JawaPos.com - Di era digital saat ini, hampir semua aktivitas bisa dilakukan melalui layar ponsel—mulai dari bekerja, berbelanja, hingga membaca buku.
Namun, di tengah derasnya arus teknologi, masih banyak orang yang tetap setia pada buku fisik.
Aroma kertas, sensasi membalik halaman, hingga kepuasan menata koleksi di rak membuat pengalaman membaca buku cetak terasa lebih intim dan bermakna.
Dilansir dari Geediting pada Senin (29/9), menurut kajian psikologi, orang yang lebih menyukai buku fisik dibanding buku digital cenderung memiliki ciri-ciri tertentu yang menonjol dalam pola pikir maupun gaya hidupnya.
Berikut lima di antaranya:
Psikologi menyebut bahwa orang yang mencari pengalaman semacam ini biasanya lebih menghargai keaslian dan hal-hal yang bersifat nyata.
Mereka tidak mudah terbuai oleh sesuatu yang instan, melainkan lebih suka merasakan esensi dari apa yang mereka jalani.
2. Pecinta Detail dan Pengalaman Mendalam
Orang yang memilih buku fisik biasanya menikmati proses membaca tanpa distraksi.
Berbeda dengan e-book di ponsel yang rawan terganggu notifikasi, buku cetak memberi ruang untuk fokus.
Dari sisi psikologi, ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecenderungan sebagai pencinta detail dan penghayat pengalaman mendalam.
Mereka bukan hanya membaca sekadar tahu, tetapi juga meresapi makna di balik kata-kata.
3. Memiliki Sisi Nostalgis dan Emosional
Buku fisik sering kali menghadirkan perasaan nostalgia—mengingat masa kecil di perpustakaan sekolah, momen membeli buku di toko favorit, atau hadiah buku dari seseorang yang spesial.
Menurut psikologi, orang yang lebih menyukai buku cetak biasanya memiliki kecenderungan emosional yang kuat dan menghargai memori.
Mereka tidak sekadar membaca untuk informasi, tetapi juga untuk membangun keterikatan batin dengan buku itu sendiri.
4. Lebih Mengutamakan Kualitas daripada Kepraktisan
Membawa buku fisik tentu lebih merepotkan dibandingkan menyimpan ratusan judul dalam satu aplikasi.
Namun, orang yang memilih buku cetak menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan kualitas pengalaman dibanding sekadar kepraktisan.
Ini sejalan dengan karakter orang yang berorientasi pada nilai jangka panjang, bukan hanya keuntungan instan.
Mereka rela repot demi sesuatu yang menurut mereka lebih bermakna.
5. Berjiwa Tenang dan Menghargai Waktu Lambat
Membaca buku fisik menuntut kecepatan yang alami—tidak bisa digulir secepat layar ponsel.
Setiap halaman dibuka dengan ritme tertentu yang menciptakan suasana tenang.
Psikologi menyebutkan bahwa orang dengan preferensi ini cenderung berjiwa “slow living,” yakni mampu menikmati momen dengan sabar dan tidak terburu-buru.
Mereka lebih menghargai kualitas waktu dibanding kecepatan hasil.
Kesimpulan
Pilihan membaca buku fisik ternyata bukan sekadar kebiasaan klasik, melainkan cerminan dari kepribadian yang khas.
Dari kecintaan pada keaslian, penghargaan terhadap detail, sisi emosional yang kuat, orientasi pada kualitas, hingga kemampuan menikmati waktu secara tenang—semua itu memperlihatkan karakter yang unik dan berharga di tengah dunia serba cepat saat ini.
Jadi, jika Anda masih setia pada buku cetak, jangan merasa ketinggalan zaman.
Justru, Anda sedang menunjukkan sisi kepribadian yang mendalam dan mampu menghargai nilai-nilai hidup yang tak lekang oleh perkembangan teknologi.