Setelah makan malam, Ji dan istrinya memberi kedua putra mereka minuman energi yang dicampur dengan pil tidur.
Beberapa jam kemudian, pasangan itu menabrakkan mobil mereka ke laut bersama kedua anaknya yang berada di dalam.
Ketika mobil itu menghantam air, Ji panik dan melarikan diri sendirian melalui jendela pengemudi.
Setelah ditangkap atas tuduhan
pembunuhan dan membantu bunuh diri, Ji mengatakan kepada polisi bahwa ia terlilit hutang hampir 200 juta won atau sekitar Rp 2,3 miliar.
Hutang itu menumpuk, setelah Ji tidak dibayar untuk mengawasi kru besi beton di sebuah lokasi konstruksi.
Ji yakin jika hanya ia dan istrinya yang meninggal, beban keuangan akan ditanggung oleh putra-putra mereka.
Kasus ini merupakan salah satu dari beberapa tragedi keluarga terkini di
Korea Selatan, yang berkaitan dengan kesulitan
ekonomi.
Di negara dengan salah satu tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, insiden di mana
orang tua membunuh anak-anak mereka sebelum bunuh diri, menggarisbawahi urgensi krisis bunuh diri yang semakin meningkat di negara tersebut.
Pada hari Selasa (15/7), tiga orang yang diyakini anggota keluarga ditemukan tewas di dalam mobil di pulau Yeongjong di Incheon, yang mendorong penyelidikan lebih lanjut dari polisi.
Sehari sebelumnya, empat anggota keluarga yaitu pasangan berusia 40-an dan dua anak remaja mereka ditemukan tewas, di dalam mobil yang terparkir di sebuah kompleks apartemen di Hwaseong, provinsi Gyeonggi.
Sebuah catatan bunuh diri yang ditemukan di lokasi kejadian, yang menunjukkan kesulitan keuangan keluarga tersebut.
Korea Selatan menghadapi krisis bunuh diri yang serius. Statistik Korea melaporkan bahwa pada tahun 2023, tingkat bunuh diri mencapai 27,3 per 100.000 orang atau kira-kira dua kali lipat rata-rata di antara negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
Tingkat bunuh diri berkaitan erat dengan kondisi
ekonomi. Sebuah studi oleh Asosiasi Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Korea, yang mengkaji data dari 16 wilayah utama antara tahun 2000 dan 2022.
Hasilnya menemukan, bahwa tingkat bunuh diri lebih rendah di wilayah dengan jumlah penerima bantuan sosial lebih sedikit, dan kemandirian fiskal yang lebih tinggi.
Hal paling mengkhawatirkan, seperti yang ditunjukkan oleh kasus-kasus terkini, adalah meningkatnya jumlah
orang tua yang membunuh anak-anak mereka sebelum mengakhiri hidup mereka sendiri.
Sebuah studi oleh kelompok advokasi anak Save the Children menemukan, bahwa antara tahun 2014 dan 2023, terdapat 102 putusan pengadilan yang melibatkan orang tua yang mencoba melakukan
pembunuhan-bunuh diri, yang melibatkan 147 anak.
Enam puluh enam anak meninggal, dan 81 anak selamat. Tujuh puluh tiga persen korban berusia di bawah 9 tahun, dan 76 persen insiden terjadi di rumah.
Banyak ahli mengatakan, bahwa pembunuhan-bunuh diri dalam keluarga yang melibatkan anak-anak mencerminkan pola pikir budaya, di mana identitas orang tua sangat terkait dengan keturunannya.
"Di Korea, ada kecenderungan berlebihan bagi orang tua untuk menyamakan anak-anak mereka, dengan diri mereka sendiri."
"Keyakinan mendalam bahwa orang tua memiliki anak-anak mereka, bertanggung jawab penuh atas mereka, dan berpikir sebagai satu kesatuan, dapat menyebabkan pembunuhan-bunuh diri," ujar Lim Myung Ho, seorang profesor psikologi di Universitas Dankook, kepada The Korea Times.
Ia menambahkan bahwa dalam masyarakat Asia Timur, kohesi keluarga seringkali begitu kuat sehingga anggota keluarga lainnya dipandang sebagai perpanjangan dari diri sendiri.
"Ada kecenderungan kuat untuk mengidentifikasi diri secara berlebihan, berpikir ‘Kita satu tubuh, kita berbagi pemikiran yang sama.’ Identifikasi berlebihan semacam ini bisa berbahaya."
Sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam Jurnal Humaniora dan Ilmu Sosial 21, tentang kasus di mana orang tua membunuh anak-anak mereka dan kemudian mereka sendiri mendukung perspektif ini.
Studi ini mencatat, bahwa dalam budaya Asia Timur yang dibentuk oleh nilai-nilai keluarga konfusianisme, orang tua dan anak sering dianggap bernasib sama.
Dalam konteks ini, krisis pribadi orang tua dianggap tidak terpisahkan dari krisis pribadi anak, sehingga beberapa orang memandang tindakan bunuh diri dan bunuh diri anak, sebagai tragedi keluarga yang tunggal dan terpadu.
Bark Hyung Min, peneliti senior di Institut Kriminologi dan Keadilan Korea, sependapat bahwa memperlakukan anak-anak sebagai harta benda, alih-alih sebagai individu yang mandiri, merupakan faktor kunci di balik tragedi semacam itu.
Untuk mencegahnya, ia menekankan pentingnya sistem pendidikan dan kesejahteraan yang lebih kuat.
"Kita perlu mengubah keyakinan tradisional, bahwa anak-anak adalah tanggung jawab penuh orang tua melalui perubahan sikap sosial dan pendidikan," kata Bark.
"Jaring pengaman yang lebih kuat, yang memastikan anak-anak dapat dibesarkan dengan baik tanpa orang tua mereka, juga dapat membantu menghilangkan anggapan bahwa membunuh mereka adalah tindakan kepedulian."