Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Mei 2021 | 02.59 WIB

Koko Prasetyo Darkuncoro, Pelatih Voli yang Menggandrungi Cucakrawa

DI LUAR VOLI: Hobi Koko Prasetyo memelihara burung menurun dari sang ayah. Meski tidak hobi ikut kompetisi, Koko amat memperhatikan kualitas kicauan burung peliharaannya. (Guntur Aga/Jawa Pos Radar Jogja) - Image

DI LUAR VOLI: Hobi Koko Prasetyo memelihara burung menurun dari sang ayah. Meski tidak hobi ikut kompetisi, Koko amat memperhatikan kualitas kicauan burung peliharaannya. (Guntur Aga/Jawa Pos Radar Jogja)

Bagi Koko Prasetyo Darkuncoro, rumah sepi tanpa kicauan burung-burung sangatlah menyiksa. Sebab, sejak kecil, dia terbiasa berada dalam rumah yang ramai karena suara burung yang bersahutan.

---

YA, memelihara burung menjadi kesenangan lain bagi Koko selain bola voli. Dari jenis burung yang pernah ayahnya pelihara, Koko jatuh hati pada jenis cucakrawa. Bentuk fisiknya yang memikat dengan badan besar dan ekor panjang. ”Suaranya lantang. Kalau bunyi, bahkan sampai RT sebelah terdengar. Bikin rawan maling juga,” ujar Koko, lalu tertawa.

Dari 6 ekor cucakrawa yang dia miliki, satu pasang sedang dia titipkan ke temannya untuk dikembangbiakkan. Koko sendiri sebenarnya tidak memiliki niat untuk beternak. Dia memelihara burung murni karena hobi.

Awalnya, Koko memelihara cucakrawa di kandang gantung. Dia beralih ke kandang polier sekitar 2017 setelah mendapat saran dari temannya. ”Sebenarnya secara perawatan kurang lebih sama saja. Hanya saja jika menggunakan polier, lebih memungkinkan untuk bisa bertelur dan menetas. Ada anaknya itu jadi bonus,” kata pria kelahiran Jogjakarta, 2 Oktober 1981, tersebut.

Kemudian, dari 5 pasang cucakrawa yang dia taruh di polier, ada satu pasang yang bisa bertelur. Hanya saja, tidak berhasil menetas. ”Cucakrawa itu susah, tidak sembarangan. Karena pada ditanyain gimana dan berisik kan, padahal saya ngarepnya cuma dengar suaranya, akhirnya saya jual semuanya,” ungkapnya.

Berselang 5 bulan, Koko akhirnya membeli lagi 8 ekor cucakrawa. Hanya satu pasang yang berani bertelur. Total, ada 8 butir telur. Semuanya tidak ada yang menetas.

”Tapi ternyata induknya masih menyimpan satu butir. Awalnya nggak tahu. Tahu-tahu anaknya sudah bisa terbang. Agak kaget juga kok di polier jadi ada tiga ekor,” ujarnya.

Karena untuk bertelur dan menetas perlu perhatian ekstra, bahkan butuh pantauan CCTV bagi yang serius mengembangbiakkan cucakrawa. Akhirnya Koko menitipkan satu pasang ke temannya.

Dia memang tidak berniat untuk terjun lebih dalam ke bisnis. ”Cucakrawa sulitnya sarangnya harus sunyi, nggak mau ada orang, marah sedikit nggak bisa jadi. Sementara di rumah saya itu ramai kan. Telurnya tidak bisa bagus. Makanya, daripada buang telur, kan sayang,” ujarnya.

Lain halnya dengan kenari. Karena perawatannya cenderung mudah, Koko justru berani untuk beternak kenari. ”Pemeliharaannya setelah bertelur tidak ada yang spesifik. Cuma dijodohkan. Ternyata bisa,” lanjutnya.

Meski tidak hobi ikut kompetisi, Koko tetap memperhatikan kualitas burung peliharaannya. Dia tidak ingin burung yang asal bunyi saja. Tetapi, juga diperhatikan kualitas kicauannya.

Baca Juga: Mudik Lokal Dilarang, Pemkot Surabaya Perketat Perbatasan

”Saya memang tidak terlalu senang kompetisi. Cuma memang mencari suara yang tidak monoton, bunyinya gitu-gitu saja. Kalau kicauannya bisa macam-macam, lagunya akan terdengar bagus,” imbuh Koko.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore