Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 14.50 WIB

Anak Orang Lain Mengganggu? Ini 3 Langkah Sederhana dari Psikolog untuk Tetap Tenang

Seorang anak kecil yang mengganggu orang lain di ruang publik. (Dok. Canva) - Image

Seorang anak kecil yang mengganggu orang lain di ruang publik. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Siapa yang tak pernah mengalami ini: duduk santai di kafe, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari anak kecil yang bukan milik kita. Atau antre di klinik dokter sambil menahan diri mendengar dentuman mainan bertubi-tubi dari anak di sebelah. Rasa jengkel pun muncul. Tapi tenang, ternyata perasaan ini bukan hal yang aneh.

Dikutip dari HuffPost, menurut Dr. Matthew Morand, seorang psikolog berlisensi, rasa kesal terhadap anak orang lain adalah fenomena yang cukup umum, bahkan sering muncul dalam sesi konsultasi. “Minimalkan suara negatif dalam kepala Anda,” ujarnya. Sederhana, tapi tidak semudah itu, bukan?

Ubah Cara Pandang Dulu

Morand menyarankan untuk memakai prinsip “the other shoe”, atau membalikkan perspektif. “Kalau saya hitung, sudah berapa kali kepala saya ditendang anak kecil di pesawat, mungkin saya bisa menuntut,” candanya. Tapi ia lalu mengingatkan, “Apakah anak saya sendiri belum pernah berperilaku menyebalkan juga?”

Senada dengan Morand, Dr. Kristen Piering, psikolog klinis, mengatakan bahwa anak-anak butuh belajar cara bersosialisasi di ruang publik. “Mereka manusia juga, bisa saja sedang mengalami hari yang buruk,” ujarnya. Jadi, perilaku yang menjengkelkan mungkin hanyalah luapan dari hari yang melelahkan di sekolah atau pertengkaran kecil dengan teman.

Anak atau Orang Tua yang Sebenarnya Bermasalah?

Sering kali, yang bikin kesal bukan cuma anaknya, tapi juga orang tuanya. Terutama jika mereka tampak tak peduli saat anaknya berlarian di toko buku atau menjadikan ruang publik sebagai tempat bermain pribadi. Namun, Morand menegaskan pentingnya melihat apakah orang tua tersebut sadar dan sedang berusaha mengarahkan anaknya. “Kalau mereka berusaha, itu sudah cukup layak dihargai,” katanya.

Piering juga menambahkan bahwa kita tak bisa menilai cara orang tua mendidik hanya dari satu momen. “Mungkin ada alasan di balik gaya pengasuhan mereka yang tampak ‘aneh’. Bisa jadi itu hasil dari proses panjang memahami kebutuhan anaknya,” jelasnya.

Tiga Langkah Menghadapi Anak Menyebalkan Versi Psikolog Sekolah

Kalau kamu benar-benar sudah di ambang batas, mungkin inilah saatnya mencoba jurus dari Shira Schwartz, psikolog sekolah dan administrator distrik pendidikan. Ia menyarankan tiga langkah sederhana: abaikan, alihkan, dan tahan diri untuk tidak ikut jadi orang tua.

1. Abaikan

Banyak perilaku menyebalkan berasal dari keinginan anak untuk mendapatkan perhatian. Menurut Schwartz, jika tidak direspons, mereka biasanya akan berhenti dan mencari “penonton” lain. Misalnya, anak yang terus menyanyi dengan suara sumbang di taman mungkin akan berhenti saat menyadari tak ada yang bereaksi.

2. Alihkan perhatian

Jika ingin lebih aktif membantu, arahkan anak ke aktivitas lain. Misalnya, ajak mencari gambar tersembunyi di lukisan saat di museum. “Anak-anak pada dasarnya ingin terhubung, bahkan dengan orang dewasa yang bukan orang tuanya,” jelas Schwartz.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore