Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Desember 2023 | 00.20 WIB

Hubungan AS-Tiongkok Diperkirakan Mengalami Lebih Banyak Gejolak pada 2024, Berikut Alasannya

Ilustrasi bendera Tiongkok dan Amerika Serikat - Image

Ilustrasi bendera Tiongkok dan Amerika Serikat

JawaPos.com – Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok diperkirakan lebih banyak gejolak pada 2024 mendatang. Sebelumnya, Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping bertemu pada November lalu dan mengisyaratkan untuk menurunkan ketagangan hubungan kedua negara.

Dilansir dari Reuters, terdapat beberapa alasan kenapa hubungan kedua negara bakal mengalami gejolak pada tahun mendatang. Pertama adalah pemilihan presiden dan legislatif Taiwan pada 13 Januari. Reaksi Tiongkok dapat menentukan apakah hubungan antara negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia akan dipenuhi dengan rasa saling curiga.

Pemilihan umum di pulau tersebut sebelumnya telah meningkatkan ketegangan. Hal ini terjadi pada 1996 ketika latihan militer dan uji coba rudal Tiongkok menjelang pemungutan suara mendorong AS untuk mengirim satuan tugas kapal induk ke wilayah tersebut.

Kali ini Beijing kembali meningkatkan tekanan militer dan politik, menggambarkan pemilu sebagai pilihan antara perdamaian dan perang. Beijing juga menyebut partai yang berkuasa sebagai separatis yang berbahaya dan mendesak masyarakat Taiwan untuk membuat pilihan yang tepat.

Pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2024 bisa menjadi lebih penting lagi. Terlebih jika Trump kembali terpilih menjadi presiden. “Ketika masyarakat Tiongkok memikirkan pemilu tahun depan, kembalinya Trump akan menjadi mimpi terburuk mereka,” kata Yun Sun, Direktur Stimson Center di Washington.

Meski dinilai buruk, di satu sisi, kembalinya Trump bisa menjadi keuntungan geopolitik bagi Tiongkok. Biden dengan cerdik meningkatkan tekanan terhadap Beijing dengan mempertahankan tarif era Trump, menambahkan kontrol ekspor baru, dan memperkuat aliansi AS.

Hal ini bisa jadi merupakan kepentingan para penguasa negeri tirai bambu tersebut, yang merasa terkekang oleh kekuatan Amerika. Meski mereka tidak senang dengan Biden, kata Sun, para penguasa Tiongkok melihat Trump sebagai seorang pemimpin yang mengikuti aturan keterlibatan dan hubungan semi-fungsional.

“Di bawah kepemimpinan Trump, tidak ada pembicaraan berarti tentang apa pun. Sebaliknya, terjadi peningkatan ketegangan yang tidak dapat dihentikan," katanya.

Konflik Chip

Pada Oktober lalu, AS memperketat pembatasan yang ada, menghentikan tambahan chip kelas atas dan menutup celah. Mereka juga mengadakan pembaruan lainnya kemungkinan terjadi pada tahun 2024. Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo memperkirakan akan ada pembaruan setidaknya setiap tahun

Meski terdapat perdebatan mengenai seberapa baik pengendalian ekspor dalam mencegah teknologi ini sampai ke Tiongkok, Beijing telah berjuang untuk melawan pembatasan tersebut. Terutama karena pembalasan terhadap perusahaan-perusahaan AS dapat menghilangkan modal asing yang dibutuhkan Beijing ketika pertumbuhan ekonomi melambat.

Salah satu pengaruh yang dimiliki Beijing adalah posisi dominannya sebagai pemasok logam tanah jarang yang diperlukan untuk produksi chip.

Pada Juli, Tiongkok mengumumkan pembatasan ekspor produk galium dan germanium tertentu, ekspor telah menurun tajam sejak saat itu. Ketegangan yang ditimbulkan oleh kebijakan AS hanya akan meningkat ketika otoritas AS menindak pelanggaran terhadap peraturan baru tersebut.

Pemerintahan Biden meluncurkan gugus tugas pada tahun 2023 untuk melawan upaya memperoleh teknologi sensitif AS secara ilegal. Investigasi terhadap pelanggaran nyata yang melibatkan ekspor teknologi ke Tiongkok sedang dilakukan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore