Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 22.41 WIB

Jika Anda Merasa Tidak Nyaman oleh Salah Seorang Teman Kerja, Lakukan 7 Kebiasaan Ini untuk Melawannya Menurut Psikologi

seseorang yang tidak nyaman dengan teman kerja / foto: Magnific/h9images

 

JawaPos.com - Lingkungan kerja yang sehat seharusnya menjadi tempat setiap orang dapat berkembang, berkolaborasi, dan merasa dihargai. Namun, kenyataannya tidak semua hubungan di kantor berjalan harmonis. Ada kalanya seseorang merasa tidak nyaman dengan salah satu rekan kerja karena sikapnya yang sinis, suka meremehkan, terlalu mengontrol, gemar bergosip, atau bahkan sering menciptakan konflik.
 
Perasaan tidak nyaman ini bukan sesuatu yang sepele. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, kesehatan mental, hingga kepuasan terhadap pekerjaan. Menurut berbagai penelitian psikologi organisasi, cara seseorang merespons perilaku negatif di tempat kerja memiliki pengaruh besar terhadap tingkat stres yang dirasakan.

Kabar baiknya, Anda tidak harus membalas sikap negatif dengan perilaku yang sama. Justru, psikologi menyarankan beberapa kebiasaan sehat yang dapat membantu menjaga ketenangan sekaligus melindungi diri dari pengaruh buruk hubungan kerja yang tidak sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (24/7), terdapat tujuh kebiasaan yang bisa Anda mulai terapkan.

1. Jangan Langsung Menganggap Semua Hal Bersifat Pribadi

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap setiap komentar atau perilaku negatif rekan kerja sebagai serangan terhadap diri sendiri.

Dalam psikologi, banyak perilaku kasar atau menyebalkan sebenarnya lebih mencerminkan kondisi emosional pelakunya daripada kualitas orang yang menjadi sasaran. Bisa jadi ia sedang mengalami tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau memiliki kemampuan komunikasi yang kurang baik.

Ini bukan berarti Anda harus memaklumi semua perlakuan buruk. Namun, memisahkan antara perilaku orang lain dan harga diri Anda dapat membantu mengurangi beban emosional.

Ketika tidak lagi mengambil semuanya secara pribadi, Anda akan lebih mudah berpikir jernih dan menentukan respons yang tepat.

2. Tetapkan Batasan yang Jelas

Psikolog menekankan pentingnya memiliki batasan atau boundaries yang sehat di lingkungan kerja.

Jika seorang rekan sering mengganggu waktu istirahat, meminta bantuan di luar tanggung jawab Anda, atau berbicara dengan cara yang tidak sopan, jangan ragu untuk menyampaikan batasan secara tegas namun tetap profesional.

Misalnya, Anda bisa mengatakan:

"Saya akan membantu setelah pekerjaan utama saya selesai."

atau

"Mari kita bahas dengan nada yang tetap profesional agar komunikasi lebih efektif."

Batasan bukanlah bentuk permusuhan. Sebaliknya, batasan membantu menciptakan hubungan kerja yang lebih sehat dan saling menghormati.

3. Fokus pada Fakta, Bukan Emosi

Ketika menghadapi rekan kerja yang sulit, emosi sering kali mengambil alih. Akibatnya, seseorang mudah bereaksi secara impulsif.

Psikologi kognitif menyarankan untuk berlatih memisahkan fakta dari interpretasi.

Sebagai contoh:

Fakta: Rekan kerja memotong pembicaraan Anda saat rapat.
Interpretasi: Ia pasti membenci saya.

Belum tentu interpretasi tersebut benar.

Dengan berpegang pada fakta, Anda dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, misalnya berbicara langsung secara baik-baik atau meminta kesempatan menyampaikan pendapat pada rapat berikutnya.

4. Bangun Hubungan Positif dengan Rekan Kerja Lain

Jangan biarkan satu orang membuat Anda merasa sendirian di kantor.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa dukungan dari lingkungan kerja dapat menjadi pelindung terhadap stres. Memiliki hubungan baik dengan rekan lain membuat Anda merasa lebih dihargai dan memiliki tempat untuk berdiskusi secara sehat.

Namun, hindari menjadikan dukungan sosial sebagai ajang bergosip. Fokuslah membangun kerja sama, saling membantu, dan menciptakan suasana kerja yang positif.

5. Latih Kemampuan Mengelola Emosi

Mengendalikan emosi bukan berarti memendam perasaan.

Sebaliknya, ini berarti mengenali apa yang Anda rasakan dan memilih respons yang paling bermanfaat.

Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

menarik napas dalam sebelum merespons;
menunda membalas email ketika sedang marah;
berjalan sebentar saat emosi mulai meningkat;
menuliskan apa yang dirasakan sebelum berbicara.

Kemampuan mengelola emosi atau emotional regulation terbukti membantu seseorang menghadapi konflik dengan lebih efektif dan mengurangi risiko penyesalan akibat tindakan impulsif.

6. Dokumentasikan Jika Perilaku Sudah Berlebihan

Tidak semua ketidaknyamanan dapat diselesaikan dengan komunikasi biasa.

Jika perilaku rekan kerja mulai mengarah pada intimidasi, pelecehan verbal, diskriminasi, atau tindakan yang melanggar kebijakan perusahaan, dokumentasikan setiap kejadian secara objektif.

Catat:

tanggal dan waktu kejadian;
lokasi;
apa yang diucapkan atau dilakukan;
siapa saja yang menjadi saksi.

Dokumentasi dapat membantu apabila masalah perlu dilaporkan kepada atasan atau bagian sumber daya manusia (HR). Pastikan catatan yang dibuat berisi fakta, bukan dugaan atau opini.

7. Jangan Ragu Mencari Bantuan Jika Situasi Terus Berlanjut

Banyak orang memilih bertahan dalam situasi kerja yang tidak sehat karena takut dianggap lemah.

Padahal, menurut psikologi, mencari bantuan merupakan bentuk kemampuan mengatasi masalah (coping) yang sehat.

Jika konflik tidak kunjung membaik, Anda dapat berdiskusi dengan:

atasan langsung;
bagian HR;
mentor di tempat kerja;
atau profesional kesehatan mental jika situasi mulai memengaruhi kondisi psikologis Anda.

Meminta bantuan bukan berarti Anda gagal menyelesaikan masalah sendiri. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa Anda peduli terhadap kesehatan mental dan kualitas pekerjaan.

Mengapa Kebiasaan Ini Efektif?

Ketujuh kebiasaan di atas memiliki satu tujuan utama, yaitu membantu Anda mempertahankan kendali atas respons sendiri. Dalam psikologi, seseorang tidak selalu bisa mengubah perilaku orang lain, tetapi dapat belajar mengelola cara berpikir, emosi, dan tindakan yang berada dalam kendalinya.

Pendekatan ini membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus menjaga hubungan profesional tetap berjalan tanpa harus terjebak dalam konflik yang berkepanjangan.

Penutup

Merasa tidak nyaman dengan salah seorang teman kerja adalah pengalaman yang cukup umum. Namun, kondisi tersebut tidak harus menguasai kehidupan profesional Anda. Dengan menerapkan kebiasaan seperti tidak mengambil semuanya secara pribadi, menetapkan batasan yang sehat, fokus pada fakta, membangun dukungan sosial, mengelola emosi, mendokumentasikan perilaku yang bermasalah, serta mencari bantuan ketika diperlukan, Anda dapat menghadapi situasi tersebut dengan lebih tenang dan bijaksana.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental di tempat kerja sama pentingnya dengan menyelesaikan tugas sehari-hari. Lingkungan kerja mungkin tidak selalu bisa Anda pilih, tetapi cara Anda meresponsnya dapat menjadi kunci untuk tetap produktif, profesional, dan sejahtera.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore