
Ilustrasi bersedekah. (Freepik)
JawaPos.com - Bulan suci Ramadhan akan tiba pada bulan depan. Bisa dibilang bulan penuh ampunan ini akan tiba dalam hitungan hari.
Puasa tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan fisik, tapi juga memiliki hubungan yang kuat dengan kesehatan mental.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan tingkat stres, mengendalikan emosi, serta meningkatkan ketenangan batin.
Oleh karena itu, puasa sangat tepat apabila dijadikan sebagai momentum refleksi diri dan pemulihan psikologis, terutama menjelang bulan suci Ramadhan.
Dilansir dari NU Online, dokter spesialis kesehatan jiwa Rumah Sakit YASRI, Citra Fitri Agustina, mengungkapkan bahwa puasa tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik seseorang, tapi juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan emosional.
Menurut dia, puasa dapat meningkatkan suasana hati (mood) orang yang berpuasa. Sejumlah momen kebersamaan dengan keluarga atau orang-orang terdekat seperti saat berbuka puasa atau bersantap sahur bersama dapat meningkatkan kebahagiaan. Sejumlah kegiatan di bulan Ramadhan juga dapat memicu pelepasan hormon endorfin (antistres) dalam tubuh yang memicu lahirnya perasaan senang.
“Saat puasa Ramadhan, ada masa-masa sahur bareng, buka puasa bareng atau silaturahmi. Masa-masa ibadahnya makin tertempa. Di bulan biasa ngajinya cuma semenit, selama puasa ngajinya bisa satu jam. Secara psikologis, itu membuat hati menjadi lebih tenang,” kata Citra.
Ibadah puasa mengajarkan umat Islam untuk dapat menahan diri dorongan biologis dan emosional. American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa kemampuan self-regulation atau pengendalian diri berperan penting dalam menjaga stabilitas mental dan menurunkan risiko stres berlebihan.
Dengan terbiasa menahan amarah, lapar, dan emosi negatif, muslim dan muslimah akan lebih mampu mengelola tekanan hidup sehari-hari. Hal itu berdampak langsung pada peningkatan kecerdasan emosional.
Perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas ibadah selama puasa memengaruhi sistem hormon dan kerja otak. Jika dijalani dengan pola yang seimbang, puasa justru dapat menjadi sarana alami untuk menjaga kesehatan mental secara holistik.
“Misalnya, tidur setelah sholat tarawih dan bangun lebih cepat (untuk sahur). Itu juga salah satu yang membangkitkan suasana hati jadi lebih baik. Pada saat Ramadhan kualitas tidur lebih baik sehingga angka kecemasan dan stres berkurang,” ungkap Citra.
Selain itu, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa praktik spiritual seperti puasa, doa, dan meditasi dapat menjadi faktor protektif terhadap gangguan kecemasan dan stres kronis.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
