
Ilustrasi seseorang yang suka menunda pekerjaan tetapi selalu menyelesaikannya tepat waktu. (Freepik)
JawaPos.com – “Nanti saja,” adalah dua kata sederhana yang akrab dalam keseharian kita. Entah itu tugas kampus, laporan kantor, atau urusan pribadi, semua bisa tertunda hanya karena keinginan sesaat untuk membuka email, merapikan file komputer, atau sekadar tidur lima menit lagi.
Kebiasaan untuk menunda pekerjaan atau istilah bahasa inggrisnya procrastinating, sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya disiplin diri. Akan tetapi, menurut Nic Voge, seorang pendidik sekaligus Senior Associate Director di McGraw Center for Teaching and Learning, Princeton University, hal ini tidak selalu benar.
Dalam sebuah sesi TEDxPrinceton, Voge menyampaikan bahwa procrastination atau kebiasaan menunda bukanlah aib atau cacat karakter. “Ini bukan kelemahan. Prokrastinasi justru adalah bentuk perlindungan diri yang sangat manusiawi,” ujarnya, dikutip dari laporan TED Ideas berjudul Tired of procrastinating? To overcome it, take the time to understand it.
Bayangkan skenario berikut: malam hari di kamar asrama, esai harus dikumpulkan besok. Laptop sudah terbuka, niat sudah terkumpul. Namun tiba-tiba, Anda memutuskan untuk membuka email "sebentar saja". Tahu-tahu, 45 menit berlalu, dan akhirnya Anda memutuskan untuk tidur karena merasa lelah. Esok harinya, pola ini pun terulang. Situasi ini mungkin terasa akrab bagi banyak orang, tak hanya mahasiswa, tetapi juga para pekerja dan profesional.
Menurut laporan dari TED Ideas, banyak orang menyalahkan diri sendiri karena menunda, merasa malas, lemah, atau tidak mampu. Namun Voge menekankan bahwa procrastination bukanlah cacat karakter. Sebaliknya, hal ini bisa dipahami dan diprediksi jika kita melihat dinamika motivasi yang mendasarinya.
Voge menjelaskan bahwa akar dari kebiasaan menunda seringkali berkaitan dengan harga diri. Orang yang gemar menunda biasanya memiliki keyakinan bahwa performa = kemampuan = nilai diri. Ketika kita takut akan hasil yang buruk, kita secara tidak sadar menghindar sebagai bentuk perlindungan diri. Jika hasil akhirnya buruk, maka kita bisa menyalahkan “kurangnya waktu” atau “terlalu sibuk”, bukan kurangnya kemampuan. Ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan terhadap rasa takut gagal.
Kondisi ini sering membuat seseorang terjebak. Di satu sisi, ada dorongan untuk menyelesaikan tugas. Di sisi lain, ada rasa takut akan hasil yang mengecewakan. Alhasil, muncul rasa gelisah, susah tidur, tapi juga sulit bekerja.
Lantas, bagaimana cara keluar dari siklus ini? Voge menyarankan tiga strategi utama:
1. Kenali Apa yang Terjadi
Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda sedang menunda dan memahami alasannya. Menurut Voge, menyadari bahwa penundaan berasal dari keinginan untuk melindungi harga diri akan membantu kita menghadapinya dengan lebih jernih. Kenali juga pola-pola khas yang sering Anda lakukan saat menunda, seperti membersihkan kamar, mengecek media sosial, atau bahkan mencuci baju.
2. Timbang Ulang Alasan Anda
Tiap tindakan dipengaruhi oleh dua hal: motivasi untuk mendekat (approach) dan motivasi untuk menghindar (avoid). Jika motivasi untuk menghindari (biasanya karena takut gagal) lebih besar, maka kita cenderung menunda. Untuk menyeimbangkannya, Voge menyarankan agar kita mengingat kembali tujuan lebih besar dari tugas tersebut dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil agar terasa lebih ringan.
3. Tantang Keyakinan Lama
Terakhir, ubah cara pandang Anda. Nilai diri seseorang tidak seharusnya diukur dari hasil atau performa. “Kita berharga bukan karena nilai atau pencapaian, tapi karena kualitas kemanusiaan kita: seperti kebaikan, kepedulian, dan kerentanan,” ujar Voge.
Dengan kata lain, jangan langsung melabeli menunda dengan kata malas. Namun, coba untuk memahami akar emosional di balik kebiasaan menunda. Dengan begitu, kita bisa membangun pendekatan yang lebih sehat, bukan hanya menyelesaikan tugas, tapi juga merawat cara pandang terhadap diri sendiri.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
