Ilustrasi orang yang terlihat sukses di media sosial (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Di era digital saat ini, media sosial menjadi tempat untuk menampilkan pencapaian dan kebahagiaan. Banyak orang terlihat hidupnya sempurna di Instagram, sukses di LinkedIn, dan selalu mendapat banyak like serta komentar. Namun, di balik layar, banyak dari mereka yang sebenarnya merasa cemas, tidak puas, dan bahkan sangat tidak bahagia.
Fenomena ini bukan kebetulan. Menurut psikologi, ada pola tertentu yang membuat seseorang tampak bahagia di media sosial tetapi justru merasa kosong dalam kehidupan nyata.
Dilansir dari laman Geediting, Selasa (11/03), berikut adalah 7 kebiasaan yang sering dilakukan oleh mereka yang terlihat bahagia di media sosial tetapi sebenarnya menderita dalam kehidupan nyata.
1. Mereka Lebih Sibuk Menciptakan Tampilan Hidup yang Sempurna daripada Menikmatinya
Salah satu tanda utama seseorang lebih sukses secara online daripada di kehidupan nyata adalah ketika mereka lebih fokus mengedit, menyusun, dan mengunggah konten daripada benar-benar menikmati hidup mereka.
Makan malam biasa bisa berubah menjadi sesi foto panjang, liburan menjadi kumpulan highlight story, bahkan kesulitan pribadi mereka kemas sebagai konten yang "relatable". Dalam psikologi, ini disebut impression management, yaitu cara seseorang mengontrol bagaimana orang lain melihat mereka. Jika seseorang lebih peduli dengan bagaimana mereka terlihat daripada bagaimana mereka merasa, ketidakseimbangan ini bisa menyebabkan tekanan emosional yang besar.
2. Mereka Mencari Validasi, Bukan Kepuasan Diri
Banyak orang yang sukses di media sosial terlalu bergantung pada jumlah like dan komentar sebagai ukuran kebahagiaan mereka. Jika suatu postingan tidak mendapat banyak engagement, mereka bisa merasa tidak berharga atau bahkan menghapusnya.
Padahal, seperti yang dikatakan psikolog Carl Rogers, "Satu-satunya orang yang benar-benar terdidik adalah mereka yang belajar bagaimana belajar dan berubah." Jika seseorang hanya mengubah diri mereka agar diterima orang lain, mereka tidak benar-benar tumbuh.
3. Mereka Terus-Menerus Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Scrolling media sosial dan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain adalah kebiasaan yang sering terjadi. Melihat teman seusia sudah sukses, menikah, atau traveling keliling dunia bisa membuat seseorang merasa tertinggal.
Dalam psikologi, ini disebut social comparison theory, di mana seseorang menilai harga dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Kenyataannya, media sosial hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhannya.
4. Mereka Lebih Mementingkan Persona Online daripada Hubungan Nyata
Banyak yang merasa sosial karena aktif di grup WhatsApp, sering berkomentar di postingan teman, atau rutin berbagi cerita. Namun, di kehidupan nyata, mereka merasa kesepian karena tidak memiliki hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
