
seseorang yang menghabiskan waktu di media sosial./Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi para orang tua.
Awalnya, ponsel hanya dibuka untuk sekadar melihat kabar keluarga, mencari hiburan singkat, atau mengikuti perkembangan anak dan kerabat.
Namun tanpa terasa, menit berubah menjadi jam, dan kebiasaan “scroll sebentar” menjelma menjadi rutinitas harian yang sulit dihentikan.
Psikologi modern memandang bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan bukan sekadar masalah waktu, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental, terutama pada orang tua yang memikul banyak peran dan tanggung jawab emosional.
Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat menggerus ketenangan batin, memicu stres tersembunyi, bahkan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan keluarganya.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (20/12), terdapat delapan cara bagaimana orang tua yang menghabiskan berjam-jam di media sosial dapat merusak kesehatan mental mereka secara perlahan, menurut sudut pandang psikologi.
1. Terjebak dalam Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat
Psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memperparah kecenderungan ini. Orang tua yang terus melihat unggahan tentang keluarga harmonis, anak berprestasi, atau kehidupan serba ideal dapat mulai merasa hidupnya “kurang berhasil”.
Tanpa disadari, muncul rasa rendah diri, rasa bersalah sebagai orang tua, dan perasaan tidak pernah cukup baik. Padahal, yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan terbaik, bukan realitas utuh.
2. Meningkatnya Kecemasan karena Paparan Informasi Negatif
Media sosial dipenuhi berita buruk, konflik, komentar tajam, dan perdebatan tanpa akhir. Psikologi kognitif menyebut kondisi ini sebagai information overload yang memicu kecemasan kronis.
Bagi orang tua, paparan terus-menerus terhadap isu kesehatan, kriminalitas, atau masa depan anak dapat memperbesar rasa takut dan kekhawatiran yang sebenarnya belum tentu relevan dengan kondisi nyata mereka.
3. Menurunnya Kualitas Hubungan dengan Anak dan Pasangan
Ironisnya, saat orang tua sibuk terhubung dengan dunia maya, hubungan di dunia nyata justru melemah. Psikologi keluarga menekankan pentingnya emotional presence—kehadiran emosional yang utuh.
Ketika perhatian terbagi pada layar, anak dan pasangan dapat merasa diabaikan. Dalam jangka panjang, ini memicu jarak emosional, konflik kecil yang menumpuk, dan rasa kesepian di dalam keluarga sendiri.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
