
Warga Kabupaten Gunungkidul menampung air bersih dari mobil tangki yang didistribusikan ACT DI Jogjakarta. (ACT for JawaPos.com)
JawaPos.com - Sepuluh dari 18 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, DI Jogjakarta mengalami kekeringan. Kondisi itu berpotensi menimbulkan krisis air bersih.
Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, setidaknya ada 76.514 jiwa atau 21.519 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Mereka tersebar di 50 desa, 10 kecamatan. Adapun kesepuluh kecamatan yang mengalami kekeringan itu meliputi Girisubo, Purwosari, Rongkop, Tepus, Ngawen, Ponjong, Semin, Patuk, Semanu, dan Paliyan.
Untuk membantu masyarakat yang kekeringan itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengirimkan bantuan air bersih yang didrop dengan mobil tangki. “Kami menyiapkan program dropping air bersih sebanyak 500 tangki untuk wilayah-wilayah Gunungkidul yang saat ini tengah mengalami kekeringan dan berpotensi krisis air bersih," ujar Kepala ACT Cabang DI Jogjakarta Bagus Suryanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/6).
Dropping air bersih itu menggunakan truk tangki berkapasitas 5.000 liter per tangki. Mulai dari Kamis (20/6) mobil tangki itu berkeliling setiap hari di sekitar Gunungkidul untuk mendistribusikan air bersih bagi masyarakat.
Kejadian bencana kekeringan di Kabupaten Gunungkidul bukanlah yang pertama kali. Hampir setiap musim kemarau wilayah Gunungkidul mengalami kekeringan. Pada 2018, ada 100 ribu jiwa yang menjadi korban dampak dari kekeringan.
Krisis itu terjadi akibat kondisi geografis tanah yang didominasi bebatuan karst berongga yang menyebabkan air hujan sulit untuk tertampung di permukaan tanah. Upaya pemulihan vegetasi hutan di Gunungkidul pun membutuhkan waktu hingga 30 tahun.
Photo
Warga Kabupaten Gunungkidul menampung air bersih dari mobil tangki yang didistribusikan ACT DI Jogjakarta. (ACT for JawaPos.com)
Selain itu, sumber air tanah berada pada kedalaman di atas 100 meter sehingga hampir dipastikan ketika musim kemarau tiba, warga masyarakat Gunungkidul akan membutuhkan suplai air bersih dari luar daerah.
Winarno, tim ACT-MRI menambahkan, kini mayoritas sumur galian warga sudah mengering. Warga yang mengandalkan PAM Desa, debit airnya kadang tidak mencukupi keperluan sehari-hari.
Bagi warga yang rumahnya belum tersentuh PAM desa memanfaatkan air telaga untuk keperluan sehari-hari. Di sana mereka menyiapkan bak penampungan. "Bahkan ada juga warga yang membeli air, bahkan ada yang sejak Januari lalu,” terang Winarno.
Selain menyiapkan dropping air bersih, tim ACT juga akan memaksimalkan program sumur wakaf yang dikelola oleh Global Wakaf–ACT di Gunungkidul. Sampai saat ini jumlah Sumur Wakaf yang telah dibangun di Kabupaten Gunungkidul dan sekitarnya. Jumlahnya telah mencapai 18 titik dengan kedalaman beragam. Mulai dari 50 meter hingga 100 meter.
“Semoga ikhtiar kita dengan melakukan dropping air bersih maupun pembangunan sumur wakaf dapat membantu puluhan ribu warga Gunungkidul yang kini terdampak kekeringan.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
