
Ketua Suku Hokkian di Kota Malang Bonsu Anton Triyono.
JawaPos.com- Etnis Tionghoa memiliki beragam suku. Salah satu yang eksis di Kota Malang adalah Hokkian. Suku ini identik dengan bisnis onderdil kendaraan dan tekstil.
Ketua Suku Hokkian di Kota Malang Bonsu Anton Triyono menerangkan, keberadaan suku Hokkian di Kota Malang hingga saat ini cukup banyak. Hokkian sudah ada sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu.
"Jumlahnya ribuan dan masih ada di Malang,” terangnya kepada JawaPos.com, kemarin (4/2).
Anton menceritakan, etnis Tionghoa diperkirakan memasuki wilayah Malang Raya sekitar abad ke-15. Hal itu ditandai dengan adanya Kampung Marguan yang terletak di kawasan Gunung Kawi. Kemudian mereka menyebar ke seluruh wilayah Malang Raya.
Selanjutnya pada 1916, pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kuasa di kawasan Pecinan yang ada di Kota Malang.
"Awalnya mereka berencana memindahkan pasar ke Jalan Kahuripan (saat ini menjadi pasar bunga, Red). Namun, warga Tionghoa di Pecinan menolak. Sehingga mereka membantu dana pembangunan pasar dengan syarat, tempat berjualannya tidak pindah," ceritanya.
Kemudian pada 1920, Pasar Besar Malang mulai dibangun di daerah Pecinan. Pembangunan itu memakan waktu sekitar empat tahun, hinga 1924. Saat diresmikan, tempat itu menjadi pasar induk pertama yang dimiliki pemerintah Belanda di Malang.
Saat pertama kali berdiri, pasar itu terdiri dari 20 stan. Mulai dari toko kelontong, sayur dan buah, daging dan ikan, hingga pakaian. Sampai saat ini, kawasan Pecinan tersebut semakin meluas dan semakin berkembang.
“Masih banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal di Pecinan. Mereka masih aktif berdagang dan melakukan segala profesi,” kata Anton.
Namun, Anton mengakui bahwa saat ini kawasan Pecinan yang ada di daerah Pasar Besar Malang memang sedikit mengalami perubahan. Menurutnya, hal itu merupakan sesuatu yang wajar.
"Itulah zaman. Makanya saya imbau agar di dalam zaman yang sudah demokrasi ini, tidak mempermasalahkan kedatangan etnis kami," tuturnya.
Bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek ini, Anton meminta seluruh masyarakat agar hidup damai dan tentram hingga akhir zaman. “Banggalah menjadi warga NKRI, jangan pernah membedakan suku dan etnis, jangan pernah dipermasalahkan. Jadikan tradisi budaya dan kultur sebagai bentuk kebersatuan. Sehingga bisa rukun dan sentosa,” tutup Anton.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
