Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Desember 2025 | 16.39 WIB

Orang yang Kesulitan Mengatakan 'Tidak' Biasanya Pernah Mengalami 7 Pengalaman Ini Saat Masih Kecil Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan mengatakan tidak./Freepik/dragonimages - Image

seseorang yang kesulitan mengatakan tidak./Freepik/dragonimages

JawaPos.com - Mengatakan “tidak” terdengar sederhana. Hanya dua huruf, satu kata. Namun bagi sebagian orang, kata ini terasa seperti beban berat di dada.

Ada rasa bersalah, takut mengecewakan, cemas ditinggalkan, atau khawatir dianggap egois.

Akhirnya, mereka berkata “iya” meski hati menolak, memprioritaskan orang lain sambil mengorbankan diri sendiri.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa kesulitan mengatakan “tidak” di usia dewasa jarang muncul begitu saja.

Pola ini sering kali berakar dari pengalaman emosional di masa kanak-kanak—masa ketika seseorang belajar tentang batasan, cinta, penerimaan, dan rasa aman.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (19/12), terdapat tujuh pengalaman yang, menurut psikologi, sering dialami semasa kecil oleh orang-orang yang tumbuh menjadi “people pleaser” dan sulit menolak permintaan orang lain.

1. Tumbuh dalam Lingkungan di Mana Cinta Bersyarat

Banyak anak dibesarkan dengan pesan tidak langsung bahwa mereka dicintai ketika patuh, berprestasi, atau “tidak merepotkan”.

Pujian datang saat mereka menuruti keinginan orang tua, sementara penolakan atau perbedaan pendapat disambut dengan dingin, marah, atau kekecewaan.

Secara psikologis, anak belajar bahwa kasih sayang harus “dibeli” dengan kepatuhan. Saat dewasa, pola ini berubah menjadi keyakinan bawah sadar: “Jika aku berkata tidak, aku akan kehilangan penerimaan.” Maka, mengatakan “iya” terasa lebih aman daripada jujur pada diri sendiri.

2. Terbiasa Menjadi Penjaga Emosi Orang Dewasa

Sebagian anak tumbuh dengan orang tua yang mudah stres, marah, sedih, atau tidak stabil secara emosional.

Anak-anak ini sering mengambil peran sebagai penenang: berusaha bersikap baik agar rumah tetap damai, menghindari konflik, dan membaca suasana hati orang dewasa.

Pengalaman ini membentuk kepekaan berlebihan terhadap perasaan orang lain. Di usia dewasa, mereka refleks mengutamakan kenyamanan orang lain dan mengorbankan kebutuhan sendiri.

Mengatakan “tidak” terasa seperti ancaman bagi keharmonisan, sesuatu yang sejak kecil mereka pelajari harus dihindari.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore