
Seorang perempuan duduk sendiri di lantai kamar dengan ekspresi sendu, mencerminkan proses berdamai dengan diri dan luka masa lalu. (Dok. Canva)
JawaPos.com – “Saya merasa tidak cukup.” Kalimat sederhana ini mungkin pernah hadir dalam benak banyak orang, termasuk mereka yang dari luar terlihat ‘sempurna’. Namun, di balik pencapaian dan senyum yang ditunjukkan ke dunia, sering kali tersembunyi kegelisahan dan keraguan terhadap nilai diri sendiri.
Dikutip dari TED’s How to Be a Better Human, seorang psikolog klinis bernama Dr. Adia Gooden membagikan pengalamannya dalam menumbuhkan unconditional self-worth, atau rasa berharga yang tak bersyarat, yaitu sebuah perasaan bahwa kita layak dicintai dan dihargai, bukan karena apa yang kita capai, tetapi karena siapa kita sebagai manusia.
Dr. Gooden tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat dan berkecukupan. Namun, sejak usia 12 tahun, ia sudah merasa ada yang salah dengan dirinya. Ketika berada di pesta teman-teman kulit hitam, ia dianggap tidak pandai menari. Saat berada di lingkungan sekolah mayoritas kulit putih, ia merasa tak terlihat dan tidak dianggap. Maka, muncullah satu tekad untuk menjadi sempurna.
Ia mengejar kesempurnaan melalui prestasi akademik, hubungan sosial, hingga pencarian cinta. Namun, rasa cukup itu selalu bersifat sementara. Setelah satu keberhasilan diraih, standar akan naik kembali. Ia berkata, "Begitu saya mencapai standar yang saya tetapkan untuk merasa layak, standar itu akan naik lagi.”
Menurut Dr. Gooden, self-worth berbeda dengan self-esteem. Jika self-esteem bergantung pada pencapaian, penampilan, dan pengakuan dari luar, maka unconditional self-worth adalah keyakinan bahwa kita berharga tanpa syarat. Kita layak hidup, dicintai, dan mengambil ruang di dunia ini, apa pun yang terjadi.
Sayangnya, masyarakat kerap menanamkan nilai diri berdasarkan prestasi, penampilan, bahkan jumlah likes di media sosial. Pesan tidak langsung dari orang tua, sekolah, dan media iklan membuat kita percaya bahwa kita harus menjadi sesuatu dulu untuk merasa layak.
Dalam artikelnya, Dr. Gooden menawarkan empat cara untuk mulai membangun unconditional self-worth:
1. Memaafkan Diri Sendiri
Banyak dari kita terjebak dalam rasa bersalah atas masa lalu. Memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan mengakui, memahami, dan melepaskan beban itu. Ucapkan pada diri sendiri, “Aku memaafkanmu.”
2. Menerima Diri Apa Adanya
Kita terbiasa mengkritik tawa kita yang terlalu keras, cara berpikir yang unik, atau bentuk tubuh yang tidak sesuai standar. Namun, justru melalui penerimaan terhadap keunikan diri, kita mulai percaya bahwa kita berharga.
3. Menemani Diri di Masa Sulit
Saat terluka, alih-alih menghakimi diri sendiri, kita bisa menjadi pendamping yang hangat. Cukup akui rasa sakitnya dan beri diri sendiri pelukan, baik secara fisik maupun emosional.
4. Terhubung dengan Orang-Orang yang Mendukung
Merasa sendiri hanya akan memperparah rasa tak layak. Padahal, kenyataannya kita tidak sendiri. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang menerima kita tanpa syarat akan menguatkan keyakinan bahwa kita berharga.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
