
FRESH: Jessica Halim memanen beberapa daun untuk diolah menjadi salad. Kebun mini tersebut berada di lantai 2 rumahnya di kawasan Menteng.
Di lantai 2 rumahnya, Jessica Halim menanam berbagai tanaman pangan. Dia sengaja memilih berbagai jenis untuk menjaga ekosistem di kebunnya. Meski memiliki hutan di rumahnya, dia hanya memanen secukupnya.
POHON sengkubak yang merupakan micin alami dari Dayak menjulang tinggi. Di sana juga ada singkong dayak, daun cincau, oyong, aneka kemangi, ginseng jawa, kunyit, daun bawang, pecut kuda, hingga pepaya. Di antara rimbunnya daun yang berwarna hijau, terdapat warna merah, oranye, dan ungu yang berasal dari mawar, marigold, dan telang. ’’Ini memiliki peran masing-masing. Misal daun bawang ini, wanginya tidak disukai hama,” ujar Jessica.
Dia memang sengaja tidak menanam satu jenis tumbuhan atau monokultur. Dengan beragam tumbuhan, dia jarang menyemprotkan antihama. Bahkan, di kebunnya tidak mengenal obat kimia. Semuanya organik. Dia membuat eco-enzyme untuk tanamannya. Pengusir hama cukup menggunakan air rendaman kulit bawang. Pupuknya berasal dari daun-daun tumbuhan yang berguguran. ’’Di sini 80 persen tanaman tetap,” ujarnya.
ALAMI: Aneka kemangi dan buang telang yang tumbuh tanpa adanya bahan kimia.
Di kebun milik Jessica, tidak terlihat tumbuhan yang sekali panen. Dia pernah iseng menanam sawi atau bayam. Tapi, itu hanya selingan. ’’Belakang lebih sibuk. Jadi, yang masih ada adalah tanaman yang bisa untuk lalap dan salad,’’ paparnya. Keberagaman tumbuhan di kebunnya membuat Jessica jarang belanja. ’’Saya mencatat tanaman apa saja yang bisa jadi sayur,” ucapnya.
Beberapa tanaman didapat Jessica ketika dia pelesir ke daerah-daerah. Jessica memang hobi mengunjungi masyarakat adat dan mencoba hidup berbaur dengan mereka. Saat Jawa Pos ke rumahnya, dia memperlihatkan pohon sengkubak. Tingginya 2,5 meter. Itu digunakan sebagai micin alami. ’’Lalu, ada singkong dayak yang daunnya lebih kecil daripada singkong pada umumnya,” ujarnya.
Dia juga kerap mendapatkan hadiah pohon saat mengisi materi. Jessica menolak jika diberi plakat atau piagam. Menurut dia, itu akan memicu adanya sampah. Dia menunjukkan pohon kedondong yang diingatnya sebagai salah satu pemberian. ’’Kedondong ini tidak hanya buahnya yang bisa dimakan. Daunnya juga,” katanya sambil memetik satu helai daun kedondong dan menyerahkan kepada Jawa Pos. Rasa daunnya tidak jauh beda dengan buahnya.
ALAMI: Aneka kemangi dan bunga telang yang tumbuh tanpa adanya bahan kimia.
Meski bisa panen sepuasnya, Jessica memilih untuk memanen secukupnya. Misalnya, ketika ingin membuat salad, dia hanya mengambil apa yang dibutuhkan. Dia biarkan tanaman di kebunnya terus tumbuh. ’’Ini yang harus diajarkan, petik tanaman seperlunya. Kalau kita petik seperlunya, kita jadi punya bermacam jenis,” ujarnya.
’’Tujuan kita menanam itu agar kita jadi tahu setiap bagian tumbuhan bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. Dia pernah menanam brokoli. Dari beberapa bacaan, dia akhirnya tahu bahwa daun brokoli juga enak dikonsumsi. Begitu juga daun sirih bumi yang kerap dikira hama, tapi bisa dikonsumsi, bahkan untuk obat. (lyn/c7/ai)

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
