
BEDA: Kali pertama mengumpulkan teman, komunitas Ride Alon memulainya via Instagram. Dari situ, jumlah member makin banyak. Saat ini ada 23 member yang aktif. Mereka kemudian blusukan ke daerah yang jarang dijadikan destinasi. (Ride Alon for Jawa Pos)
Sandy Kusuma jatuh cinta pada dua hal yang berbeda. Gowes dan alam. Kecintaan pada keduanya kemudian dituangkan dengan membentuk komunitas sepeda, Ride Alon.
---
MANDEKNYA kompetisi basket membuat Sandy Kusuma punya banyak waktu luang. Guard CLS Knights Indonesia itu tidak betah lama-lama di rumah. Bersama sang istri, Nevia Amir, keduanya sepakat untuk gowes bareng.
Semua berawal saat Sandy sowan ke rumah sang paman. Kebetulan, sang paman adalah kolektor MTB lawas 1980-an. Saat pulang, dia memboyong dua sepeda. Kemudian langsung direstorasi. ”Aku memang seneng sepeda vintage. Habis itu sepeda tak ragati (dibiayai, Red) biar jadi bagus lagi,” jelas pebasket 34 tahun itu kepada Jawa Pos.
Sepeda direstorasi sesuai dengan katalog awal. Dengan begitu, sepeda seperti baru keluar dari pabrik. Sandy menjelaskan, biaya yang dibutuhkan Rp 3 juta–Rp 4 juta. ”Tapi, itu kalau sebelum pandemi. Pas pandemi gini biaya (restorasi, Red) bisa sampai tiga kali lipat,” ujar pemain dengan tinggi 190 sentimeter itu sembari terkekeh.
Setelah sepeda oke, keduanya kemudian rutin bersepda. Awalnya hanya keliling Kota Surabaya. Tapi, lama-lama Sandy dan Nevia bosan juga. Keduanya mulai mengajak rekannya untuk gowes blusukan ke pegunungan. Tujuannya, agar bisa bersepeda sembari menikmati alam. Toh, jenis sepeda mereka juga MTB alias mountain bike.
Untuk mencari teman, Sandy dan Nevia membuat akun Instagram @RideAlon. Dari situ, jumlah member makin banyak. Saat ini, ada 23 member yang aktif. Mereka kemudian blusukan ke daerah yang jarang dijadikan destinasi. Sejak Ride Alon berdiri pada September lalu, ada empat destinasi alam yang didatangi. Tiga di kawasan Pandaan, satu di Malang.
Destinasi yang mereka pilih pegunungan. Medan yang ditempuh sangat sulit. Sebab, destinasi yang dituju jarang terjamah. ”Itu tantangannya. Apalagi satu sepeda bisa membawa barang bawaan sampai 25 kilogram,” terang pebasket alumus Universitas Surabaya itu. Barang bawaan cukup banyak. Sebab, setelah sampai di tujuan, mereka langsung mendirikan camping ground.
Mereka menghabiskan waktu di tempat tujuan. ”Biasanya di pegunungan yang ada sungainya. Istilahnya, sekali-kali mandi di sungai lah. Bosan mandi di rumah terus,” kata Sandy. Hanya, Ride Alon selalu menyembunyikan destinasi yang dikunjungi.
Mereka punya alasan soal itu. ”Kalau kami bocorkan (destinasinya, Red), takut nanti banyak yang datang, terus gunung dan sungainya jadi kotor,” tambahnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
