Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Juni 2018 | 20.29 WIB

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Indonesia Pencemar Laut Terbesar Ke-2

Indonesia penghasil sampah terbesar di laut - Image

Indonesia penghasil sampah terbesar di laut

JawaPos.com - Tanggal 5 Juni 2018 didaulat sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun masih ada beberapa pekerjaan rumah bagi negara-negara ini untuk memperbaiki lingkungan. Foto-foto yang tersebar di dunia maya mengenai sungai-sungai yang tercemar oleh sampah di beberapa negara terlihat mengejutkan.


India termasuk dalam 14 kota yang paling tercemar sampah plastik di dunia. Menurut World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, India menjadi fokus utama untuk menyelesaikan masalah lingkungan hidup di sana.


Saluran air di Ibu Kota India, New Delhi tersumbat dengan plastik. Sementara jalan-jalan dipenuhi dengan kantong sampah dan sungai penuh dengan limbah dan polusi.


Saluran pembuangan limbah di daerah kumuh juga tersumbat dengan plastik. Penduduk pun bercerita tentang kehidupan di sekitarnya. Ram Nath, 40, mencari nafkah dari memilah sampah yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik.


Ia mendaur ulang sampah-sampah yang diambil dari Sungai Yamuna di India. Yamuna adalah salah satu sungai paling suci di India, tetapi juga salah satu yang paling tercemar.


Sementara, di Manila, Filipina, Sungai Pasig dianggap sebagai salah satu yang paling tercemar di dunia karena banyaknya sampah yang dibuang di sana. Meskipun tercemar, sungai ini tetap menjadi tempat berenang yang populer untuk anak-anak dan warga sekitar.


Para relawan lingkungan di Filipina menyerukan kepada pemerintah untuk merehabilitasi sungai. Mereka telah membentuk Komisi Rehabilitasi Sungai Pasig, tetapi usahanya tidak semakin baik dari waktu ke waktu.


Selain Manila, Indonesia telah digolongkan sebagai pencemar laut terbesar kedua di dunia, tepat setelah Tiongkok. Laporan menunjukkan Indonesia memproduksi 187,2 juta ton sampah plastik setiap tahun.


Indonesia kekurangan infrastruktur yang diperlukan untuk mengelola limbah mereka secara efektif. Masalahnya telah menjadi begitu parah sehingga tentara ikut dipanggil untuk membantu membersihkan sungai-sungai yang tersumbat dengan botol, tas, dan kemasan plastik.


Menurut penelitian, mungkin akan ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut pada tahun 2050 di dunia. Partikel plastik mungkin ada dalam makanan laut yang kita konsumsi sebab ikan di laut mengonsumsi plastik yang dilapisi bakteri dan alga.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore