
Kain kafan di makam yang terletak di pesisir Pantai Galesong, Telekor Utara, Sulsel menyembul keluar karena abrasi.
JawaPos.com- Tiga makam di Desa Sampulungan, Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) rusak. Terbongkarnya sebagian isi kuburan di kawasan pesisir Pantai Galesong itu karena abrasi yang dipicu akfitas penambangan pengerukan pasir laut.
Tokoh masyarakat Desa Sampulungan, Daeng Muntu, 47, mengatakan, dampak puncak abrasi mulai dirasakan warga sekitar sejak Desember 2017 lalu. Dampak abrasi ini disebabkan masifnya pengerukan pasir laut di pesisir Galesong. Pasir laut yang dikeruk digunakan untuk menambah timbunan pantai buatan di Center Point of Indonesia (CPI), di Kota Makassar.
"Di desa ini, ada tiga mayat yang sudah kelihatan. Tulang belulang dan kain kafan mayat tersebut sudah bertebaran di pesisir. Ini belum termasuk mayat yang hanyut dilaut. Sudah banyak mayat manusia hilang yang tertutupi oleh pasir, keluarga almarhum marah melihat kuburan neneknya rusak, mereka tidak tahu mengadu ke mana,” ujarnya, Senin (19/11).
Dampak abrasi mengakibatkan sebagian besar kawasan pekuburan di pesisir pantai perlahan tergerus. Arus ombak yang besar terus menerjang serta mengikis bibir pantai hingga pekuburan. Saat ini panjang abrasi sudah mencapai 25 hingga 30 meter dari pesisir.
"Semenjak adanya penambangan, belum ada respon baik dari pemerintah desa, sehingga pesisir rusak. Ini terjadi juga di Desa Mangindara. Sebagian kuburan tertutupi oleh pasir laut. Sehingga kuburan masyarakat pesisir belum teridentifikasi, berapa mayat yang hilang," jelasnya.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel mencatat, sejak aktifitas penambangan oleh Perusahaan asal Belanda PT Royal Boskalis dan Jan De Nul pada 2017 lalu, sudah ada 20 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya rusak parah. Penambangan pasir itu berimbas pada abrasi..
Puluhan KK yang menjadi korban terdapat di dua Desa berbeda. Tepatnya di Desa Bontosunggu dan Desa Tamasaju. "Penambangan pasir laut sangat masif. Pasir tersebut untuk menimbun pesisir Makassar. Namun kegiatan ini sangat mengecewakan masyarakat yang tinggal," terang Koordinator Divisi Advokasi Walhi Sulsel Muhaimin.
Tempat tinggal masyarakat pesisir terendam air laut. Mereka terpaksa pindah ke tanah milik pemerintah desa. Laju abrasi pesisir pantai sangat cepat. Abrasi di dua Desa itu kini telah mencapai 40 hingga 50 meter dari posisi sebelumnya.
Sepanjang pesisir Galesong, penambangan pasir laut juga menghilangkan mata pencarian nelayan. Hingga 350 orang beralih profesi menjadi, buruh bangunan, petani sawi, penjual ikan dan tukang ojek. "Nelayan banyak menjadi korban. Selama tujuh bulan aksi pengerukan pasir, selama itu nelayan menderita. Terutama masyarakat di Desa Sampulungan dan Desa Mangindara," sebutnya.
Kuburan yang terbongkar itu rencananya bakal dipindahkan oleh pihak keluarga masing-masing. Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) terus mengupayakan agar aparat pemerintah desa mencarikan solusi terbaik dari aktifitas pengerukan pasir laut.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
