Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Juni 2026 | 18.26 WIB

7 Hal Sebaiknya Jangan Pernah Anda Katakan kepada Seseorang Sedang Berjuang? Bahkan dengan Niat Baik Sekalipun

seseorang yang mengatakan hal buruk kepada orang yang sedang berjuang./Magnific/sodawhiskey - Image

seseorang yang mengatakan hal buruk kepada orang yang sedang berjuang./Magnific/sodawhiskey

JawaPos.com - Ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit—entah karena kehilangan pekerjaan, masalah keuangan, kegagalan dalam hubungan, tekanan akademik, penyakit, atau pergumulan mental—kebanyakan dari kita ingin membantu. Kita ingin menghibur, memberi semangat, dan menunjukkan bahwa kita peduli.

Namun, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.

Dalam psikologi komunikasi, terdapat konsep bahwa pesan tidak hanya dinilai dari maksud pengirimnya, tetapi juga dari bagaimana pesan tersebut diterima oleh penerima. Kalimat yang terdengar memotivasi bagi satu orang bisa terasa meremehkan, menghakimi, atau bahkan menyakitkan bagi orang lain yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Sering kali, kata-kata yang paling melukai justru datang dari orang-orang yang sebenarnya peduli. Bukan karena mereka tidak memiliki empati, melainkan karena mereka berusaha memperbaiki keadaan terlalu cepat tanpa terlebih dahulu memahami apa yang dirasakan lawan bicaranya.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (12/6), terdapat tujuh kalimat yang sebaiknya dihindari ketika berbicara dengan seseorang yang sedang berjuang, beserta penjelasan psikologis mengapa kalimat tersebut dapat berdampak negatif.

1. “Kamu harus lebih bersyukur.”

Sekilas, kalimat ini terdengar positif. Bersyukur memang terbukti dalam banyak penelitian psikologi positif dapat meningkatkan kesejahteraan emosional.

Masalahnya, waktu penyampaiannya sering tidak tepat.

Ketika seseorang sedang mengalami kesedihan atau tekanan berat, mengatakan “kamu harus lebih bersyukur” dapat membuat mereka merasa bahwa emosi yang sedang mereka alami tidak valid. Seolah-olah mereka tidak berhak merasa sedih karena masih ada orang lain yang keadaannya lebih buruk.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai emotional invalidation atau pengabaian terhadap pengalaman emosional seseorang.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore