
Elon Musk saat menghadiri pertemuan dengan pejabat Saudi di Riyadh, mencerminkan kedekatan bisnis dan politik keduanya. (The Guardian)
JawaPos.com — Di balik citra Elon Musk sebagai pembela kebebasan berekspresi, terselip jaringan kekuasaan dan modal asing yang telah lama membentuk arah kebijakan Twitter, yang kini dikenal sebagai X.
Investigasi The Guardian bertajuk “Money Talks: The Deep Ties Between Twitter and Saudi Arabia” atau diartikan “Uang Berbicara: Keterikatan Mendalam antara Twitter dan Arab Saudi”, mengungkap bagaimana Kerajaan Arab Saudi tidak hanya menjadi investor utama, tetapi juga memanfaatkan platform itu sebagai alat politik untuk memperluas pengaruhnya di ranah digital global.
Melansir The Guardian, Sabtu (11/10/2025), sejak awal, keterlibatan Saudi di Twitter bersifat strategis. Pangeran Alwaleed bin Talal, melalui Kingdom Holding Company, tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar dengan porsi sekitar 5,2 persen.
Namun, pada 2017, Alwaleed ditahan dalam operasi “pemberantasan korupsi” yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Penahanan itu menandai pergeseran kontrol saham menuju orbit kekuasaan baru di Riyadh, memperkuat posisi politik kerajaan dalam struktur kepemilikan Twitter.
Keterlibatan Saudi tidak berhenti pada kepemilikan saham. The Guardian melaporkan bahwa pemerintah Saudi juga berhasil menyusupkan pegawai di dalam Twitter untuk memperoleh data pribadi pengguna yang dianggap mengkritik rezim.
Dua mantan pegawai, Ahmad Abouammo dan Ali Alzabarah, didakwa menyalurkan informasi sensitif seperti alamat surat elektronik, nomor telepon, dan lokasi pengguna kepada pejabat Saudi. Tindakan tersebut menjadi bukti nyata bahwa platform digital dapat dijadikan instrumen pengawasan politik lintas negara.
Ali al-Ahmed, analis kebijakan asal Saudi yang akun Twitter berbahasa Arab-nya diblokir, mengatakan bahwa perusahaan teknologi besar sering kali mengabaikan hak asasi manusia demi kepentingan finansial.
“Twitter dan Facebook bukanlah platform teladan kebebasan. Mereka lebih memilih uang daripada prinsip,” ujarnya kepada The Guardian. Pandangan ini menggambarkan ketegangan antara idealisme kebebasan berekspresi dan realitas ekonomi global yang mengikat platform tersebut.
Dalam praktiknya, Twitter telah berubah dari ruang diskusi publik menjadi alat kontrol sosial. Akun anonim yang dianggap aman ternyata mudah dilacak identitasnya, dan sejumlah pengguna dilaporkan ditangkap setelah aktivitas daring mereka terungkap.
Bagi banyak pengamat, fenomena ini menunjukkan bahwa kendali atas informasi kini menjadi bentuk kekuasaan baru di era digital. Ketika Elon Musk mengakuisisi Twitter pada Oktober 2022 dengan nilai sekitar 44 miliar dolar AS (sekitar Rp 730 triliun dengan kurs Rp16.580 per dolar), dia tidak hanya membeli sebuah perusahaan teknologi.
Musk juga mewarisi jalinan kepemilikan rumit yang melibatkan modal, kepentingan politik, dan pengaruh Saudi. Pangeran Alwaleed, yang semula menolak tawaran Musk, justru menjadi pendukung utama setelah akuisisi dan mengintegrasikan sahamnya ke dalam struktur kepemilikan baru.
Langkah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana Musk dapat menjaga independensi Twitter dari pengaruh luar. Meskipun dia menyebut dirinya sebagai “penganut kebebasan berbicara absolut,” Musk tampak enggan mengkritik pelanggaran kebebasan berekspresi di Saudi atau penggunaan platformnya untuk menekan suara oposisi. Sikap diam ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kebebasan yang dijanjikan justru berubah menjadi kebebasan semu.
The Guardian menyoroti bahwa sejak akuisisi Musk, Twitter—yang kini berganti nama menjadi X—semakin jauh dari perannya sebagai ruang demokrasi digital. Platform itu kini dipandang sebagai medan tarik-menarik antara modal Silicon Valley dan kekuatan politik Teluk.
Bagi banyak pengamat, kondisi ini mencerminkan bagaimana teknologi modern tidak lagi netral, melainkan menjadi alat negosiasi antara kapital dan kekuasaan.
Dalam lanskap global yang kian terpolarisasi, dinamika Twitter menunjukkan bahwa kebebasan digital bergantung pada siapa yang menguasai infrastrukturnya. Di bawah bayang-bayang Saudi, platform tersebut berisiko menjadi bagian dari strategi politik global yang melampaui batas negara. Elon Musk kini menapaki batas tipis antara idealisme kebebasan dan kepentingan geopolitik yang rumit.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
