Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Agustus 2026 | 04.35 WIB

Jika Anda Ingin Menjadi Versi Terbaik dari Diri Anda, Lakukan 8 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menjadi versi terbaik dari dirinya / foto: Magnific/benzoix

 

JawaPos.com - Menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan berarti harus menjadi manusia yang sempurna. Anda tidak harus selalu produktif, selalu percaya diri, selalu bahagia, atau memiliki kehidupan yang terlihat hebat di mata orang lain.

Dalam psikologi, perkembangan diri lebih sering dipandang sebagai sebuah proses. Kita belajar mengenali diri, memahami emosi, memperbaiki kebiasaan, menghadapi kegagalan, membangun hubungan yang sehat, dan secara perlahan bergerak menuju kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai yang kita anggap penting.

Masalahnya, banyak orang ingin berubah tetapi menggunakan cara yang justru membuat mereka semakin lelah. Mereka terlalu keras kepada diri sendiri, membandingkan hidup dengan orang lain, mengejar kesempurnaan, atau membuat perubahan besar yang sulit dipertahankan.

Padahal, perubahan yang bertahan lama sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), jika Anda benar-benar ingin menjadi versi terbaik dari diri Anda, berikut 8 cara yang dapat diterapkan berdasarkan berbagai prinsip dalam psikologi.

1. Kenali Diri Anda Sebelum Berusaha Mengubah Diri

Salah satu kesalahan terbesar dalam proses pengembangan diri adalah terlalu cepat ingin berubah tanpa memahami siapa diri kita sebenarnya.

Anda mungkin berkata:

"Saya ingin lebih percaya diri."

"Saya ingin lebih disiplin."

"Saya ingin berhenti overthinking."

"Saya ingin menjadi lebih sukses."

Namun, sebelum bertanya bagaimana cara berubah, ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Mengapa saya seperti ini?

Mengenali diri sendiri berarti belajar memahami pola pikiran, emosi, kebiasaan, kebutuhan, kekuatan, kelemahan, serta nilai-nilai yang Anda miliki.

Misalnya, seseorang merasa dirinya malas. Setelah melakukan refleksi, ternyata masalahnya bukan kemalasan. Ia terlalu takut gagal sehingga terus menunda pekerjaan.

Orang lain mungkin merasa dirinya tidak percaya diri. Setelah memahami dirinya lebih dalam, ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia terbiasa membandingkan dirinya dengan orang lain.

Artinya, perilaku yang terlihat di permukaan sering kali memiliki penyebab yang lebih dalam.

Cobalah meluangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Hal apa yang paling sering membuat saya cemas?
Dalam situasi apa saya merasa paling percaya diri?
Kebiasaan buruk apa yang terus saya ulangi?
Apa yang sebenarnya saya takutkan?
Nilai apa yang paling penting bagi saya?
Apakah kehidupan saya saat ini sesuai dengan nilai tersebut?

Anda juga dapat menggunakan jurnal sebagai alat refleksi.

Tidak perlu menulis panjang. Bahkan lima sampai sepuluh menit sehari sudah cukup untuk mulai memperhatikan pola dalam diri Anda.

Anda tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak Anda pahami.

Karena itu, perubahan diri yang sehat biasanya dimulai dari kesadaran diri.

2. Berhenti Menunggu Motivasi dan Mulailah Membangun Kebiasaan

Banyak orang berpikir bahwa mereka harus merasa termotivasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

"Saya akan mulai olahraga ketika sudah semangat."

"Saya akan membaca ketika sedang mood."

"Saya akan bekerja ketika sudah merasa termotivasi."

Masalahnya, motivasi manusia tidak stabil.

Ada hari ketika Anda merasa bersemangat. Ada pula hari ketika Anda tidak ingin melakukan apa pun.

Jika seluruh kehidupan Anda bergantung pada motivasi, perubahan akan menjadi sangat sulit.

Karena itu, salah satu pendekatan yang lebih efektif adalah membangun kebiasaan.

Daripada berkata:

"Saya ingin membaca lebih banyak."

Ubahlah menjadi:

"Saya akan membaca 10 halaman setiap malam sebelum tidur."

Daripada:

"Saya ingin berolahraga."

Buat menjadi:

"Saya akan berjalan kaki selama 15 menit setelah makan sore."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi sangat penting.

Tujuan memberi Anda arah, sedangkan kebiasaan membantu Anda bergerak menuju arah tersebut secara konsisten.

Anda juga tidak harus memulai dengan sesuatu yang besar.

Justru, memulai terlalu besar sering membuat seseorang cepat menyerah.

Jika Anda ingin membangun kebiasaan baru, buatlah perilakunya sederhana, spesifik, dan mudah dilakukan.

Lima menit membaca tetap lebih baik daripada rencana membaca satu jam yang tidak pernah dilakukan.

Sepuluh push-up tetap lebih baik daripada program olahraga ekstrem yang hanya bertahan tiga hari.

Perubahan besar sering kali merupakan hasil dari tindakan kecil yang diulang berkali-kali.

3. Belajar Mengelola Pikiran, Bukan Mempercayai Semua Pikiran

Setiap hari manusia menghasilkan begitu banyak pikiran.

Sebagian membantu.

Sebagian netral.

Sebagian lainnya justru membuat kita takut, cemas, atau merasa tidak berharga.

Masalahnya, kita sering memperlakukan setiap pikiran seolah-olah merupakan fakta.

Misalnya Anda melakukan kesalahan di tempat kerja.

Kemudian muncul pikiran:

"Saya memang tidak pintar."

"Saya selalu gagal."

"Orang lain pasti menganggap saya bodoh."

Jika Anda langsung mempercayai pikiran tersebut, emosi negatif dapat menjadi semakin kuat.

Padahal, pikiran bukan selalu fakta.

Cobalah belajar mengambil jarak dari pikiran Anda.

Alih-alih berkata:

"Saya tidak mampu."

Coba katakan:

"Saya sedang berpikir bahwa saya tidak mampu."

Perubahan kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi dapat membantu Anda melihat pikiran sebagai sesuatu yang sedang muncul dalam kesadaran, bukan sebagai kebenaran mutlak.

Ketika muncul pikiran negatif, tanyakan:

"Apa buktinya?"

"Apakah ada kemungkinan penjelasan lain?"

"Jika teman saya mengalami hal yang sama, apa yang akan saya katakan kepadanya?"

Pertanyaan seperti ini dapat membantu Anda melihat situasi secara lebih seimbang.

Menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan berarti tidak pernah memiliki pikiran negatif.

Justru, Anda belajar untuk tidak dikendalikan oleh setiap pikiran yang muncul.

4. Perlakukan Diri Sendiri dengan Lebih Berbelas Kasih

Ada orang yang sangat baik kepada orang lain tetapi sangat kejam kepada dirinya sendiri.

Ketika temannya gagal, ia berkata:

"Tidak apa-apa. Semua orang bisa melakukan kesalahan."

Namun ketika dirinya sendiri gagal, ia berkata:

"Saya bodoh."

"Saya memang tidak berguna."

"Saya seharusnya bisa lebih baik."

Jika pola ini terus berlangsung, perkembangan diri dapat berubah menjadi bentuk tekanan terhadap diri sendiri.

Dalam psikologi terdapat konsep self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika mengalami kesulitan, kegagalan, atau kekurangan.

Self-compassion bukan berarti memanjakan diri atau membenarkan semua kesalahan.

Justru sebaliknya.

Anda tetap mengakui kesalahan, tetapi tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai identitas diri.

Misalnya:

"Saya melakukan kesalahan dalam pekerjaan ini. Saya perlu memperbaikinya."

lebih sehat daripada:

"Saya melakukan kesalahan karena saya memang orang yang bodoh."

Perhatikan perbedaannya.

Kalimat pertama mengevaluasi perilaku.

Kalimat kedua menyerang identitas diri.

Ketika Anda gagal, cobalah bertanya:

"Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?"

bukan hanya:

"Mengapa saya selalu seperti ini?"

Orang yang mampu belajar dari kesalahan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dibandingkan orang yang menghabiskan seluruh energinya untuk menyalahkan diri sendiri.

5. Berhenti Membandingkan Kehidupan Anda dengan Orang Lain

Media sosial membuat perbandingan sosial menjadi semakin mudah.

Anda melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian.

Orang lain membeli rumah.

Teman Anda menikah.

Orang lain bepergian ke berbagai negara.

Seseorang terlihat memiliki tubuh ideal.

Kemudian Anda melihat kehidupan sendiri dan berpikir:

"Kenapa hidup saya belum seperti mereka?"

Masalahnya, Anda sering membandingkan kehidupan nyata Anda dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang mereka tampilkan.

Anda melihat hasilnya, tetapi tidak melihat seluruh proses di belakangnya.

Anda melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat kegagalan.

Anda melihat senyum, tetapi tidak mengetahui seluruh masalah yang mungkin sedang mereka hadapi.

Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat membuat seseorang kehilangan penghargaan terhadap kemajuan dirinya sendiri.

Karena itu, salah satu perbandingan yang lebih sehat adalah:

Bandingkan diri Anda dengan diri Anda yang sebelumnya.

Apakah hari ini Anda lebih disiplin daripada beberapa bulan lalu?

Apakah Anda sekarang lebih mampu mengendalikan emosi?

Apakah Anda lebih berani mengatakan tidak?

Apakah Anda lebih memahami kebutuhan diri sendiri?

Apakah Anda mulai meninggalkan kebiasaan yang merusak?

Kemajuan tidak selalu terlihat spektakuler.

Kadang-kadang kemajuan berarti Anda tidak lagi bereaksi terhadap sesuatu dengan cara yang sama seperti dulu.

Dan itu tetap merupakan perkembangan.

6. Keluar dari Zona Nyaman Secara Bertahap

Pertumbuhan sering terjadi ketika kita melakukan sesuatu yang sedikit lebih sulit daripada yang biasa kita lakukan.

Namun, keluar dari zona nyaman bukan berarti memaksa diri melakukan sesuatu yang sangat menakutkan secara tiba-tiba.

Jika Anda sangat takut berbicara di depan umum, misalnya, Anda tidak harus langsung memberikan presentasi di depan ratusan orang.

Anda bisa mulai dari:

berbicara dalam kelompok kecil,
menyampaikan pendapat dalam rapat,
merekam diri sendiri berbicara,
melakukan presentasi singkat,
kemudian secara bertahap meningkatkan tantangannya.

Dengan menghadapi tantangan secara bertahap, Anda memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar bahwa sesuatu yang awalnya terasa menakutkan ternyata dapat dihadapi.

Hal yang sama berlaku dalam banyak aspek kehidupan.

Ingin lebih percaya diri?

Berlatihlah melakukan hal-hal kecil yang biasanya Anda hindari.

Ingin lebih mandiri?

Ambil keputusan kecil tanpa terus-menerus meminta validasi orang lain.

Ingin lebih disiplin?

Tetapkan satu komitmen kecil dan tepati setiap hari.

Pertumbuhan tidak selalu terasa nyaman.

Tetapi ada perbedaan antara ketidaknyamanan yang membantu Anda berkembang dan situasi yang benar-benar merusak kesehatan atau keselamatan Anda.

Tujuannya bukan membuat hidup selalu sulit.

Tujuannya adalah memperluas kemampuan Anda menghadapi kehidupan.

7. Pilih Lingkungan yang Mendukung Pertumbuhan Anda

Manusia bukan hanya dibentuk oleh keputusan pribadi. Lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku.

Jika Anda terus berada dalam lingkungan yang penuh dengan kebiasaan buruk, tekanan, atau orang-orang yang selalu merendahkan usaha Anda, mempertahankan perubahan bisa menjadi lebih sulit.

Sebaliknya, lingkungan yang sehat dapat membuat perilaku positif terasa lebih mudah.

Perhatikan orang-orang yang paling sering Anda ajak berinteraksi.

Apakah mereka mendorong Anda untuk berkembang?

Apakah Anda dapat menjadi diri sendiri ketika bersama mereka?

Apakah mereka menghargai batasan Anda?

Apakah mereka mendukung ketika Anda mencoba sesuatu yang baru?

Anda tidak harus memutuskan hubungan dengan semua orang yang berbeda dari Anda.

Tetapi Anda perlu menyadari bahwa lingkungan dapat memengaruhi cara Anda berpikir, merasa, dan bertindak.

Selain manusia, lingkungan juga mencakup apa yang Anda konsumsi setiap hari.

Apa yang Anda lihat di media sosial?

Apa yang Anda dengarkan?

Konten seperti apa yang memenuhi pikiran Anda?

Jika setiap hari Anda mengonsumsi konten yang membuat Anda merasa kurang, tertinggal, atau tidak cukup baik, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali lingkungan digital Anda.

Menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan hanya tentang menambahkan sesuatu ke dalam hidup.

Kadang-kadang, Anda juga perlu mengurangi hal-hal yang terus menarik Anda kembali ke pola lama.

8. Tentukan Kehidupan Seperti Apa yang Benar-Benar Bermakna bagi Anda

Pada akhirnya, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan tentang menjadi orang yang paling sukses menurut standar dunia.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Sukses menurut siapa?"

Anda mungkin mengejar sesuatu karena semua orang mengatakan bahwa itulah tanda keberhasilan.

Gaji tinggi.

Jabatan tinggi.

Rumah besar.

Popularitas.

Pengakuan.

Namun, setelah mendapatkannya, Anda tetap merasa kosong.

Mengapa?

Karena tujuan tersebut mungkin tidak benar-benar berasal dari nilai pribadi Anda.

Dalam psikologi positif dan pendekatan psikologis lainnya, kehidupan yang bermakna berkaitan dengan memiliki tujuan, nilai, hubungan, dan aktivitas yang terasa penting bagi diri seseorang.

Karena itu, luangkan waktu untuk menentukan apa yang benar-benar penting bagi Anda.

Mungkin bagi Anda, kehidupan yang baik berarti memiliki keluarga yang dekat.

Bagi orang lain, mungkin berarti kebebasan.

Bagi orang lain lagi, mungkin berarti menciptakan sesuatu, membantu orang lain, belajar, atau memiliki kehidupan yang sederhana dan tenang.

Tidak ada satu definisi kehidupan terbaik yang berlaku untuk semua orang.

Anda tidak harus menjalani kehidupan orang lain hanya karena kehidupan tersebut terlihat menarik dari luar.

Versi terbaik dari diri Anda adalah versi yang semakin selaras dengan nilai-nilai yang benar-benar Anda yakini.

Jangan Berusaha Mengubah Seluruh Hidup Anda Sekaligus

Setelah membaca delapan cara di atas, mungkin Anda merasa ingin memperbaiki semuanya sekaligus.

Lebih disiplin.

Lebih sehat.

Lebih percaya diri.

Lebih produktif.

Lebih tenang.

Lebih sukses.

Lebih bahagia.

Namun, jangan membuat kesalahan dengan mencoba melakukan semuanya dalam satu waktu.

Pilih satu area terlebih dahulu.

Misalnya, selama 30 hari Anda fokus membangun kebiasaan tidur lebih teratur.

Setelah mulai stabil, Anda dapat menambahkan kebiasaan olahraga.

Kemudian membaca.

Kemudian mengatur waktu.

Perubahan yang bertahan lama biasanya tidak terlihat dramatis pada awalnya.

Ia terlihat seperti seseorang yang bangun sedikit lebih pagi.

Seseorang yang memilih berjalan kaki daripada terus duduk.

Seseorang yang mulai mengatakan "tidak" ketika memang tidak sanggup.

Seseorang yang berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan masa lalu.

Seseorang yang akhirnya berani mencoba sesuatu yang selama ini ditakuti.

Hari demi hari, tindakan kecil tersebut membentuk pola baru.

Dan pola baru secara perlahan membentuk kehidupan baru.

Anda Tidak Harus Menjadi Orang Lain

Pada akhirnya, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukanlah perlombaan untuk menjadi seperti orang lain.

Anda tidak harus memiliki kehidupan seperti teman Anda.

Anda tidak harus memiliki karier seperti orang lain.

Anda tidak harus terlihat seperti orang yang Anda lihat di media sosial.

Anda juga tidak harus mencapai semuanya secepat orang lain.

Setiap orang memiliki kondisi, pengalaman, kemampuan, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa Anda terus bergerak.

Mungkin langkah Anda hari ini kecil.

Tidak masalah.

Yang penting adalah Anda bergerak ke arah yang benar.

Kenali diri Anda. Bangun kebiasaan yang sehat. Kelola pikiran. Perlakukan diri dengan lebih baik. Berhenti membandingkan diri. Berani menghadapi tantangan. Pilih lingkungan yang mendukung. Dan jalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Anda.

Karena versi terbaik dari diri Anda bukanlah seseorang yang tidak memiliki kekurangan.

Versi terbaik dari diri Anda adalah seseorang yang mengenal dirinya, menerima bahwa dirinya masih memiliki kekurangan, tetapi tetap bersedia belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri setiap hari.

Dan mungkin, itulah bentuk perkembangan diri yang paling realistis:

Bukan menjadi sempurna, tetapi menjadi sedikit lebih baik daripada diri Anda yang kemarin.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore