Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Juni 2023 | 20.45 WIB

Petualangan Gladys Suwandhi setelah Meninggalkan Dunia Hiburan: Jelajahi Alam, Belajar Banyak dari Sesama

BUGAR: Berfokus pada keluarga setelah menikah, kini Gladys aktif membagikan petualangan serta aktivitas olahraganya di medsos dan YouTube. - Image

BUGAR: Berfokus pada keluarga setelah menikah, kini Gladys aktif membagikan petualangan serta aktivitas olahraganya di medsos dan YouTube.

JawaPos.com - Nama Gladys Suwandhi meroket saat memerankan Farah dalam film Yang Masih di Bawah Umur pada 1985. Bintang film dan model yang juga pernah aktif di dunia tarik suara itu meninggalkan gemilang showbiz setelah menikah pada 1997. Apa kabarnya sekarang? Simak wawancara Jawa Pos dengan ibu dua anak tersebut pada Kamis (8/6).

AHOJ, Bu Gladys. Apa kabar?

Ahoj. Kabar baik.

Sibuk apa nih setelah mundur dari keartisan?

Aku lebih sibuk (urus) bisnis. Karena kalau bisnis bisa atur waktu sendiri kan. Karena punya dua anak, jadinya lebih konsentrasi juga untuk ngurusin anak-anakku. Kalau misalnya aku sibuk di entertainment, agak susah.

Di Instagram dan YouTube, Bu Gladys kerap membagikan pengalaman adventure. Bagaimana awal mulanya?

Awalnya dari hobi lari half-marathon. Begitu pandemi Covid-19, semua kegiatan olahraga stop. Ketemu salah seorang teman yang suka naik gunung. Mulai explore trail run ke Gede Pangrango, ikut Sentul Trail Run, akhirnya ketagihan. Lalu, mulailah naik gunung.

Setiap berkegiatan itu selalu bawa videografer, Bu?

Waktu itu adik aku bilang, ”Sudah umur 50 tahun, tapi masih bisa lari maraton, masih bisa naik gunung. Kenapa sih nggak dijadiin kenangan?” Akhirnya, aku bawa videografer. Bikin kayak perjalanan hidup. Masuk ke gua-gua juga. Tidak ada niatan untuk commercialize. Yang penting, ada kenangan-kenangan. Segalanya terekam. Kanal YouTube @gladyssuwandhi2396 juga tidak pernah diniatkan bikin dari awal.

Sudah naik gunung apa saja, Bu?

Dua kali ke Gunung Sindoro. Gunung Salak udah tiga kali. Lalu, pernah juga ke Gunung Ciremai, Dieng, Gunung Prau, dan Gunung Andong. Gunung Merbabu juga sudah.

Mendaki gunung apa yang paling berkesan buat Ibu?

Pengalaman naik gunung nggak bisa dibilang yang mana paling berkesan. Karena keindahannya beda, mistisnya juga beda. Jam 3 pagi dari rumah. Sampai di base camp jam 5 pagi, terus salat Subuh. Di warung nongkrong sekadar minum teh. Ngobrol sama orang-orang parkir. Belajar banyak juga dari orang-orang seperti itu. Jadi, maksudnya kita itu bisa belajar dari siapa saja, tidak harus orang-orang yang pintar saja. Dengan begitu, aku belajar banyak.

Beberapa waktu lalu Bu Gladys mengunjungi suku Baduy, ya. Bisa diceritakan pengalamannya, Bu?

Aku sudah dari lima tahun lalu ke Baduy. Ada lima atau enam kali ke sana. Nah, empat tahun lalu kenal dengan keluarga Saija. Aku belajar banyak dari mereka. Tentang kebersamaan dan kekeluargaan. Tidak ada listrik, tidak ada teknologi, tidak ada apa-apa, tapi kok aku nyaman banget di sana. Aku tidur di lantai. Aku makan nasi sama jengkol, sayur rebus, kok rasanya lebih nikmat gitu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore