Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Mei 2026 | 04.29 WIB

Jika Seseorang Memposting 10 Hal Ini Secara Rutin, Mereka Mungkin Sedang Menutupi Kurangnya Pencapaian Nyata Menurut Psikologi

seseorang yang menutupi kekurangan / foto: Magnific/benzoix - Image

seseorang yang menutupi kekurangan / foto: Magnific/benzoix

JawaPos.com - Di era media sosial, batas antara kehidupan nyata dan pencitraan semakin kabur. Banyak orang menggunakan platform digital untuk berbagi momen penting, pencapaian, atau sekadar hiburan. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa apa yang diposting seseorang secara terus-menerus sering kali bukan sekadar ekspresi diri biasa. Dalam banyak kasus, unggahan yang terlalu berlebihan justru dapat menjadi mekanisme kompensasi.

Fenomena ini bukan berarti semua orang yang aktif di media sosial pasti memiliki masalah. Tidak juga berarti setiap unggahan tentang kesuksesan adalah kebohongan. Tetapi menurut berbagai penelitian psikologi sosial dan perilaku manusia, ada pola tertentu yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin sedang berusaha menutupi rasa tidak aman, kekosongan identitas, atau kurangnya pencapaian nyata di dunia offline.

Menariknya, semakin seseorang merasa kurang puas dengan dirinya sendiri, semakin besar dorongan untuk membangun citra ideal di hadapan publik. Media sosial menjadi panggung yang sempurna untuk itu.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (20/5), terdapat 10 jenis postingan yang sering muncul ketika seseorang sedang berusaha menutupi kurangnya pencapaian nyata menurut sudut pandang psikologi.

1. Terlalu Sering Memamerkan Kesibukan

“Lagi sibuk banget.” “Kerja sampai lupa tidur.” “No days off.”

Sekilas, unggahan seperti ini terlihat produktif. Namun psikologi perilaku menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan citra “sibuk” untuk menciptakan ilusi penting dan bernilai.

Dalam budaya modern, kesibukan sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Akibatnya, banyak orang merasa harus terlihat selalu bekerja agar dianggap relevan.

Padahal, orang yang benar-benar produktif biasanya lebih fokus pada hasil daripada pertunjukan aktivitas. Mereka tidak perlu terus-menerus memberi tahu orang lain bahwa mereka sibuk.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai performative productivity — perilaku yang lebih menekankan tampilan produktif dibanding produktivitas itu sendiri.

Orang yang belum memiliki pencapaian konkret sering mengganti hasil nyata dengan narasi kerja keras tanpa akhir.

2. Motivasi Berlebihan Setiap Hari

Unggahan motivasi bukan sesuatu yang buruk. Tetapi jika seseorang setiap hari memposting kutipan sukses, mindset miliarder, atau nasihat kehidupan padahal kehidupannya sendiri tidak stabil, itu bisa menjadi sinyal kompensasi psikologis.

Menurut teori self-enhancement, manusia cenderung menampilkan versi diri yang ingin mereka percayai.

Artinya, seseorang yang terus-menerus berbicara tentang disiplin, kesuksesan, atau mental juara mungkin sebenarnya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Ada perbedaan besar antara:

Orang yang benar-benar menjalani prinsip hidup tertentu
Orang yang terus membicarakannya karena belum berhasil menerapkannya

Ironisnya, semakin keras seseorang mencoba terlihat kuat secara mental di media sosial, terkadang semakin besar konflik internal yang sedang mereka alami.

3. Pamer Gaya Hidup Mewah Secara Konstan

Foto hotel mahal. Makanan premium. Mobil mewah. Barang bermerek.

Psikologi konsumen menemukan bahwa sebagian orang menggunakan simbol status untuk meningkatkan harga diri mereka.

Fenomena ini disebut compensatory consumption — membeli atau memamerkan sesuatu untuk menutupi rasa kurang dalam diri.

Orang yang benar-benar mapan biasanya tidak merasa perlu membuktikan status sosialnya setiap saat.

Sebaliknya, individu yang belum merasa aman secara identitas sering menjadikan barang sebagai alat validasi.

Mereka ingin terlihat sukses bahkan sebelum benar-benar mencapai stabilitas yang nyata.

Media sosial memperkuat perilaku ini karena validasi datang cepat dalam bentuk like, komentar, dan perhatian.

4. Terlalu Banyak Bicara Tentang “Haters”

Kalimat seperti:

“Banyak yang iri.”
“Orang sukses pasti punya haters.”
“Biarkan mereka membenci.”

sering digunakan untuk menciptakan kesan bahwa dirinya penting atau berhasil.

Padahal dalam banyak kasus, tidak ada konflik besar yang benar-benar terjadi.

Psikologi ego menunjukkan bahwa sebagian orang menciptakan narasi seolah mereka sedang “diperhatikan banyak orang” demi meningkatkan rasa penting dalam diri.

Ini disebut imagined audience effect — keyakinan bahwa orang lain sangat memikirkan kita, padahal kenyataannya tidak sebesar itu.

Menariknya, orang yang benar-benar sukses cenderung lebih fokus pada pekerjaan mereka daripada sibuk membahas siapa yang membenci mereka.

5. Mengumumkan Rencana Besar Sebelum Ada Hasil

“Ada proyek besar coming soon.” “Tunggu gebrakan berikutnya.” “Big things are coming.”

Psikologi menemukan bahwa mengumumkan tujuan di depan publik dapat memberi sensasi pencapaian palsu.

Ketika seseorang mendapat respons positif hanya karena membicarakan rencana, otak menerima sedikit dopamin seolah target itu sudah tercapai.

Akibatnya, motivasi untuk benar-benar bekerja justru bisa menurun.

Orang yang minim pencapaian nyata terkadang lebih menikmati membangun antisipasi daripada menyelesaikan sesuatu.

Mereka jatuh cinta pada citra “akan sukses” dibanding proses panjang untuk benar-benar berhasil.

6. Terlalu Sering Mencari Validasi Emosional

Contohnya:

Posting sedih agar ditanya orang
Membuat status ambigu penuh drama
Mengeluh secara terselubung
Menghapus posting jika sedikit respons

Menurut psikologi attachment dan kebutuhan sosial, manusia memang membutuhkan perhatian dan koneksi.

Namun ketika seseorang terus-menerus mencari validasi online, itu bisa menunjukkan adanya kekosongan emosional atau harga diri yang rapuh.

Like dan komentar menjadi sumber pengakuan diri.

Masalahnya, validasi digital hanya bersifat sementara.

Semakin seseorang bergantung pada respons publik untuk merasa berharga, semakin rentan kondisi emosinya.

7. Selalu Ingin Terlihat Paling Benar

Orang yang terus:

Menggurui semua topik
Merasa paling sadar
Merasa lebih pintar dari orang lain
Sering merendahkan pendapat berbeda

kadang sebenarnya sedang menutupi rasa tidak aman intelektual.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan overcompensation.

Ketika seseorang merasa kurang kompeten di dalam dirinya, mereka bisa menampilkan superioritas berlebihan untuk menutupi ketakutan tersebut.

Menariknya, individu yang benar-benar berpengetahuan biasanya lebih terbuka terhadap diskusi dan tidak merasa perlu memenangkan semua perdebatan.

Mereka nyaman dengan fakta bahwa mereka tidak tahu segalanya.

8. Terlalu Banyak Menampilkan Hubungan “Sempurna”

Pasangan harmonis memang ada. Namun penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang terlalu sering memamerkan hubungan romantis di media sosial terkadang justru memiliki kepuasan hubungan yang lebih rendah.

Mengapa?

Karena sebagian orang menggunakan media sosial untuk mencari validasi atas hubungan mereka.

Semakin tidak aman hubungan tersebut, semakin besar kebutuhan untuk menunjukkan kepada publik bahwa semuanya baik-baik saja.

Ini bukan aturan mutlak, tetapi pola ini cukup sering ditemukan.

Hubungan yang sehat biasanya lebih banyak dinikmati secara pribadi daripada dipertontonkan terus-menerus.

9. Mengubah Semua Hal Menjadi Branding Diri

Setiap aktivitas selalu diarahkan untuk membangun citra:

Sedang membaca → harus difoto
Sedang olahraga → harus diposting
Sedang kerja → harus direkam
Sedang membantu orang → harus diumumkan

Fenomena ini berkaitan dengan identity performance.

Di media sosial, sebagian orang mulai kehilangan batas antara hidup nyata dan karakter online.

Mereka tidak lagi melakukan sesuatu karena benar-benar ingin melakukannya, tetapi karena aktivitas itu cocok dengan citra yang ingin dibangun.

Akibatnya, hidup berubah menjadi pertunjukan permanen.

Ironisnya, semakin sibuk seseorang membangun branding personal tanpa fondasi nyata, semakin kosong identitas aslinya.

10. Terobsesi Terlihat Sukses, Bukan Menjadi Sukses

Ini adalah inti dari semuanya.

Ada perbedaan besar antara:

Membangun kehidupan yang baik
Membangun tampilan kehidupan yang baik

Psikologi modern menunjukkan bahwa sebagian orang lebih fokus pada simbol kesuksesan dibanding substansi.

Mereka ingin terlihat kaya sebelum stabil. Mereka ingin terlihat bahagia sebelum damai. Mereka ingin terlihat berpengaruh sebelum benar-benar memberi dampak.

Media sosial membuat hal ini semakin mudah karena persepsi sering lebih dihargai daripada realitas.

Namun masalahnya, pencitraan membutuhkan energi besar untuk dipertahankan.

Cepat atau lambat, seseorang akan lelah jika kehidupan nyata mereka tidak sejalan dengan citra yang dibangun.

Mengapa Orang Melakukan Ini?

Penting untuk dipahami bahwa perilaku seperti ini sering kali bukan lahir dari niat jahat.

Banyak orang melakukannya karena:

Ingin diterima
Takut dianggap gagal
Memiliki harga diri rendah
Merasa tertinggal dibanding orang lain
Kesepian
Haus pengakuan
Tidak memiliki identitas yang kuat

Media sosial memperbesar tekanan sosial.

Kita terus melihat pencapaian orang lain setiap hari. Akibatnya, banyak individu merasa hidup mereka tidak cukup menarik jika tidak dipoles.

Lama-kelamaan, muncullah kebutuhan untuk menciptakan versi diri yang lebih “layak ditampilkan.”

Orang yang Benar-Benar Berhasil Biasanya Tidak Terlalu Sibuk Membuktikan Diri

Salah satu pola paling menarik dalam psikologi adalah ini:

Semakin seseorang benar-benar percaya pada nilainya, semakin kecil kebutuhan mereka untuk membuktikannya kepada semua orang.

Orang yang memiliki pencapaian nyata biasanya:

Lebih tenang
Tidak terlalu haus validasi
Tidak perlu terlihat superior
Tidak sibuk membangun ilusi kesuksesan
Lebih fokus pada proses nyata

Mereka memahami bahwa identitas sejati dibangun dari kehidupan yang dijalani, bukan sekadar citra yang dipamerkan.

Penutup

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa digunakan untuk berbagi inspirasi, membangun koneksi, dan mengekspresikan diri.

Namun ketika seseorang terlalu terobsesi pada bagaimana dirinya terlihat di mata publik, itu bisa menjadi tanda adanya kekosongan yang belum terselesaikan.

Psikologi mengajarkan bahwa manusia yang paling damai bukanlah mereka yang paling sering menunjukkan kesuksesan, melainkan mereka yang tidak lagi bergantung pada pengakuan untuk merasa bernilai.

Karena pada akhirnya, pencapaian nyata tidak selalu perlu diumumkan.

Sering kali, kehidupan yang benar-benar kuat justru berjalan diam-diam.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore