Ilustrasi seseorang yang overthinking sebelum tidur.
JawaPos.com — Ada jam biologis, lalu ada jam psikologis. Di mana jam biologis mendikte tubuh untuk melambat, jam psikologis justru sering kali menyalakan tombol pikiran agar selalu on.
Banyak orang baru merasa ‘tersentuh’ oleh kecemasan tepat ketika kepala hampir tenggelam di bantal. Malam bukan lagi jeda, melainkan babak kedua proses mental yang belum selesai di siang hari.
Kebiasaan overthinking sebelum tidur membawa ciri khas yang berbeda dari kecemasan di waktu lain. Hening yang seharusnya menenangkan diri justru menjadi panggung yang memperjelas semua suara internal yang di siang hari teredam oleh distraksi.
Secara psikologis, otak tidak benar-benar ‘istirahat,’ melainkan berganti mode. Saat stimulus luar minim dan tubuh berhenti bergerak, otak masuk ke tahap pemrosesan internal otomatis.
Baca Juga: Seni Menjadi Orang yang Tak Terlupakan: 7 Kebiasaan Percakapan Orang yang Secara Alami Disukai
Di sinilah pola memikirkan ulang hal yang sama tanpa ujung mulai terbentuk. Mengutip YouTube Morale Up, Senin (1/12/2025), kecenderungan overthinking malam bukan sekadar gangguan tidur, melainkan mekanisme prediktif otak saat kehilangan input eksternal, diperkuat oleh perfeksionisme dan emosi yang tertunda.
1. Otak Memilih Malam untuk Memproses Hal yang Ditunda atau Dihindari
Sepanjang hari, otak sibuk menyortir informasi mana yang layak dipikirkan dan mana yang disimpan dulu. Orang yang cenderung menunda konfrontasi dengan emosi—baik karena tuntutan pekerjaan, norma sosial, atau kebiasaan tampil ‘fungsional’—sering kali menyimpan kecemasan hingga malam.
Ketika tubuh berhenti memberi sinyal kompetensi lewat gerak, otak mulai menimbang ulang semua memori sosial dan potensi ancaman. Yang siang tampak sepele, malam terasa lebih dalam.
Bukan karena masalahnya membesar, tetapi waktu yang memperkecil kapasitas rasional untuk menyeimbangkannya. Maka overthinking menjadi reaksi telat dari sistem emosional yang sepanjang hari ditahan.
2. Default Mode Network (DMN) Aktif Tanpa Batas saat Stimulus Luar Hilang
Jaringan otak bernama Default Mode Network (DMN) akan aktif otomatis ketika seseorang tidak sedang fokus pada tugas tertentu. Saat siang, jaringan ini bekerja di sela-sela otak, tetapi cepat terpotong oleh suara, cahaya, atau aktivitas lain.
Namun, di malam hari—terutama sebelum tidur—tidak ada rangsangan luar yang menghentikannya. Alhasil, pikiran mulai mengulang-ulang analisis sendiri, dari hal yang sudah lewat sampai hal yang belum terjadi.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
