Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Maret 2026 | 15.46 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang yang Dibesarkan Orang Tua Ketat Tanpa Sadar Asal-Usulnya Menurut Psikologi

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat. (Freepik/peoplecreations) - Image

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat. (Freepik/peoplecreations)


JawaPos.com - Banyak orang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan aturan yang ketat—jadwal teratur, ekspektasi tinggi, dan disiplin yang kuat. Pola asuh seperti ini sering kali bertujuan baik: membentuk anak yang bertanggung jawab, disiplin, dan sukses. Namun, menurut psikologi, pengalaman masa kecil ini juga dapat meninggalkan jejak yang tidak selalu disadari hingga seseorang dewasa.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan perilaku umum yang sering muncul pada orang dewasa yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat, beserta penjelasan psikologis di baliknya.

1. Takut Membuat Kesalahan

Orang yang dibesarkan dengan standar tinggi sering menginternalisasi keyakinan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari. Saat kecil, kesalahan mungkin direspons dengan kritik atau hukuman.

Dampaknya saat dewasa:

Perfeksionisme berlebihan
Takut mencoba hal baru
Overthinking dalam mengambil keputusan

Secara psikologis, ini berkaitan dengan fear of failure dan conditional self-worth, di mana harga diri bergantung pada performa.

2. Sulit Mengambil Keputusan Sendiri

Jika sejak kecil keputusan banyak ditentukan oleh orang tua, individu bisa tumbuh tanpa kepercayaan diri dalam menentukan pilihan sendiri.

Ciri yang muncul:

Sering meminta validasi orang lain
Takut memilih jalan hidup yang berbeda
Mudah ragu

Ini berkaitan dengan kurang berkembangnya autonomy dalam teori perkembangan psikologi.

3. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Orang tua yang ketat sering kali menggunakan kritik sebagai alat pembelajaran. Anak kemudian menginternalisasi suara tersebut menjadi “kritikus internal”.

Akibatnya:

Self-talk negatif
Sulit merasa puas
Selalu merasa “kurang”

Fenomena ini dikenal sebagai inner critic dalam psikologi kognitif.

4. Sulit Mengekspresikan Emosi

Dalam keluarga yang sangat disiplin, ekspresi emosi kadang dianggap sebagai kelemahan atau tidak penting.

Dampaknya:

Menahan perasaan
Canggung saat mengungkapkan emosi
Kesulitan dalam hubungan interpersonal

Ini sering dikaitkan dengan emotional suppression dan alexithymia ringan.

5. Sangat Patuh pada Aturan (atau Justru Sebaliknya)

Menariknya, hasil pola asuh ketat bisa dua arah:

Sangat patuh: takut melanggar aturan
Sangat memberontak: ingin membebaskan diri dari kontrol

Ini dijelaskan dalam teori reactance, yaitu dorongan psikologis untuk melawan pembatasan kebebasan.

6. Haus Validasi Eksternal

Jika penghargaan dari orang tua hanya diberikan saat memenuhi standar tertentu, anak belajar bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pengakuan orang lain.

Saat dewasa:

Mencari pujian terus-menerus
Takut mengecewakan orang lain
Sulit merasa cukup tanpa pengakuan

Ini berkaitan dengan external validation dependency.

7. Sulit Menikmati Hidup atau Bersantai

Orang yang terbiasa hidup dalam struktur ketat sering merasa bersalah saat tidak produktif.

Tandanya:

Tidak nyaman saat santai
Selalu merasa harus “melakukan sesuatu”
Overwork

Dalam psikologi, ini sering terkait dengan productivity guilt.

8. Sangat Bertanggung Jawab (Kadang Berlebihan)

Sisi positifnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi individu yang sangat dapat diandalkan. Namun, ini juga bisa menjadi beban.

Ciri-ciri:

Sulit mengatakan “tidak”
Mengambil terlalu banyak tanggung jawab
Merasa harus selalu kuat

Ini bisa berkembang menjadi over-responsibility schema dalam terapi skema.

Penutup

Pola asuh orang tua yang ketat tidak selalu buruk—banyak nilai positif seperti disiplin dan tanggung jawab yang terbentuk. Namun, penting untuk menyadari bahwa beberapa pola perilaku yang muncul saat dewasa mungkin bukan sepenuhnya pilihan sadar, melainkan hasil dari pengalaman masa kecil.

Kesadaran adalah langkah pertama untuk berubah. Dengan memahami asal-usul perilaku tersebut, seseorang bisa mulai:

Mengembangkan self-compassion
Membangun kepercayaan diri
Menentukan identitas yang lebih autentik

Jika kamu merasa beberapa poin di atas relate, itu bukan berarti ada yang “salah” denganmu—itu hanya menunjukkan bahwa kamu manusia yang dibentuk oleh pengalaman. Dan kabar baiknya: pola tersebut bisa dipahami, diolah, dan jika perlu, diubah.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore