Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Mei 2025 | 01.55 WIB

Mengenal Kepribadian People Pleaser yang Sering Disalahpahami, Bukan Baik, Melainkan Takut dan Khawatir

Ilustrasi seorang people pleaser yang setuju membantu orang lain. (Rawpixel.com/Freepik) - Image

Ilustrasi seorang people pleaser yang setuju membantu orang lain. (Rawpixel.com/Freepik)

JawaPos.com – Kita dibesarkan dalam budaya yang sangat menghargai orang-orang yang ramah, suka menolong, dan selalu siap membantu.

Tapi bagaimana jika sikap baik itu ternyata bukan berasal dari ketulusan hati, melainkan dari ketakutan?

Ketakutan akan ditolak, dikucilkan, atau dianggap egois. Inilah yang dialami oleh banyak orang yang memiliki sifat “people pleaser”.

Dikutip dari laman Medical News Today, kepribadian ini muncul ketika seseorang merasakan dorongan kuat untuk menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri.

Hal ini sering kali berasal dari pengalaman masa lalu. Bisa jadi seorang people pleaser tumbuh dalam lingkungan yang keras, penuh tuntutan, atau minim validasi emosional. Dalam kondisi ini, anak-anak belajar bahwa "baik" adalah satu-satunya cara agar diterima.

Dari luar, seorang people pleaser tampak seperti pribadi yang hangat dan penyayang. Tapi di dalam, mereka terus-menerus menahan diri, menekan amarah, dan menyembunyikan luka. 

Mereka bukan membantu karena ingin, tapi karena takut dianggap egois, takut ditinggalkan, atau takut dicap buruk.

Menjadi people pleaser dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Seperti kehilangan batas diri, burnout emosional, rasa bersalah yang berlebihan, hingga memiliki hubungan yang tidak seimbang.

Melepaskan diri dari kebiasaan people pleasing memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. 

Kamu bisa mulai dengan langkah sederhana, seperti mengenali polanya dengan menyadari kapan dan mengapa kamu merasa sulit untuk berkata "tidak".

Selain itu, kamu juga harus berlatih untuk menetapkan batas dengan belajar mengatakan "tidak" secara asertif tapi tetap sopan.

Validasi diri sendiri juga menjadi hal yang penting, kamu tidak harus selalu disukai untuk merasa cukup. Jika terus berlanjut, bisa dengan melakukan terapi atau konseling agar bisa membantu mengurai akar emosionalnya.

Bersikap baik itu bagus. Tapi kalau kebaikan muncul karena takut, bukan dari hati, itu bisa membuat kita merasa berat dan lelah. 

People pleaser bukan orang yang salah, mereka cuma belum tahu kalau mencintai diri sendiri juga bagian dari kebaikan. Dan itu bukan egois, tapi sehat. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore