Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Juni 2026 | 05.33 WIB

Menurut Psikologi, Orang yang Lebih Memilih Dibenci daripada Berbohong Biasanya Memiliki 8 Karakteristik Ini

seseorang yang tidak suka berbohong./Freepik/gzorgz - Image

seseorang yang tidak suka berbohong./Freepik/gzorgz

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, banyak orang memilih jalan aman: berkata manis meski tidak jujur, menyembunyikan kebenaran demi diterima, atau berbohong kecil agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Namun, ada tipe individu yang justru mengambil pilihan sebaliknya—mereka lebih rela dibenci daripada harus berbohong.

Bagi sebagian orang, sikap ini terlihat keras, dingin, bahkan tidak berempati. Padahal, menurut psikologi, pilihan tersebut sering kali berakar pada karakter dan nilai yang kuat, bukan sekadar keinginan untuk bersikap kasar. Orang-orang ini tidak mengejar popularitas, melainkan keutuhan diri.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan karakteristik psikologis yang umumnya dimiliki oleh orang yang lebih memilih dibenci daripada berbohong.

1. Memiliki Integritas yang Sangat Tinggi

Integritas adalah kesesuaian antara apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Orang yang enggan berbohong biasanya menempatkan integritas sebagai prinsip utama hidupnya. Bagi mereka, kebohongan—sekecil apa pun—adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Secara psikologis, individu dengan integritas tinggi cenderung memiliki konsep diri yang stabil. Mereka tidak membutuhkan validasi eksternal untuk merasa bernilai. Akibatnya, ancaman berupa penolakan sosial tidak cukup kuat untuk memaksa mereka mengorbankan kejujuran.

2. Lebih Takut Kehilangan Harga Diri daripada Kehilangan Penerimaan Sosial

Banyak orang takut dibenci karena penolakan sosial dapat memicu kecemasan dan rasa tidak aman. Namun, pada tipe ini, ketakutan terbesar bukanlah dibenci orang lain, melainkan kehilangan rasa hormat terhadap diri sendiri.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan internal locus of evaluation—mereka menilai diri berdasarkan standar internal, bukan opini orang lain. Berbohong demi diterima terasa jauh lebih menyakitkan dibanding konsekuensi sosial dari kejujuran.

3. Emosionalnya Relatif Matang

Kejujuran yang konsisten membutuhkan kematangan emosi. Orang yang memilih berkata jujur meski tidak disukai umumnya mampu menoleransi ketidaknyamanan emosional, seperti rasa bersalah, konflik, atau kesepian sementara.

Mereka tidak reaktif secara emosional dan tidak langsung merasa hancur hanya karena tidak disukai. Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai emotional regulation—kemampuan mengelola emosi tanpa melarikan diri melalui kebohongan.

4. Sangat Menghargai Autentisitas

Autentisitas adalah kondisi ketika seseorang hidup sesuai dengan nilai, keyakinan, dan perasaan aslinya. Orang-orang ini cenderung alergi terhadap kepalsuan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Berpura-pura baik, berpihak, atau setuju hanya demi diterima terasa melelahkan bagi mereka. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa hidup tidak autentik dalam jangka panjang dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan perasaan hampa—sesuatu yang ingin mereka hindari.

5. Tidak Suka Manipulasi Emosional

Berbohong sering kali berkaitan dengan manipulasi: mengatur persepsi orang lain agar kita terlihat lebih baik, lebih aman, atau lebih disukai. Orang yang memilih kejujuran biasanya tidak nyaman dengan dinamika ini.

Mereka ingin relasi yang dibangun atas dasar kenyataan, bukan ilusi. Secara psikologis, ini menunjukkan orientasi hubungan yang sehat, meski berisiko memiliki lingkar sosial yang lebih kecil namun lebih tulus.

6. Berani Bertanggung Jawab atas Konsekuensi

Kejujuran tidak selalu membawa hasil menyenangkan. Bisa saja memicu konflik, kehilangan hubungan, atau dicap sebagai “tidak punya perasaan”. Orang yang tetap jujur menyadari risiko ini dan bersedia menanggungnya.

Dalam psikologi kepribadian, hal ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab personal yang tinggi. Mereka tidak menyalahkan orang lain atas reaksi negatif terhadap kejujuran mereka, karena sejak awal sadar bahwa setiap pilihan memiliki harga.

7. Lebih Logis daripada Populis

Individu seperti ini cenderung membuat keputusan berdasarkan prinsip dan logika, bukan berdasarkan apa yang akan membuat mereka paling disukai. Mereka tidak mencari persetujuan mayoritas jika itu berarti harus mengorbankan kebenaran.

Secara kognitif, mereka lebih tahan terhadap tekanan sosial (social pressure resistance). Ini membuat mereka sering terlihat “berseberangan” atau “berbeda”, padahal sebenarnya mereka hanya konsisten dengan nilai pribadi.

8. Memahami bahwa Dibenci Tidak Selalu Berarti Salah

Tidak semua kebencian muncul karena kesalahan. Kadang, seseorang dibenci justru karena ia mengatakan hal yang tidak ingin didengar orang lain. Individu yang memilih jujur memahami perbedaan ini.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore