seseorang yang terlalu mengorbankan diri. (Freepik/azerbaijan_stockers)
JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, selalu ada satu sosok yang dikenal sebagai “anak baik”. Ia penurut, jarang membantah, berprestasi, tidak merepotkan, dan sering menjadi kebanggaan orang tua.
Dari luar, peran ini terlihat ideal. Namun menurut psikologi, label “anak baik” sering kali membentuk pola perilaku dan kebiasaan tertentu yang terbawa hingga dewasa — bahkan tanpa disadari.
Konsep ini banyak dibahas dalam teori perkembangan psikososial seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, serta dalam teori kelekatan (attachment theory) yang dipelopori oleh John Bowlby.
Pola asuh dan dinamika keluarga sangat memengaruhi bagaimana seorang anak membangun identitas, harga diri, serta cara berelasi saat dewasa.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 kebiasaan yang sering terbawa oleh “anak baik” hingga dewasa:
1. Sulit Mengatakan “Tidak”
Sejak kecil, “anak baik” terbiasa memenuhi harapan orang tua. Ia belajar bahwa menjadi disukai berarti menjadi patuh. Akibatnya, saat dewasa ia sering kesulitan menolak permintaan orang lain.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan people-pleasing behavior — dorongan untuk menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan. Ketakutan terbesar mereka bukan konflik, melainkan penolakan.
2. Terlalu Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
Banyak “anak baik” tumbuh dalam keluarga di mana mereka menjadi penenang konflik, penengah pertengkaran, atau tempat curhat orang tua. Peran ini disebut sebagai parentification — ketika anak memikul tanggung jawab emosional yang seharusnya bukan miliknya.
Saat dewasa, mereka sering merasa bersalah jika orang lain kecewa, bahkan ketika itu bukan tanggung jawabnya.
3. Perfeksionis yang Tersembunyi
Karena sering dipuji atas prestasi dan kepatuhan, mereka belajar bahwa cinta dan penerimaan bersyarat pada performa. Ini bisa berkembang menjadi perfeksionisme.
Menurut Carl Rogers, kondisi ini berkaitan dengan “conditional positive regard” — ketika penghargaan diberikan hanya jika seseorang memenuhi ekspektasi tertentu. Anak kemudian tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga hanya saat ia “cukup baik”.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
