
Ilustrasi kekerasan berbasis gender dan seruan untuk mengakhiri femisida, menggambarkan keberanian serta solidaritas perempuan dalam menghadapi ancaman kekerasan yang terus meningkat. (UN Women)
JawaPos.com - Kekerasan ekstrim terhadap perempuan kembali menjadi perhatian dunia setelah lembaga-lembaga PBB merilis data terbaru mengenai femicide. Fenomena ini, yang merujuk pada pembunuhan perempuan karena alasan berbasis gender, disebut UN Women sebagai bentuk kekerasan yang paling mematikan dan paling sulit dicegah.
Dalam penjelasannya, UN Women menyampaikan bahwa femicide umumnya terjadi di lingkup terdekat korban terutama dilakukan oleh pasangan intim atau anggota keluarga, menjadikan rumah sebagai tempat yang tidak lagi aman bagi banyak perempuan.
Laporan global terbaru Femicides in 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 50.000 perempuan dan anak perempuan kehilangan nyawa akibat kekerasan yang dilakukan pasangan atau keluarga sepanjang tahun tersebut. Dilansir dari laporan UN Women, angka ini setara dengan sekitar 137 perempuan yang tewas setiap hari, atau satu korban setiap 10 menit. Data ini diperkuat pernyataan resmi UNODC, yang menilai bahwa pola pembunuhan berbasis gender masih didominasi oleh pelaku yang memiliki hubungan dekat dengan korban.
Distribusi kasus pun menunjukkan ketimpangan antar wilayah. Menurut UN Women, tingkat femicide tertinggi secara proporsional tercatat di Afrika, disusul oleh Amerika dan Oseania. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan belum mencerminkan situasi sebenarnya. Banyak negara tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai, sehingga sebagian besar kasus tidak tercatat sebagai femicide meski memiliki motif berbasis gender.
Fenomena pembunuhan terhadap perempuan ini juga berkaitan dengan pola kekerasan yang berlangsung lama. Dilansir dari jurnal The Lancet, riset mengenai kekerasan pasangan intim menunjukkan bahwa lebih dari seperempat perempuan usia 15 - 49 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangannya.
Temuan WHO pun sejalan, menyebutkan bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidup mereka. WHO menekankan bahwa kekerasan semacam ini meninggalkan dampak jangka panjang, mulai dari gangguan kesehatan fisik, trauma psikologis, hingga risiko kesehatan reproduksi.
UN Women menjelaskan bahwa ketidaklengkapan data menjadi salah satu tantangan utama dalam menekan angka femicide. Banyak kasus tidak diperiksa dari sudut pandang gender, sehingga motif pembunuhan sering terabaikan. Karena itu, PBB telah mengembangkan kerangka statistik baru untuk memperbaiki metode pencatatan dan memastikan kasus pembunuhan berbasis gender dapat diidentifikasi dengan lebih akurat.
Dengan meningkatnya jumlah korban serta luasnya kesenjangan dalam pelaporan, lembaga internasional menilai femicide sebagai krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian global. UN Women menegaskan bahwa pencegahan bisa dilakukan melalui perlindungan hukum yang lebih kuat, layanan pendampingan korban, serta perubahan norma sosial yang masih menormalkan kekerasan terhadap perempuan. Tanpa langkah nyata, femicide diperkirakan akan terus meningkat dan menelan lebih banyak korban setiap tahunnya. (*)

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
