Dua bayi premature telah meninggal dunia di rumah sakit al-Shifa, karena kehabisan bahan bakar akibat serangan Israel. (Aljazeera)
JawaPos.com - Rumah sakit terbesar di Gaza berhenti berfungsi karena serangan dari Israel terus berlanjut. Hal ini mengakibatkan bertambahnya jumlah kematian di antara pasien.
Pasukan Israel memblokade rumah sakit, termasuk kompleks al-Shifa di wilayah utara Palestina, sehingga menyebabkan kesulitan dalam merawat pasien dan mengakibatkan tiga bayi baru lahir meninggal di Shifa. Tak hanya itu, banyak yang berisiko akibat pemadaman listrik di tengah pertempuran sengit.
Israel menyatakan sedang menargetkan militan Hamas Palestina yang terlibat dalam serangan di Israel selatan, dengan mengklaim kelompok tersebut memiliki pusat komando di bawah dan dekat rumah sakit.
WHO melaporkan situasi "mengerikan dan berbahaya" di rumah sakit Shifa, dengan tembakan dan pemboman yang terus-menerus memperburuk kondisi yang sudah kritis menurut Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus.
"Tragisnya, jumlah kematian pasien meningkat secara signifikan," ujar Direktur Jenderal WHO, dikutip tertulis oleh JawaPos.com dari japannews.yomiuri.co.jp.
Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah postingan di X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter), seraya menambahkan bahwa Shifa "tidak lagi berfungsi sebagai rumah sakit."
"Tidak ada alasan bagi dunia untuk tetap diam ketika rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan perlindungan, berubah menjadi tempat kematian, kehancuran, dan keputusasaan," imbuhnya.
Israel berusaha membebaskan lebih dari 200 sandera yang disandera oleh militan Hamas pada 7 Oktober, dengan menekankan evakuasi rumah sakit.
Uni Eropa mengutuk Hamas karena menggunakan "rumah sakit dan warga sipil sebagai perisai manusia" di Gaza, sambil mendesak Israel untuk menunjukkan "penahanan diri maksimal" demi melindungi warga sipil.
Lebih dari sebulan yang lalu, Israel mengumumkan perang terhadap Hamas setelah militan melancarkan serangan di Israel selatan, yang menyebabkan kematian sekitar 1.200 orang. Mayoritas korban adalah warga sipil, menurut pejabat Israel.
Pada hari Jumat, para pejabat Palestina melaporkan bahwa sejak saat itu, sebanyak 11.078 warga Gaza telah tewas akibat serangan udara dan artileri, dengan sekitar 40 persen dari jumlah tersebut merupakan anak-anak.
Reaksi dari militer Israel juga menimbulkan kemarahan, dengan ratusan ribu orang melakukan protes di ibu kota di berbagai belahan dunia untuk menyerukan gencatan senjata.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
