
Ilustrasi orang yang pura-pura baik-baik saja.
JawaPos.com - Sangat mudah untuk mengucap “aku baik-baik saja” tapi hati sedang hancur-hancurnya, meskipun itu bermaksud baik karena tidak ingin membuat orang lain ikut sedih melihat keadaan kita.
Dikutip dari laman Alodokter pada Minggu (20/04) perilaku ini disebut dengan toxic positivity, kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif, salah satunya dengan bilang “aku baik-baik saja”.
Ucapan “aku baik-baik saja” seperti menggaungkan pada diri sendiri maupun orang lain bahwa tidak apa-apa untuk menyangkal kemarahan, kesedihan, maupun duka.
Melansir dari laman Global English Editing pada Minggu (20/04) orang yang bilang “aku baik-baik saja” ketika keadaannya sedang hancur, cenderung menunjukkan 7 perilaku ini:
1. Mereka ahli penyamaran
Penguasaan penyamaran, dalam konteks ini tidak berarti mereka di luar sana mengenakan kostum atau mengubah penampilan secara fisik, tapi adalah jenis penyamaran yang lebih halus dan lebih berbahaya dengan jenis emosional.
Mereka menjadi ahli dalam memasang wajah bahagia, bahkan ketika berantakan di dalam. Seperti bunglon, mereka dapat mengubah warna emosional agar sesuai dengan lingkungan.
Mereka tertawa ketika orang lain tertawa, menunjukkan antusiasme ketika diharapkan, dan umumnya memproyeksikan citra normalitas. Tetapi di balik lapisan keceriaan itu, sering kali ada dunia yang penuh gejolak dengan perasaan yang ditekan dan emosi yang tidak diungkapkan.
2. Mereka menghindari percakapan yang mendalam
Seperti yang dikatakan psikolog terkenal Brené Brown, "Kerentanan bukanlah menang atau kalah, tapi adalah memiliki keberanian untuk muncul dan terlihat ketika kita tidak memiliki kendali atas hasilnya."
Maka dengan menghindari percakapan yang mendalam tidak melindungi kita seutuhnya. Sebaliknya, itu mengisolasi diri dan mencegah membentuk hubungan yang tulus dengan orang lain.
3. Mereka memberikan kompensasi yang berlebihan dengan merawat orang lain
Tidak salah untuk membantu orang lain, tetapi itu menjadi masalah ketika itu adalah sarana untuk menghindari perasaan sendiri dan tidak bisa menuangkan dari cangkir kosong.
Mengenali perilaku ini dalam diri adalah panggilan yang dibutuhkan untuk mulai menjaga kesehatan emosional juga. Tidak egois untuk memprioritaskan kesejahteraan sendiri karena itu perlu.
4. Mereka selalu sibuk

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
