
Ilustrasi orang yang sangat egois (freepik)
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah bertemu dengan orang yang terkesan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Mereka tampaknya tidak peduli dengan kondisi orang lain dan selalu menuntut dipahami.
Menurut psikologi, perilaku ini bukan sekadar kepribadian yang menyebalkan, melainkan mencerminkan ciri-ciri orang yang sangat egois atau deeply self-centered.
Mengenali tanda-tanda orang egois bisa menyelamatkan kita dari berbagai konflik emosional dan hubungan yang merugikan.
Artikel ini membahas ciri-ciri perilaku orang egois menurut psikologi, lengkap dengan penjelasan yang dapat membantu kamu membentengi diri dari pengaruh negatif mereka.
Jika kamu sedang mencari keyword seperti "ciri orang egois", "tanda orang manipulatif", atau "cara menghadapi orang narsistik", maka informasi ini sangat penting untuk disimak.
Dilansir dari laman Geediting (23/5), berikut adalah 8 perilaku yang biasa ditunjukkan oleh orang yang sangat egois menurut psikologi:
Orang yang sangat egois punya kebiasaan menjadikan setiap obrolan sebagai panggung untuk membahas diri mereka sendiri. Mereka akan memutar arah topik ke pengalaman, pencapaian, atau masalah pribadinya, seolah-olah kehidupan orang lain tidak penting. Ini adalah tanda bahwa mereka menganggap diri mereka lebih penting dibandingkan orang lain.
Salah satu ciri utama dari sifat egois adalah minimnya empati. Mereka sulit memahami atau peduli terhadap perasaan orang lain. Saat kamu curhat, mereka akan membelokkan pembicaraan kembali ke masalah mereka sendiri. Bagi mereka, dunia hanya berputar di sekitar kepentingan pribadi.
Orang egois sering merasa bahwa mereka layak diperlakukan secara istimewa. Mereka cepat marah atau kecewa jika tidak mendapat perlakuan spesial, baik di lingkungan kerja maupun sosial. Rasa entitled ini sering kali terkait dengan gangguan kepribadian narsistik menurut DSM-5 dalam psikologi.
Mereka tidak benar-benar mendengarkan saat orang lain berbicara. Bukannya memahami, mereka lebih sering menyela atau menunjukkan ketidaktertarikan. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian mereka hanya fokus pada diri sendiri, bukan untuk membangun koneksi emosional.
Dalam hubungan sehat, ada ketertarikan tulus terhadap kehidupan orang lain. Tapi bagi orang egois, minat terhadap orang lain hanya sebatas pada apa yang bisa mereka dapatkan—pujian, keuntungan, atau validasi. Hal ini bisa membuat orang lain merasa tidak dihargai atau dimanfaatkan.
Kritik sedikit saja bisa memicu reaksi keras. Mereka akan langsung menyerang balik atau bersikap defensif seolah kritik adalah ancaman besar. Ini membuat komunikasi menjadi sulit dan hubungan tidak sehat karena segala bentuk masukan dianggap negatif.
Dalam hubungan yang sehat, ada keseimbangan memberi dan menerima. Namun orang egois cenderung hanya mengambil. Mereka menyedot waktu, energi, dan perhatian orang lain tanpa memberi timbal balik yang setara. Akibatnya, hubungan terasa melelahkan dan satu arah.
Orang yang sangat egois biasanya tidak sadar bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang lain. Kurangnya self-awareness ini membuat mereka terus mengulang pola yang sama, menyakiti banyak orang tanpa merasa bersalah atau berpikir untuk berubah.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
