Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 11 September 2017 | 18.15 WIB

Dari Konflik Rohingya: Bawa 3 Anak, Berlindung Dulu 2 Hari di Hutan

Para pengungsi dari konflik Rohingya yang terjadi di distrik Maungdaw di Pee Sree Dasha Puja Bari Hindu Temple, Sittwe - Image

Para pengungsi dari konflik Rohingya yang terjadi di distrik Maungdaw di Pee Sree Dasha Puja Bari Hindu Temple, Sittwe


Sittwe dipenuhi puluhan kamp pengungsi dari berbagai agama yang terkena dampak konflik Rohingya. Umumnya, yang menghuni penampungan adalah perempuan dan anak-anak. Para suami bertahan di tempat asal untuk menjaga harta masing-masing.



Laporan langsung Dhimas Ginanjar, dari Sittwe, Myanmar



YANG ditunggu-tunggu para penghuni biara meditasi di Sittwe itu akhirnya datang. Bergalon-galon air minum yang diangkut sebuah mobil pikap putih.



Tidak lama berselang, Jumat sore lalu itu (8/9) seorang laki-laki datang dengan membawa jajanan. Kalau sebelumnya yang merubung air minum para nenek dan ibu-ibu muda, kali ini giliran anak-anak kecil dengan bedak thanaka di wajah.



Mereka menengadah dan menjulurkan tangan untuk mendapat kue dari pria itu. Setelah mendapatkan yang diinginkan, dengan segera mereka bermain. Ada yang berlari-larian, menggambar, sampai bermanja-manja dengan sang ibu. Kegembiraan khas para bocah yang terlihat seperti tak menyisakan jejak kesusahan.



Padahal, bersama para orang tua, mereka sudah lebih dari dua minggu tinggal di penampungan pengungsi itu. Mayoritas pengungsi berlindung di sana tiga hari setelah konflik Rohingya meletus pada 25 Agustus lalu.



Biara meditasi tersebut hanya 1 di antara 20 lokasi penampungan umat Buddha di Sittwe. Jumlah pengungsi di tiap penampungan berbeda. Di biara meditasi itu, ada 80 laki-laki dan 152 perempuan. Di setiap pintu masuk, ada beberapa biksu yang ikut menjaga.



Ya, konflik itu memang tak hanya berdampak pada kelompok muslim Rohingya. Tapi juga pemeluk agama lain yang berdomisili di sekitar episentrum konflik di Distrik Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar.



Dari Sittwe, ibu kota Rakhine, Maungdaw terpisah jarak sekitar 100 km. Shosho, 35, salah seorang pengungsi dari Desa Mawyawaddy, mengaku memutuskan untuk lari pada 24 Agustus malam. Saat itu benih-benih konflik mulai muncul.



Dia baru sampai di Sittwe pada 28 Agustus, setelah dua hari berlindung di hutan. "Sewa perahu dan mobil. Satu orang bayar 10 ribu kyat (sekitar Rp 100 ribu, Red)," ujar ibu tiga anak itu.



Dia ingat betul, sebelum memutuskan untuk lari, ada kelompok yang mulai menyerang dan membakar desa tempat tinggalnya. Shosho tidak yakin apakah yang melakukan serangan itu Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).



ARSA-lah yang menyerang pos-pos keamanan yang lantas dijadikan alasan militer Myanmar untuk melakukan pembalasan. Buntut pembalasan brutal itu, 400-an warga Rohingya tewas dan hampir 300 ribu lainnya mengungsi ke Bangladesh.



Rakhine, yang dulu bernama Arakan, terbagi menjadi lima distrik. Sittwe merupakan yang terluas. Berdasar sensus 2014, penduduk Rakhine mencapai 3.188.807 jiwa. Sebanyak 52,2 persen atau sedikitnya 1,6 juta penduduk beragama Buddha. Sedangkan 42,7 persen atau sekitar 1,3 juta penduduk adalah muslim. Sebanyak 1,8 persen lainnya memeluk Kristen. Sisanya memeluk Hindu serta agama lain.



Shosho tidak tahu bakal sampai kapan berada di penampungan. Yang jelas, dia sudah sangat kangen dengan rumah dan suami.



Memang tidak semua yang mengungsi adalah pasangan suami istri. Kebanyakan pria tetap berada di desa untuk melindungi aset masing-masing.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore