Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Agustus 2025 | 03.10 WIB

Donald Trump Perintahkan Dua Kapal Selam Nuklir Bergerak, Picu Kekhawatiran Eskalasi Konflik dengan Rusia

Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump mengaku perintahkan kapal selam nuklir AS bergerak. (Dok. X @nicksortor) - Image

Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump mengaku perintahkan kapal selam nuklir AS bergerak. (Dok. X @nicksortor)

JawaPos.com - Presiden AS Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah mengklaim bahwa dirinya memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk bersiaga di "wilayah yang tepat". 

Pernyataan ini disampaikannya menyusul komentar provokatif dari mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang menyinggung potensi perang nuklir.

"Karena pernyataan sangat provokatif dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir ditempatkan di lokasi yang sesuai, kalau-kalau omongan bodoh dan provokatif itu bukan sekadar omongan," tulis Trump di media sosial, Jumat (1/8).

Trump tidak menjelaskan jenis kapal selam yang dimaksud, namun kapal selam AS umumnya bertenaga nuklir dan sebagian memiliki rudal berhulu ledak nuklir. 

Pentagon dan Angkatan Laut AS menolak berkomentar, sesuai kebijakan militer yang tidak mengungkap lokasi operasional kapal selam karena alasan strategis. Langkah Trump ini dinilai lebih sebagai sinyal politik ketimbang tindakan militer nyata. 

Pakar keamanan menilai retorika tersebut tidak mencerminkan adanya perubahan besar dalam postur militer AS, karena kapal selam nuklir AS memang selalu siaga untuk menghadapi skenario terburuk, termasuk kemungkinan konflik dengan Rusia.

“Pernyataan ini tidak bertanggung jawab dan tidak bijak,” kata Daryl Kimball dari Arms Control Association.

Sementara Hans Kristensen dari Federation of American Scientists menambahkan, “Kapal selam nuklir AS sudah selalu dalam posisi siap. Jadi, tidak perlu dipindahkan.”

Medvedev, yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, sebelumnya menyindir Trump agar "berhati-hati dengan kata-kata" dan mengingat kemampuan nuklir Rusia yang diwarisi dari era Soviet. 

Medvedev sendiri dikenal sebagai tokoh garis keras pro-Kremlin, dan sering melontarkan komentar ekstrem soal Barat.

Pertukaran sindiran antara Trump dan Medvedev terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Rusia-Ukraina. 

Trump, yang sebelumnya mengaku punya hubungan baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kini semakin vokal mengkritik Moskow dan menuntut Rusia menyetujui gencatan senjata dalam 10 hari, sebuah ultimatum yang belum ditanggapi Kremlin.

Evelyn Farkas dari McCain Institute menilai pernyataan Trump lebih bersifat simbolik. "Ini hanya sinyal politik. Bukan awal dari konfrontasi nuklir, dan Rusia pun tampaknya tidak menganggapnya serius," katanya.

Namun, para analis memperingatkan bahwa retorika nuklir seperti ini bisa menciptakan ekspektasi berbahaya dan memperkeruh situasi geopolitik yang sudah panas.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore