
Bernard Arnault, CEO LVMH dan orang terkaya di Prancis (Le Monde)
JawaPos.com - Bernard Arnault, orang terkaya Prancis sekaligus pengendali kerajaan barang mewah LVMH, menghadapi tekanan hukum setelah pengadilan administratif Prancis memerintahkan dirinya membayar kembali kewajiban pajak sebesar €22,5 juta atau sekitar Rp461 miliar dengan kurs €1 setara Rp20.480. Putusan tersebut menjadi tantangan terbaru bagi miliarder yang selama puluhan tahun membangun dominasi Prancis dalam industri luxury global.
Sengketa ini berkaitan dengan transaksi keuangan yang melibatkan struktur kepemilikan saham LVMH melalui perusahaan holding di Belgia. Arnault dan istrinya dinilai seharusnya membayar pajak atas sebagian besar dana yang mereka terima setelah menarik sekitar €50 juta dari perusahaan tersebut. Namun, pihak Arnault menilai pembayaran itu merupakan pengembalian modal yang tidak seharusnya dikenai pajak.
Sengketa pajak tersebut telah berlangsung sejak 2020 dan sebelumnya dua kali menghasilkan keputusan yang menguntungkan Arnault. Namun, putusan terbaru pengadilan administratif Prancis membatalkan keputusan sebelumnya dan menetapkan kembali kewajiban pembayaran pajak sebesar €22,5 juta.
Baca Juga:Bernard Arnault dan Kontroversi Dominasi Media Bisnis Prancis di Tengah Gelombang Konsolidasi Global
Dilansir dari Financial Times, Selasa (21/7/2026), pihak Arnault menyatakan akan mengajukan banding ke Conseil d’État, lembaga peradilan administratif tertinggi di Prancis.
"Putusan ini, yang membatalkan keputusan pengadilan tingkat pertama dan keputusan sebelumnya dari pengadilan banding yang sama, akan diajukan banding ke Conseil d’État," ujar juru bicara Arnault.
Dalam putusannya, pengadilan menetapkan kembali kewajiban berupa pajak penghasilan tambahan, iuran sosial, serta kewajiban terkait pajak kekayaan senilai total €22,5 juta. Otoritas pajak Prancis berpendapat bahwa sebagian besar dana yang diterima Arnault harus dikategorikan sebagai pendapatan yang dikenai pajak, bukan sekadar pengembalian modal seperti yang diklaim pihaknya.
Kasus tersebut kembali menyoroti hubungan rumit antara Arnault dan isu perpajakan di Prancis. Miliarder pemilik 50,01 persen saham pengendali LVMH itu sebelumnya menjadi pengkritik keras gagasan pajak kekayaan yang diusulkan ekonom Gabriel Zucman.
Arnault menyebut rencana tersebut "akan mematikan ekonomi Prancis." Dia juga menilai Zucman sebagai "aktivis sayap kiri ekstrem yang menggunakan kompetensi akademis semunya untuk melayani ideologinya."
Sementara itu, dilansir dari Le Monde, Selasa (21/7/2026), sengketa pajak tersebut menjadi salah satu tekanan yang membayangi Arnault ketika LVMH menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penurunan laba hingga pertanyaan mengenai suksesi kepemimpinan di dalam keluarga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022