Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Februari 2019 | 00.26 WIB

Tiongkok Dukung Penuh Huawei yang Dikucilkan Sejumlah Negara

Pemerintah Tiongkok menyokong penuh raksasa teknologi Huawei yang kini dikucilkan sejumlah negara. Beijing melakukan aksi balasan kepada negara yang menyerang perusahaan itu - Image

Pemerintah Tiongkok menyokong penuh raksasa teknologi Huawei yang kini dikucilkan sejumlah negara. Beijing melakukan aksi balasan kepada negara yang menyerang perusahaan itu

JawaPos.com – Pemerintah Tiongkok menyokong penuh raksasa teknologi Huawei yang kini dikucilkan sejumlah negara. Beijing melakukan aksi balasan kepada negara yang menyerang perusahaan yang kerap dituduh melakukan aksi spionase tersebut.


South China Morning Post melaporkan, Tiongkok menyiapkan aksi balasan kepada Selandia Baru. Negeri Kiwi itu termasuk yang mencekal Huawei. Beijing telah berancang-ancang menunda kerja sama pariwisata dengan Selandia Baru.


Padahal, Asosiasi Pariwisata Selandia Baru-Tiongkok sudah menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari negeri dengan kue ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Misalnya, pemasangan layanan pembayaran asal Tiongkok, Alipay dan WePay.


Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern membenarkan bahwa hubungan kedua negara memang sedang rumit. Namun, dia menyangkal kabar bahwa hubungan bilateral sudah rusak. ’’Saya sudah mendapatkan undangan ke Tiongkok. Dan undangan itu tak berubah,’’ ujarnya.


Seharusnya, perdana menteri termuda sepanjang sejarah Selandia Baru tersebut berkunjung akhir tahun lalu. Namun, sampai saat ini, belum ada tanggal pasti kapan Ardern bakal disambut Perdana Menteri Xi Jinping. Malah, pemerintah Selandia Baru dikejutkan insiden penolakan pesawat Air New Zealand rute Auckland–Shanghai.


Menurut otoritas, insiden itu hanya kelalaian administratif Air New Zealand. Penerbangan selanjutnya pun berhasil mendarat di Shanghai. Namun, banyak yang khawatir insiden tersebut adalah balas dendam Tiongkok terhadap kasus pelarangan Huawei November lalu. Saat itu, Spark, operator telekomunikasi Negeri Kiwi, dilarang menggunakan produk Huawei oleh badan intelijen.


’’Saya khawatir insiden tersebut adalah cara Tiongkok mengungkapkan kekesalan mereka,’’ ujar Robert Scollay, mantan konsultan perdagangan pemerintah Selandia Baru.



Tahun lalu Huawei menjadi pabrikan ponsel terbesar ketiga di dunia. Perusahaan teknologi asal Tiongkok itu sempat berada di posisi kedua, satu strip di bawah Samsung. Kini Huawei benar-benar menjadi ancaman bagi Apple yang di pengujung tahun lalu akhirnya kembali merebut posisi kedua.



Pengusaha sudah pasti khawatir dengan keadaan tersebut. Tahun lalu 15 persen dari 3,8 juta wisman datang dari Tiongkok. Pengeluaran mereka menyumbang USD 16 miliar (Rp 226 triliun) kepada PDB Selandia Baru. Belum lagi industri susu dan produk turunan yang mengandalkan Tiongkok sebagai pasar utama. Sebanyak 25 persen ekspor produk olahan susu dikirimkan ke sana dengan total USD 15 miliar (Rp 212 triliun).



’’Jangan sampai ramalan (hubungan retak, Red) itu terjadi. Konsekuensinya sangat berbahaya,’’ tegas Jason Young, direktur New Zealand Contemporary China Research Centre di Victoria University.



Sampai saat ini, Huawei belum menyerah untuk memasuki pasar Selandia Baru. Pekan lalu mereka memasang iklan satu halaman di koran Australia. Mereka menyatakan, ’’5G tanpa Huawei sama seperti rugby tanpa Selandia Baru’’.



Pakar Keuangan David Zhang menyatakan bahwa Huawei ingin mencari simpati dari rakyat. Sebab, penduduklah yang bakal paling terdampak dalam kasus Huawei. ’’Pada akhirnya, mereka harus membayar biaya yang lebih untuk jasa yang sama,’’ ungkapnya.





Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore