Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 November 2018 | 09.00 WIB

'Teror Mata Abdi Astina' Kisah di Balik Penyerangan Novel Baswedan

Buku Teror Mata Abdi Astina - Image

Buku Teror Mata Abdi Astina

JawaPos.com - Kisah peristiwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diangkat menjadi sebuah buku fiksi atau novel oleh seorang jurnalis Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo. Tepat pada hari ke-510 buku dengan judul 'Teror Mata Abdi Astina' diluncurkan.


Pria yang kesehariannya bertugas meliput di lembaga antirasuah ini menuturkan, nama Sindu yang menjadi tokoh utama dalam novel tersebut dikiaskan seperti Novel Baswedan yang hingga saat ini belum terungkap siapa pelaku penyerangnya.


Sedangkan Astina merupakan negeri dimana Sindu tersebut berada. Menurut pria yang akrab disapa Tyo, di Astina tidak ada orang jahat yang mendapat tempat untuk hidup.


Bahkan dalam buku tersebut, Sindu dikisahkan merupakan orang yang taat agama dan taat beribadah.


"Sindu ini saya gambarkan sebagai muslim yang taat, itu saya gunakan pelarian terakhir, sudah banyak masalah. Ya tinggal Tuhan pelariannya," kata Tyo di Diskusi Coffe, Guntur, Jakarta Selatan, Minggu (11/11).


Mengutip pembicaraan Dahlan Iskan bersama Tyo, bahwa Novel yang pada awalnya sendiri menjalani proses hukum atas kasus yang menimpanya. Namun saat ini banyak mendapat simpatik dari masyarakat.


"Ini kan dia awalnya merasa sendirian. Tapi ternyata di akhir itu banyak yang dukung," ungkap Tyo menirukan ucapan Dahlan Iskan.


Sementara itu, Direktur Lokataru Founfation Haris Azhar mengatakan, buku 'Teror Mata Abdi Astina' mengisahkan perjalanan Novel Baswedan pasca disiram air keras pada 11 April 2017 lalu.


Pengacara Novel ini pun menyebut, banyak pejabat yang menemui Novel saat menjalani proses kesehatan di Singapura. Cerita itu pun tertulis dalam buku tersebut.


Menurutnya, karya sastra itu akan menjelaskan secara fiksi bagaimana kisah Novel berusa membongkar siapa pelaku penyerangnya tersebut.


"Idenya menarik. Apakah itu fakta di lapangan atau kebetulan, saya nggak masalah. Yang penting bagaimana komunikasikan kasus Novel kepada masyarakat," ujar Haris.


Tak hanya itu, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo menuturkan, Novel Baswedan merupakan simbol dari 1.500 pegawai KPK. Ketika karya sastra dibuat, maka ada yang harus diperbaiki.


"Bang Novel adalah simbol 1.500 pegawai di KPK, ingat saat Bang novel mau ditangkap, kemudian disiram. Jangankan ditangkap sekarang pelakunya, diduga aja nggak ada," ucap Yudi.


Yudi menyebut, disiramnya Novel menggunakan air keras tidak lepas dari pekerjaannya sebagai penyidik KPK.
Bahkan Yudi menduga, dibalik kasus penyerangan Novel terdapat orang besar yang menjadi otak pelakunya.


"Pelaku mampu kamuflase CCTV. Padahal Komplek bang Novel itu banyak CCTV. Terdekat, ada mini market juga tidak terpantau," pungkasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore