
Asap tebal membubung setelah serangan rudal balasan dari Iran menghantam wilayah Tel Aviv, Israel, pada Jumat malam, 13 Juni 2025. (Reuters)
JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dikabarkan menutup total Kedutaan Besarnya di Yerusalem selama tiga hari mulai Rabu (18/6). Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya eskalasi konflik militer antara Israel dan Iran.
Aksi mendadak ini sontak menimbulkan pertanyaan tajam: apakah AS mulai gentar menghadapi perang terbuka dengan Iran?
Dalam pernyataan resmi, Kedutaan AS menyebut keputusan ini diambil menyusul kondisi keamanan yang memburuk akibat konflik bersenjata antara dua musuh bebuyutan Timur Tengah, Israel dan Iran.
Seluruh staf dan keluarga pegawai pemerintah AS diminta tetap berlindung di rumah tanpa kepastian kapan situasi akan aman.
“Dengan mempertimbangkan situasi keamanan dan arahan dari Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel, Kedutaan akan ditutup hingga Jumat, termasuk seluruh layanan konsuler di Yerusalem dan Tel Aviv,” ujar pernyataan tersebut.
Penutupan ini terjadi ketika serangan udara Israel yang telah berlangsung selama lima hari dikabarkan telah menghantam pusat pengayaan uranium bawah tanah milik Iran di Natanz.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bahkan mengkonfirmasi bahwa fasilitas sensitif tersebut terkena dampak langsung dari serangan.
Setidaknya 224 warga Iran dilaporkan tewas akibat bombardir Israel, sementara Iran membalas dengan meluncurkan lebih dari 400 rudal dan ratusan drone ke wilayah Israel. Korban jiwa di pihak Israel tercatat mencapai 24 orang sejauh ini.
Pihak militer AS mengklaim hanya terlibat dalam aksi defensif, dengan menembak jatuh rudal-rudal Iran untuk melindungi sekutunya, Israel. Namun di balik layar, tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump terus meningkat.
Israel juga secara terbuka meminta AS turun tangan secara militer, termasuk menyediakan bom penghancur bunker dan dukungan udara langsung.
Terkait hal tersebut, Presiden AS Donald Trump dalam unggahan media sosialnya mengklaim bahwa, “Amerika kini sepenuhnya menguasai langit Iran.”
Pemerintahannya bahkan dilaporkan telah mengirim tambahan jet tempur canggih seperti F-16, F-22, dan F-35 ke kawasan Teluk.
Namun, di tengah aksi militer dan retorika perang yang menggelora, penutupan Kedutaan AS justru menyiratkan kekhawatiran terselubung. Apakah Washington bersiap mundur atau hanya menyiapkan pukulan besar berikutnya?
Langkah ini dinilai banyak analis sebagai sinyal bahwa situasi telah mencapai titik kritis yang berbahaya, dan dunia kini menyaksikan babak baru dalam konflik Timur Tengah yang bisa melibatkan kekuatan global secara langsung.
"Ketika Amerika mulai mengevakuasi diplomatnya dari zona perang, dunia patut waspada. Ini bukan hanya tentang Iran dan Israel lagi, ini bisa menjadi pemantik perang regional bahkan global," ujar seorang analis geopolitik di New York melansir Newsweek.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
