresentasikan dirinya.

Dengan kata lain, bagi sebagian orang, iPhone terbaru menjawab bukan hanya pertanyaan:

“Apa yang bisa dilakukan benda ini?”

tetapi juga:

“Apa yang benda ini katakan tentang saya?”

3. Perbandingan Sosial Membuat Ponsel Lama Terlihat Kurang Menarik

Manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dalam psikologi sosial, hal ini dikenal sebagai social comparison.

Kita membandingkan penampilan, karier, pendapatan, gaya hidup, rumah, kendaraan, bahkan perangkat elektronik.

Masalahnya, media sosial membuat proses tersebut berlangsung jauh lebih intens.

Dulu, seseorang mungkin hanya mengetahui ponsel yang digunakan oleh teman, keluarga, atau rekan kerja.

Sekarang, kita dapat melihat ratusan orang menggunakan perangkat terbaru dalam satu hari.

Influencer menggunakannya.

Selebritas menggunakannya.

Teman mengunggah foto ketika membelinya.

Konten unboxing muncul di berbagai platform.

Video perbandingan kamera memenuhi lini masa.

Akhirnya, kita mulai mendapatkan persepsi bahwa “semua orang sudah punya yang baru.”

Padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Media sosial memiliki kecenderungan memperbesar hal-hal yang menarik perhatian. Orang yang baru membeli perangkat biasanya lebih terdorong untuk membagikan pengalaman tersebut dibandingkan orang yang masih menggunakan perangkat lama tanpa masalah.

Akibatnya, otak kita dapat memperoleh gambaran yang tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan sebenarnya.

Kita melihat banyak orang membeli iPhone terbaru, lalu mulai berpikir:

“Kenapa saya masih menggunakan yang lama?”

Padahal beberapa hari sebelumnya kita mungkin sama sekali tidak merasa ada masalah dengan ponsel tersebut.

4. Fear of Missing Out atau FOMO

Alasan berikutnya adalah FOMO — fear of missing out, yaitu kekhawatiran bahwa kita tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang dinikmati orang lain.

FOMO sangat mudah muncul ketika produk baru diluncurkan.

Pemasaran produk teknologi sering membuat konsumen merasa bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang penting.

Ada generasi baru.

Ada fitur baru.

Ada desain baru.

Ada kamera baru.

Ada pengalaman baru.

Dan orang lain sudah mulai membicarakannya.

Perasaan tersebut dapat menciptakan tekanan psikologis:

“Kalau saya tidak memilikinya sekarang, saya akan ketinggalan.”

Padahal “ketinggalan” dan “tidak membutuhkan” adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa saja menggunakan iPhone generasi sebelumnya selama bertahun-tahun dan tetap dapat berkomunikasi, bekerja, belajar, membuat konten, serta menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun FOMO tidak bekerja terutama melalui logika.

Ia bekerja melalui perasaan kehilangan kesempatan.

Manusia sering kali lebih sensitif terhadap kemungkinan kehilangan daripada memperoleh sesuatu yang nilainya setara.

Karena itu, kemungkinan “tidak memiliki sesuatu yang sedang populer” dapat terasa lebih menyakitkan daripada manfaat nyata yang sebenarnya diperoleh dari membeli barang tersebut.

5. Efek Kelangkaan Membuat Sesuatu Terlihat Lebih Berharga

Psikologi juga mengenal fenomena scarcity effect atau efek kelangkaan.

Ketika sesuatu dianggap terbatas, eksklusif, atau sulit diperoleh, manusia cenderung menilainya lebih tinggi.

Dalam dunia teknologi, sensasi ini dapat muncul melalui berbagai cara.

Misalnya, ketika sebuah model atau warna tertentu dikatakan cepat habis, stok terbatas, atau harus menunggu beberapa minggu.

Secara psikologis, muncul pikiran:

“Kalau banyak orang menginginkannya dan sulit mendapatkannya, berarti benda ini sangat berharga.”

Padahal kelangkaan tidak otomatis berarti kebutuhan kita meningkat.

Namun otak manusia sering menghubungkan keterbatasan dengan nilai.

Itulah mengapa seseorang yang awalnya tidak terlalu tertarik dapat berubah pikiran ketika mendengar bahwa produk tertentu sulit diperoleh.

Menariknya, dorongan tersebut bisa semakin kuat ketika orang melihat orang lain berusaha mendapatkannya.

Jika seseorang melihat antrean panjang untuk sebuah produk, ia dapat menyimpulkan:

“Kalau orang-orang rela melakukan itu, pasti produknya istimewa.”

Padahal secara objektif, kualitas suatu produk harus dinilai berdasarkan manfaat dan kebutuhannya, bukan semata-mata berdasarkan seberapa banyak orang menginginkannya.

6. iPhone Dapat Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Manusia memiliki kebutuhan untuk membangun dan mempertahankan identitas.

Kita ingin mengetahui siapa diri kita dan bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain.

Karena itu, benda yang kita gunakan dapat menjadi bagian dari identitas.

Seseorang mungkin menganggap dirinya sebagai:

orang yang menyukai teknologi,
orang yang mengikuti perkembangan zaman,
orang yang menghargai desain,
orang yang kreatif,
profesional,
pembuat konten,
atau seseorang yang menyukai produk premium.

Dalam konteks tersebut, iPhone terbaru dapat menjadi bagian dari cerita tentang dirinya.

Pembelian bukan lagi sekadar:

“Saya membeli smartphone.”

Tetapi:

“Saya adalah orang yang menggunakan teknologi terbaru.”

Inilah mengapa perubahan perangkat kadang terasa seperti perubahan identitas.

Ketika seseorang telah mengasosiasikan dirinya dengan teknologi terbaru, menggunakan perangkat lama dapat menciptakan perasaan tidak nyaman.

Bahkan jika secara teknis perangkat tersebut masih sangat memadai.

Ada perbedaan antara memiliki barang dan menjadikan barang sebagai bagian dari diri.

Semakin kuat hubungan identitas tersebut, semakin emosional keputusan pembelian yang muncul.

7. Efek “Upgrade” Membuat Kita Merasa Sedang Berkembang

Ada satu hal menarik dalam psikologi manusia: kita menyukai perasaan bahwa hidup kita bergerak maju.

Kita ingin merasa lebih baik daripada sebelumnya.

Karier meningkat.

Pendapatan bertambah.

Rumah menjadi lebih baik.

Keterampilan berkembang.

Dan dalam skala kecil, memiliki perangkat baru juga dapat memberikan sensasi kemajuan.

Ketika seseorang mengganti iPhone lama dengan generasi terbaru, ia mungkin merasakan:

“Saya naik level.”

Perasaan tersebut sebenarnya bukan hanya tentang teknologi.

Ia berkaitan dengan progress.

Barang baru menjadi simbol perubahan.

Seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan mungkin membeli perangkat baru sebagai hadiah untuk dirinya sendiri.

Seseorang yang berhasil mencapai target finansial mungkin merasa pantas membeli sesuatu yang sebelumnya tidak mampu ia beli.

Dalam situasi seperti itu, iPhone terbaru menjadi semacam simbol pencapaian pribadi.

Hal ini tidak selalu buruk.

Membeli sesuatu sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya harus terus membeli barang baru agar dapat merasa berhasil.

Jika kebahagiaan dan harga diri terlalu bergantung pada konsumsi, siklusnya dapat menjadi tidak ada habisnya.

Generasi baru muncul.

Kita membeli.

Beberapa waktu kemudian muncul generasi berikutnya.

Kita kembali merasa tertinggal.

Dan siklus dimulai lagi.

8. Pemasaran Membuat Keinginan Terasa Seperti Kebutuhan

Alasan terakhir yang sangat penting adalah cara produk dipasarkan.

Perusahaan teknologi tidak hanya menjual spesifikasi.

Mereka menjual pengalaman, aspirasi, gaya hidup, dan kemungkinan tentang diri kita di masa depan.

Sebuah kamera tidak hanya dipresentasikan sebagai kamera.

Ia bisa digambarkan sebagai alat untuk menangkap momen penting.

Sebuah layar tidak hanya ditampilkan sebagai layar.

Ia dikaitkan dengan pengalaman hiburan yang lebih imersif.

Performa tidak hanya dijelaskan dalam angka.

Ia dikaitkan dengan produktivitas dan kreativitas.

Desain tidak hanya dibicarakan sebagai bentuk.

Ia dikaitkan dengan keanggunan dan identitas.

Strategi seperti ini sangat efektif karena manusia tidak hanya membeli berdasarkan kebutuhan rasional.

Kita juga membeli berdasarkan emosi dan gambaran masa depan yang kita inginkan.

Ketika melihat iklan produk baru, seseorang dapat membayangkan dirinya menggunakan perangkat tersebut dalam kehidupan yang lebih ideal.

Mungkin terlihat lebih produktif.

Lebih kreatif.

Lebih modern.

Lebih profesional.

Lebih keren.

Padahal produk itu sendiri belum tentu mengubah kehidupan secara drastis.

Namun gambaran emosional yang menyertainya dapat membuat keinginan terasa seperti kebutuhan.

Mengapa Kita Sering Menginginkan iPhone Baru Padahal iPhone Lama Masih Bagus?

Pertanyaan ini sebenarnya merupakan inti dari semuanya.

Jika perangkat lama masih berfungsi dengan baik, mengapa perangkat baru terasa begitu menarik?

Jawabannya adalah karena nilai psikologis dan nilai fungsional tidak selalu sama.

Secara fungsional, perbedaan antara dua generasi smartphone mungkin tidak terasa besar bagi pengguna tertentu.

Namun secara psikologis, perbedaannya bisa terasa sangat besar.

Perangkat baru dapat memberikan:

sensasi kebaruan,
rasa bangga,
validasi sosial,
identitas tertentu,
rasa mengikuti zaman,
pengalaman memiliki sesuatu yang eksklusif,
dan perasaan bahwa hidup sedang bergerak maju.

Jadi, seseorang mungkin tidak benar-benar membutuhkan ponsel baru.

Ia mungkin menginginkan perasaan yang muncul ketika memiliki ponsel baru.

Dan itu merupakan perbedaan yang sangat penting.

Apakah Keinginan Membeli iPhone Terbaru Itu Buruk?

Tidak.

Keinginan membeli barang baru merupakan hal yang normal.

Jika seseorang mampu membelinya, membutuhkan fitur tertentu, dan pembelian tersebut tidak mengganggu kondisi keuangannya, tidak ada yang salah dengan memilih perangkat terbaru.

Masalahnya muncul ketika keputusan tersebut tidak lagi berasal dari kebutuhan atau kemampuan, tetapi dari tekanan psikologis.

Misalnya:

“Saya harus membelinya karena semua teman saya sudah punya.”

Atau:

“Saya merasa malu menggunakan model lama.”

Atau:

“Kalau saya tidak memiliki yang terbaru, berarti saya tidak sukses.”

Pada titik tersebut, keputusan membeli bukan lagi sekadar keputusan teknologi.

Ia telah menjadi keputusan tentang harga diri dan penerimaan sosial.

Padahal nilai seseorang tidak ditentukan oleh generasi smartphone yang berada di tangannya.

Cara Mengetahui Apakah Kita Benar-Benar Membutuhkan iPhone Baru

Sebelum membeli perangkat terbaru, cobalah bertanya kepada diri sendiri beberapa pertanyaan sederhana.

Pertama, apakah ponsel saya saat ini benar-benar menghambat aktivitas saya?

Jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan kebutuhan.

Kedua, fitur apa yang benar-benar saya perlukan?

Jangan hanya mengatakan “lebih bagus”. Tentukan manfaat konkret yang akan diperoleh.

Ketiga, apakah saya ingin membelinya karena kebutuhan atau karena melihat orang lain memilikinya?

Pertanyaan ini membantu mengidentifikasi pengaruh perbandingan sosial.

Keempat, apakah saya akan tetap menginginkannya jika tidak ada seorang pun yang tahu bahwa saya membelinya?

Ini merupakan pertanyaan yang sangat menarik.

Jika jawabannya tetap ya, kemungkinan keinginan tersebut memang berasal dari preferensi pribadi.

Namun jika keinginan langsung berkurang karena tidak ada orang lain yang akan melihatnya, mungkin faktor status sosial memainkan peran yang lebih besar.

Kelima, apakah pembelian ini sesuai dengan kondisi keuangan saya?

Keinginan terhadap teknologi terbaru seharusnya tidak membuat seseorang mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Kesimpulan

Ketertarikan terhadap iPhone keluaran terbaru bukan semata-mata persoalan teknologi.

Di balik keinginan tersebut dapat terdapat berbagai mekanisme psikologis: ketertarikan terhadap kebaruan, kebutuhan akan status, perbandingan sosial, FOMO, efek kelangkaan, identitas diri, keinginan untuk merasa berkembang, dan pengaruh pemasaran.

Itulah sebabnya seseorang bisa merasa sangat puas dengan ponselnya hari ini, tetapi beberapa minggu kemudian tiba-tiba merasa bahwa perangkat tersebut sudah “ketinggalan”.

Padahal perangkatnya tidak berubah.

Yang berubah adalah persepsi kita terhadapnya.

Ketika generasi baru hadir, standar dalam pikiran kita ikut bergeser. Apa yang kemarin terasa canggih tiba-tiba terasa biasa. Apa yang kemarin terasa cukup tiba-tiba terasa kurang.

Pada akhirnya, memiliki iPhone terbaru bukan sesuatu yang salah.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa kita menginginkannya.

Jika kita membelinya karena benar-benar membutuhkan fitur, menyukai desainnya, mampu membelinya, dan merasa pembelian tersebut memberikan manfaat, itu adalah keputusan pribadi yang masuk akal.

Namun jika kita membelinya hanya karena takut dianggap tertinggal, ingin mendapatkan validasi, atau merasa harga diri bergantung pada perangkat yang digunakan, mungkin ada baiknya berhenti sejenak.

Karena terkadang, yang sebenarnya kita cari bukanlah smartphone terbaru, melainkan perasaan bahwa diri kita cukup, berhasil, dan tidak tertinggal dari orang lain.

Dan memahami perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan psikologis adalah salah satu cara terbaik agar teknologi tetap menjadi alat yang kita kendalikan—bukan sesuatu yang mengendalikan kita.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore