
Prosesi iring-iringan tradisi dugderan di Jalan Pemuda, Kota Semarang.
JawaPos.com - Ribuan orang memadati halaman Balai Kota Semarang, Selasa (15/5). Mereka meluber hingga ke Jalan Pemuda memeriahkan tradisi tahunan dugderan yang digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dugderan kali ini digelar dengan melibatkan 2.300 peserta meliputi seluruh komponen masyarakat, dari pemerintah, komunitas, pelajar hingga warga sipil. Dengan segala kreatifitas, mereka memertontonkan berbagai macam kesenian tradisional dengan koreografi dan kostum nan unik.
Salah satu ikon tradisi dugderan adalah tarian Warak Ngendhog beserta arak-arakam patungnya. Warak sendiri merupakan hewan fiksi menyerupai kambing, naga, dan buroq. Yang dikenal sebagai perwujudan akulturasi budaya Kota Semarang yakni Jawa, Tionghoa, dan Arab.
Bersama iring-iringan kembang manggar, empat patung Warak diarak puluhan penari. Sambil terus bergerak lincah mengikuti irama lagu gamelan khas budaya Semarang, puluhan penari tersebut menjunjung patung setinggi hampir dua meter itu dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung, Kauman.
Bersamaan dengan hal itu, adapula pawai yang dilakukan pelajar Kota Semarang. Dengan membawa bendera merah putih disertai bendi hias, para pelajar melakukan pawai bersama pasukan kereta kencana lengkap disertai rombongan kuda yang dipimpin oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji.
Tradisi macam ini disebut sudah ada sejak tahun 1881, yang pada saat itu dilaksanakan pertama kali oleh Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Dan saat ini, setiap tahunnya prosesi Dugderan dipimpin langsung oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.
"Dugderan adalah tradisi warisan leluhur. Tujuannya mewujudkan guyub rukun, persatuan dan kesatuan," kata Wali Kota yang karib disapa Hendi itu. Ia menyebut Dugderan berasal dari kata "dug" dan "der" yang diambil dari suara tabuhan bedug dan suara dentuman meriam penanda datangnya bulan suci Ramadan.
Wali kota pun menegaskan akan keberadaan Warak yang menurutnya adalah gambaran dari masyarakat majemuk di Kota Semarang. Perbedaan etnis tak lantas membuat masyarakat terpecah belah, namun malah kian saling menjaga dan membentuk kerukunan. "Sesuai dengan tema kali ini, yaitu 'Membangun Kebersamaan dan Kerukunan Mewujudkan Semarang Hebat'," imbuhnya.
Pada momen itu, Hendi tak lupa mengajak masyarakat mendoakan para korban rentetan serangan teroris di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Ia berharap kejadian serupa tak terjadi lagi di Indonesia.
Kemeriahan Dugderan pun berlanjut hingga Masjid Agung Kauman. Di sana, prosesi tradisi ini dilakukan dengan penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama kepada Hendi yang didapuk menjadi Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Dilanjut dengan pembagian kue khas Semarang yaitu Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran kepada jamaah dan masyarakat.
Prosesi dugderan lalu berlanjut di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Di sana Wali Kota melakukan tradisi penyerahan Suhuf Halaqoh kepada raden Mas Tumenggung Probohadikusuma yang diperankan Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
